Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu

Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu
Part *51


__ADS_3

Sampai ke tempat yang ingin dituju setelah mengendarai mobil selama beberapa jam. Damar langsung menerobos masuk ke dalam rumah karena tidak kuat menahan rasa kesal.


"Damar. Dari mana kamu? Ayo sini minum teh sama tante," ucap mama Dion yang sedang duduk di ruang keluarga saat Damar masuk ke dalam rumah.


"Nggak tante. Nanti aja ya. Aku ada perlu sama om. Di mana om, tante?" Sebisa mungkin Damar menahan hati supaya tidak kelihatan oleh tantenya.


"Om kamu ada di ruang kerjanya. Biasa, dia sedang menyelesaikan pekerjaan yang tidak sempat dia selesaikan di kantor."


"Oh, kalo gitu aku langsung masuk saja ke ruangan om ya, tante. Permisi."


Setelah berucap, Damar langsung berjalan cepat menuju ruang kerja omnya. Sementara mama Dion ingin mencegah, tapi sudah terlambat.


"Aish. Dasar anak muda zaman sekarang. Gak ada sopan-sopan nya dengan orang tua. Diajak minum dulu, malah gak mau." Mama Dion ngerutu sambil menggelengkan kepalanya.


Sementara itu, Damar sudah sampai di ruangan omnya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Damar yang kesal langsung menerobos masuk begitu saja. Hal itu tentu saja membuat papa Dion cukup kaget dengan kehadiran Damar yang tiba-tiba itu.


"Kamu ini! Masuk kenapa gak ketuk pintu terlebih dahulu, Damar! Di mana sopan santun mu, hah!"


"Aku tidak perlu mempertahankan sopan santunku pada orang tua seperti om. Orang tua yang tidak punya hati sama sekali. Jangankan pada orang lain, pada anak sendiri saja om tidak punya belas kasih sedikitpun."


"Apa maksud kamu, Damar? Jangan bicara sembarangan atau kamu akan tahu akibatnya."


"Aku tidak perlu tahu apa akibat dari apa yang aku katakan. Om adalah orang tua yang sangat tidak punya hati. Gara-gara om, Anggun kehilangan anaknya. Om telah merencanakan kecelakaan itu dengan sempurna. Sungguh luar biasa, om." Damar berucap sambil bertepuk tangan.


Sebaliknya, papa Dion yang mendengarkan ucapan itu langsung melebarkan matanya karena kaget dengan apa yang kupingnya dengarkan barusan.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan barusan, Damar? Jangan bicara sembarangan kamu ya. Jangan coba-coba membuat cerita kamu."


"Aku yang membuat cerita? Yang benar saja, om."


"Semua yang aku katakan itu adalah kenyataan. Sebaliknya, aku ingin om jujur padaku, katakan kalau kecelakaan yang Dion dan Anggun alami itu memang ulah om untuk memisahkan Anggun dan Dion. Iyakan?"


Sungguh benar apa yang Damar pikirkan. Karena setelah ucapan itu Damar lontar, papa Dion langsung tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kalau iya? Apa kamu ingin melapor pada polisi tentang kecelakaan yang tidak ada bukti sedikitpun itu, Damar?"


"Sungguh, aku tidak percaya padamu. Kau adalah bagian dari keluargaku. Tapi malah membela orang lain. Cinta seperti apa yang kamu punya, ha? Bisa-bisanya kamu datang hanya untuk bicara soal perempuan itu. Perempuan yang aku harapkan tidak pernah muncul lagi di dunia ini setelah kecelakaan itu terjadi."


"Huh, ternyata kau dan Dion sama saja. Sama-sama mementingkan satu wanita yang tidak ada artinya sedikitpun. Keluarga Wijaya benar-benar manusia yang tidak seharusnya hidup di dunia ini. Bikin rusak orang lain saja."


"Kalau tahu begini, sudah aku pupus kan semua anggota keluarga Wijaya sejak dulu. Tidak akan aku tinggalkan satupun yang tersisa."


