
Tidak punya kata-kata, Anggun hanya bisa mengukir senyum tipis di sela air matanya yang mulai mengering. Sepertinya, dia baru saja mendapatkan pelangi setelah badai yang cukup dahsyat.
Namun, senyum tipis itu tiba-tiba menghilang saat Anggun ingat akan keluarga kandung suaminya. Keluarga kandung yang tak pantas sedikitpun di sebut dengan sebutan itu. Karena sifat mereka sangat bertolak belakang dengan arti dari keluarga kandung pada umumnya.
Anggun mendadak menundukkan kepala. Dirly yang mengerti, langsung melontarkan pertanyaan atas sikap Anggun yang tiba-tiba berubah dengan cepat.
"Ada apa, Gun? Apa kamu ingat soal calon bayimu yang tidak bisa diselamatkan. Untuk itu, kamu jangan sedih lagi, Gun. Karena dokter bilang, keguguran kamu ini tidak akan beresiko apapun untuk kehamilan selanjutnya. Jadi .... "
"Bukan itu, Dirl."
"Bukan itu? Maksud kamu apa?"
"Tidak, jangan pikir kalau aku sama sekali tidak sedih atas calon anakku yang tidak bisa diselamatkan. Walau bagaimanapun, meski dia baru ada di rahimku, aku tetap merasa sedih. Tapi, bukan soal itu yang aku pikirkan saat ini, Dirly."
"Lalu apa? Apa yang kamu pikirkan lagi selain itu?"
"Kau akan membawa aku dan kak Dion pergi dari kota ini, bukan?"
"Ya. Lalu?"
"Bagaimana dengan orang tua kandungnya kak Dion, Dirl? Mereka pasti tidak akan mengizinkan kamu membawa anak mereka pergi dari kota ini. Mereka .... "
Dirly langsung memegang pundak Anggun dengan cepat. Itu dia lakukan untuk membuat Anggun sedikit tenang. Dan, agar Anggun yang sedang ketakutan itu tidak semakin terbawa perasaan. Karena kondisinya sedang tidak baik-baik saja.
"Tenang, Gun. Untuk itu, aku sudah atur semuanya. Mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa. Aku tidak akan membiarkan kakakku kembali ke pangkuan mereka. Meski mereka adalah keluarga kandung kakakku, tapi kakakku tidak dianggap sebagai keluarga kandung oleh mereka. Jadi, aku akan mempertahankan kakakku agar tidak kembali pada mereka apapun caranya."
__ADS_1
"Kamu ... juga tahu soal itu, Dirly? Kamu tahu seperti apa penderitaan kak Dion selama ini?"
"Yah. Aku tahu. Dua hari yang lalu, kak Dion sempat menghubungi aku dan menceritakan segalanya. Saat itu, aku marah. Sangat marah. Aku meminta kak Dion untuk meninggalkan tanah air agar keluarganya tidak bisa menguasai dia lagi. Karena di dalam keluarga Prayoga, kakakku bukan anak angkat bagi anggota keluarga kami. Tapi, kakakku dan aku punya posisi yang sama meski darah kami berbeda."
"La--lalu ... ap--apa tanggapan kak Dion, Dirly? Maksudku ... apa tanggapan dia atas permintaanmu itu?"
"Dia bersedia. Tapi, dia minta waktu padaku agar bisa menyelesaikan semua masalahnya di sini terlebih dahulu. Saat itu, aku tentu saja sangat bahagia. Dan segera mengabari mama papa atas apa yang kak Dion katakan. Mereka juga sama. Sangat-sangat bahagia, terutama mama yang sangat menyayangi kak Dion."
"Namun, tak aku sangka kalau semuanya akan jadi seperti ini. Sungguh, aku tidak percaya kalau kecelakaan ini, adalah kecelakaan murni. Karena .... "
Dirly terpaksa menggantungkan kalimatnya karena kedatangan si dokter ke ruangan tersebut. Sementara Anggun, dia terpaksa menahan rasa penasaran dengan kata-kata yang belum sempat Dirly selesaikan. Tanpa bisa bertanya tentunya.
"Tuan muda, ikut saya ke luar sebentar. Ada yang ingin saya katakan pada tuan muda sekarang."
