
Masih dengan ekspresi yang kesal, Anggun terus melihat laki-laki tersebut. Suasana di bar tersebut, obrolan yang baru saja terjalin dengan laki-laki itu mampu membuat Anggun sejenak teralihkan dari pikiran soal masalah yang sedang dia hadapi.
Mereka terus ngobrol santai. Membicarakan soal masa lalu antara mereka berdua, juga sahabat-sahabat mereka. Obrolan itu terhenti saat seorang pelayan datang dengan segelas minuman bersoda rendah di nampannya.
"Nah, ini minuman kamu, mbak. Silahkan dinikmati dengan tenang," ucap laki-laki tersebut sambil meletakkan minuman tersebut di atas meja yang ada di depan mereka.
"Kamu masih ingat apa minuman kesukaan aku?" Anggun berucap dengan nada tak percaya sambil melihat gelas yang ada dihadapannya.
"Tentu saja aku ingat, mbak. Meski kalian sudah lama tidak berkunjung ke bar ini. Tapi tetap saja, kalian adalah tamu istimewa buat bar ini."
"Tamu ... istimewa? Maksud kamu?"
"Ya ... ya tamu istimewa. Jika tidak karena kalian, bagaimana bisa bar ini jadi milik tuan muda Prayoga? Aset yang tidak berharga seperti bar ini, mana mungkin tuan muda mau membelinya."
Anggun terdiam. Dia kini mengerti apa yang laki-laki itu maksudkan. Bukan dirinya yang membuat bar ini berpindah tangan. Tapi karena Amelia yang paling dicintai oleh tuan muda Prayoga itu. Makanya dia berani membeli bar ini walau tidak ada gunanya buat dia.
Karena pikiran itu, Anggun kembali teringat akan masalah yang sedang dia alami. Dia mendadak jadi stres kembali. Masalah yang awalnya tidak ada di kepalanya. Kini datang kembali.
'Kamu beruntung, Mel. Dirly mencintai kamu dengan sepenuh hati dan segenap jiwa dan raganya. Tidak seperti aku. Yang sekarang dijatuhkan seperti debu begitu saja oleh orang yang aku anggap akan menjadikan aku ratu dalam hidupnya.'
Perlahan, ingatan itu membuat rasa perih yang ada dalam hati Anggun muncul kembali. Buliran bening tidak bisa dia tahan, dan sekarang, jatuh begitu saja.
Laki-laki yang ada di samping Anggun sontak saja langsung panik. Dia yang melihat Anggun menangis, langsung menyentuh bahu Anggun dengan lembut.
"Mbak kenapa? Kok tiba-tiba saja menangis? Apa ada yang sakit sekarang?"
"Ah ... itu ... ngg--nggak kok, mas. Nggak ada yang sakit. Aku juga nggak nangis."
__ADS_1
"Tapi itu ... barusan .... "
"Nggak. Lupakan saja. Oh iya, untuk malam ini aku tidak ingin minum minuman bersoda. Tapi, aku ingin minum minuman beralkohol tinggi sedikit saja. Aku ingin mencobanya."
"Apa? Jangan main-main, mbak. Minuman beralkohol itu bukan untuk dijadikan percobaan lho."
"Aku tahu. Tapi malam ini, aku benar-benar ingin minum minuman beralkohol. Tolong berikan aku satu gelas kecil saja. Aku jamin, aku tidak akan mabuk."
"Mbak. Aku sarankan padamu, jika punya masalah, sebaiknya tidak melarikan diri dengan meminum minuman keras. Itu bahaya buat kesehatan, juga buat .... "
"Cukup, Mas. Aku di sini adalah pelanggan kamu, bukan? Jadi, tolong jangan berikan aku nasehat untuk saat ini. Aku sedang tidak bisa menerima nasehat dari kamu, Mas."
"Mbak! Tolong berikan aku segelas minuman beralkohol tinggi. Atau, sedang juga boleh. Aku ingin mencicipinya sedikit."
Anggun langsung memesan minuman yang dia inginkan pada salah satu pelayan yang lewat di hadapan mereka. Perempuan pelayan itu terlihat sedikit bingung. Karena ada manajer mereka di samping Anggun sekarang.