Perempuan itu tentu saja langsung terperanjat karena kaget. Dengan rasa penasaran, mama Dion memilih datang ke ruangan tersebut untuk melihat apa yang terjadi.


"Om adalah orang yang benar-benar tidak punya hati. Om bukan hanya menghilangkan anak yang ada dalam kandungan Anggun karena kecelakaan yang om buat. Tapi om juga telah membuat anak om sekarat. Dion itu anak om, Om. Dia koma karena kecelakaan yang papanya sendiri ciptakan. Apa om sedikitpun tidak merasa bersalah?"


"Tidak. Aku tidak sedikitpun merasa bersalah. Anak itu juga tidak bisa aku atur, jadi, itu bukan salah aku kalau dia koma dalam kecelakaan yang aku buat sendiri untuk memberikan dia pelajaran yang paling berharga agar dia sadar, siapa papanya ini."


Mama Dion yang mendengarkan semua ucapan itu, tidak kuat lagi. Jantungnya berdetak tidak karuan seperti ingin melompat dari tubuh. Dengan tubuh yang bergetar, air mata yang mengalir deras, mama Dion memeluk erat tangannya.


"Tidak. Tidak ...!"

__ADS_1


Kata itu adalah ucapan terakhir yang bisa mama Dion ucapkan. Karena sedetik setelah ucapan yang lebih pantas disebut dengan teriakan keras itu, perempuan yang tidak kuat menahan diri tersebut langsung jatuh terkulai ke lantai karena sakit.


Sontak saja, keduanya ikut panik karena jatuhnya mama Dion. Keduanya berusaha menggapai tubuh wanita itu untuk memberikan pertolongan.


"Mama (tante)." Keduanya berucap serentak sambil bergerak mendekat.


Damar yang mencapai tubuh wanita itu duluan. Tapi didorong menjauh oleh papa Dion karena kesal.


"Ini semua salah kamu, Damar! Kau yang telah membuat istriku seperti ini. Awas saja jika terjadi hal yang tidak aku inginkan pada istriku. Aku tidak akan mengampuni kamu."


"Ini bukan salah aku, Om. Tapi salah, om. Om sendiri yang telah membuat tante jatuh sakit seperti ini. Om tahu dia sangat menyayangi anaknya. Tidak ingin anaknya menjauh dari dia. Tapi om malah membuat anaknya koma karena ulah om. Jadi, ini salah om."


Tidak ingin berdebat lagi. Papa Dion langsung mengabaikan apa yang Damar katakan. Dia gendong tubuh istrinya agar bisa dia pindahkan ke dalam mobil untuk dia bawa ke rumah sakit.


Sementara itu, Anggun dan asistennya sedang ngobrol membahas langkah selanjutnya. Tapi, di sela-sela obrolan, Anggun sedikit menyinggung soal hubungan antara asisten tersebut dengan asisten papa Dion.


Wanita itu awalnya terlihat ragu untuk menjawab. Tapi pada akhirnya, wanita itu langsung menjawab dengan tenang tanpa ada beban sedikitpun.


"Dia adalah adik sepupu saya, mbak. Kami lahir dan besar bersama. Namun, dia perempuan yang terlalu ambisius untuk membela orang yang berkuasa tinggi. Sedangkan aku, tidak suka dengan orang yang terlalu berambisi untuk menindas orang lain hanya karena diri sendiri. Karena itu, kami tidak akur akibat pendapat kami yang berbeda. Itu saja sih sebenarnya. Tidak ada hal lain yang membuat kami bermusuhan."


"Oh, aku pikir kalian berdua bermusuhan karena terlihat dari tatapan kalian yang saling tidak bersahabat itu."


Asisten itu tersenyum.


"Nggak, mbak. Kami tidak bermusuhan kok. Masih tetap biasa jika bergaul dalam keluarga. Meskipun terkadang, kami selalu banyak menghindar dari pada bersama. Karena tidak bisa kami ingkari, kalau masalah pekerjaan juga bisa merusak hubungan baik walau sudah tidak ada dalam lingkungan kerja."

__ADS_1


"Kamu benar. Semoga kalian kembali akur."


"Iya, mbak."


__ADS_2