"Baiklah, Dok. Semoga apa yang ingin dokter katakan adalah hal yang aku harapkan."
Anggun hanya menjawab dengan anggukan pelan saja. Dirly dan dokter itu langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dedy yang sedari tadi menunggu di luar, kini masuk kembali karena permintaan Dirly.
"Kamu baik-baik saja sekarang, Mbak?" tanya Dedy ketika dia melihat Anggun yang agak berbeda dengan sebelum dia tinggalkan tadi.
"Aku ... baik-baik saja. Tidak cukup baik sebenarnya. Hanya saja, sedikit membaik sekarang."
"Syukurlah kalau begitu. Aku jadi sedikit merasa lega untuk keadaanmu yang sudah agak membaik itu."
"Oh ya, aku baru tahu kalau kamu punya kakak, mbak Anggun. Mm ... kalau aku boleh tahu, kenapa kakakmu bisa sampai masuk rumah sakit jiwa?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin tahu saja. Tidak bermaksud apa-apa. Juga tidak bermaksud memaksa kamu untuk menjawab jika kamu tidak ingin menjelaskannya," ucap Dedy dengan cepat.
Sejujurnya, dia takut menyinggung hati Anggun dengan pertanyaannya itu. Tapi entah kenapa, bibir nakal itu malah bisa-bisanya menanyakan hal yang cukup membuat hatinya penasaran saat mendengarkan obrolan Anggun dengan Dirly dari luar tadi.
"Kamu mendengarnya, mas? Semua obrolan aku dengan Dirly tadi, kamu mendengar semuanya?"
"Ah, iy--iya. Aku ... mendengarnya ... se--sedikit. Tidak banyak. Hanya sedikit saja."
Dedy bicara dengan gelagapan. Mendadak, dia merasa bersalah karena sudah menanyakan hal itu pada Anggun. Perempuan yang sedang berada dalam masalah saat ini. Eh, malah seenaknya dia tanya dengan pertanyaan itu.
"Ma--afkan aku. Aku .... "
"Gak papa kok, Mas. Aku tidak merasa terganggu dengan pertanyaan mu itu."
"Jika kamu ingin tahu mengapa kakakku bisa masuk rumah sakit jiwa, alasannya cukup sederhana. Dia ditinggal pergi oleh calon suaminya di hari pernikahan. Karena malu, kakakku tidak kuat menahan diri. Dia terhanyut akan perasaan yang ada dalam hatinya."
"Sebenarnya, bukan hanya karena malu kakak Tina menjadi gila. Tapi, karena rasa bersalah yang dalam." Anggun berucap sambil melihat lurus ke depan. Ada ingatan masa lalu yang sedang melintas ke ingatannya saat ini.
Dedy yang melihat hal itu, buru-buru melontarkan pertanyaan karena takut Anggun terhanyut dalam ingatan masa lalunya yang mungkin sangat menyedihkan.
"Rasa bersalah? Kok bisa dia yang merasa bersalah, Mbak? Bukankah dia tidak melakukan kesalahan sedikitpun?"
"Yang bersalah itu si calon suaminya yang tidak punya hati itu. Dia yang sudah meninggalkan kakakmu, kenapa dia yang tidak mendapatkan hukumannya? Kenapa malah kakakmu pula yang dapat hukuman itu?"
Anggun tersenyum pahit. Senyum yang terlihat sekali di paksakan. Mengingat, apa yang Dedy katakan itu cukup benar jika dipikir dengan akal logika manusia. Hanya saja, ada yang Dedy ketahui dari rasa bersalah itu.
__ADS_1
"Sejujurnya, aku membenarkan apa yang kamu katakan, Mas. Karena seharusnya, kakakku yang tidak bersalah itu, tidak berhak menderita dengan menjadi tidak waras seperti saat ini. Tapi, itu semua sudah takdir. Kakakku yang tidak bisa menerima kematian kedua orang tuaku di hari yang sama, juga kegagalan pernikahan yang membuat aib keluarga. Hal itu yang membuat dia tak kuat menahan beban sehingga jadi gila."
Dedy masih merasa penasaran dengan penjelasan itu. Tapi, dia tidak ingin bertanya lagi meski sebenarnya, dia sangat-sangat ingin tahu dengan apa yang masih belum dia pahami saat ini.