Manajer galak anti perempuan. Biasanya tidak akan ingin bicara dengan sembarang perempuan jika tidak ada perlunya. Nah sekarang, manajer itu malah duduk bersama perempuan di satu tempat duduk yang sama.
Untuk itu, perempuan tersebut langsung melirik manajernya. Dia ingin melibat tanggapan apa yang manajernya berikan saat perempuan spesial itu meminta minuman beralkohol padanya.
"Mbak. Kok malah diam sih? Apa kalian di sini tidak jual minuman beralkohol ya? Jika begitu, ganti saja bar kalian menjadi cafe. Bukankah itu lebih cocok lagi?"
"Eee .... "
Perempuan itu semakin bingung. Tidak tahu mau menjawab apa. Saat itulah, manajernya yang ada di sebelah Anggun memberikan anggukan tanpa memperbolehkan perempuan pelayan itu untuk memenuhi apa yang Anggun minta.
"Ba--baiklah, mbak. Saya akan ambilkan minuman yang mbak inginkan. Tunggu sebentar!"
__ADS_1
"Ah, kenapa tidak dari tadi sih, mbak?"
"Maaf, mbak. Permisi."
Keduanya saling diam setelah pelayan itu pergi. Anggun masih dengan pikirannya sendiri, sementara laki-laki yang tak lain bernama Dedy itu terus menatap wajah Anggun dari samping.
Dia merasa kalau Anggun sedikit berbeda. Bukan sedikit, tapi agak jauh berbeda dengan yang dulu saat dia datang bersama sahabatnya.
Dulu, perempuan itu sungguh ceria dan sedikit bar-bar. Bertingkah sesuka hati dan tidak pernah memperlihatkan kesedihan seperti hari ini. Karena itu dia sangat tertarik dengan perempuan ini waktu itu. Setiap datang, dia akan memperhatikan perempuan itu tertawa jika tidak ada kerjaan. Jikapun ada kerjaan, dia selalu akan mencuri pandang untuk melihat perempuan yang sudah sangat membuat hatinya cukup tertarik.
"Ada masalah apa sih, mbak? Sepertinya, kamu punya beban pikiran yang cukup berat saat ini?"
Pertanyaan itu akhirnya lolos dengan sempurna dari bibir Dedy. Pertanyaan yang dia simpan sejak tadi. Yang selalu menganggu pikirannya saat pertama melihat Anggun masuk ke dalam bar tersebut.
Sementara Anggun, dia langsung menoleh karena pertanyaan itu. Pertanyaan yang terasa sulit untuk dia jawab. Karena selama ini, tidak ada yang peduli dengan apa yang dia rasakan kecuali Amelia sahabatnya. Bahkan, suaminya saja tidak peduli dan tidak ingin ambil pusing dengan apa yang sedang dia rasakan. Buktinya, tidak pernah sekalipun Dion melontarkan pertanyaan seperti itu padanya.
"Aku .... "
"Permisi, mbak. Ini minuman yang mbak inginkan. Silahkan dinikmati, mbak." Pelayan itu berucap ramah.
Dedy yang merasa terganggu dengan kehadiran pelayan itu, langsung memberikan tatapan tajam. Sedangkan Anggun, dia langsung tersenyum dan langsung meraih gelas tersebut.
"Terima kasih banyak, mbak."
"Sama-sama. Permisi."
"Mm ... iya."
__ADS_1
Anggun langsung ingin meneguk minuman tersebut. Rasanya, dia sudah tidak sabar lagi untuk melupakan masalah yang sedang menguasai pikirannya. Bagi Anggun, jika saja bunuh diri itu tidak dosa, mungkin sudah dia bunuh semua orang yang membuat hatinya sakit. Karena mereka semua sudah memberikan dia masalah dan beban pikiran yang berat.
Ah, tidak langsung bunuh diri sendirian. Karena dia tidak akan membiarkan orang-orang yang menyakitinya hidup bahagia setelah ketidakhadiran dirinya. Maka dia akan membunuh semua orang yang menyakitinya terlebih dahulu sebelum dia bunuh diri. Karena dia akan mengajak mereka pergi bersama-sama agar tidak ada orang lain yang mereka sakiti selain dirinya.