Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu

Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu
Part *33


__ADS_3

Anggun tidak menjawab. Tapi dia mendengarkan apa yang Dion katakan. Masuk ke dalam mobil dengan cepat, lalu duduk dengan tenang di dalam mobil tersebut.


Dion tersenyum melihat tingkah Anggun.


"Kamu masih sama, Gun. Tidak ada yang berubah sedikitpun."


Di sisi lain, keluarga Sisil telah tiba di rumah keluarga Dion. Kedua orang tua Sisil memasang wajah marah, sedangkan Sisil sendiri memasang wajah polos, sedih, dan sangat terluka.


"Mbak Sara! Di mana anak mbak sekarang? Panggil dia sekarang juga, aku ingin bicara dengan anak mbak untuk meminta pertanggung jawabannya."


"Ada apa sih ini? Kenapa kalian malah berteriak-teriak seperti ini?" tanya papa Dion yang kebetulan juga ada di rumah.


"Mas, anak kamu sudah merusak anak aku. Di mana dia? Aku ingin dia bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan pada Sisil anakku yang malang."


"Apa? Merusak? Apa maksudnya ini?" tanya mama Dion dengan wajah kaget dan cemas.


"Sudah jelas apa yang aku katakan. Dion sudah berhubungan dengan Sisil di kamar hotel, tapi malah tidak ingin bertanggung jawab."


Mama dan papa Sisil lalu menceritakan semua yang telah terjadi tadi malam. Tentunya, dengan penambahan, juga dengan banyak memutarbalikkan fakta yang semua kesalahannya di limpahkan pada Dion sebagai pelaku kejahatan.


"Tidak mungkin. Dion tidak mungkin melakukan hal tidak senonoh seperti itu. Aku yakin kalau dia tidak akan menggauli Sisil secara paksa."


"Mbak enak saja bilang tidak mungkin. Kami sebagai orang tua merasa sangat dirugikan sekarang. Apa semua foto ini tidak cukup untuk membuktikan kalau anak kalian ini sudah merusak anak aku, hah!"


"Bukti foto? Dari mana kalian mendapatkan bukti foto ini? Apa kalian sengaja mengambil foto sebelum datang ke rumah kami, atau ... kapan kalian ambilkan fotonya?"

__ADS_1


"Apa maksud, Mas? Kenapa malah menanyakan hal itu pada kami?" Wajah kedua orang tua Sisil mendadak menegang karena pertanyaan santai dari papa Dion.


Wajah mereka kelihatan sekali sedang panik saat ini. Namun, sebisa mungkin mereka menyembunyikan kepanikan itu dengan berusaha tetap tenang.


"Kalian dapatkan foto itu dari mana? Dari siapa? Mana orangnya, ha? Serahkan dulu di mana orang yang mengambil foto itu pada kami, baru kita akan bisa melakukan tindakan selanjutnya."


"Apa-apaan ini, Mas? Kami datang untuk menuntut atas perlakuan Dion anak kalian pada Sisil anak kami. Kenapa kamu malah jadi membahas soal siapa yang mengambil foto ini sih? Kalian ingin melindungi anak kalian ya? Kalian tidak ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah anak kalian lakukan."


"Kalian ... huhuhu .... Sisil anakku yang malang," ucap mama Sisil langsung memeluk anaknya.


"'Katakan sesuatu! Jangan bikin usaha kita datang ke sini sia-sia saja. Kamu tidak bisu, bukan? Kamu masih bisa bicara, iyakan? Cepat bikin mereka percaya kalau Dion sudah tidur dengan kamu tadi malam, Sisil!"' Mama Sisil berbisik pada anaknya.


Sementara Sisil yang mendengarkan bisikan itu mendadak memasang wajah bingung. Karena sejujurnya, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan untuk membuat kedua orang tua Dion percaya. Karena dia tahu, papa Dion itu terkenal dengan laki-laki yang sangat keras kepala. Hal itu membuat benaknya menjadi buntu tanpa bisa berpikir sedikitpun.


"Itu ... om, saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya katakan pada, Om. Kak Dion ... dia tadi malam ... hiks-hiks .... " Sisil hanya bisa mengatakan hal itu.


"Pa, ikut aku sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan dengan papa." Sara menarik tangan suaminya.


Suaminya hanya bisa mengikuti ke mana Sara pergi. Dengan wajah yang sangat bingung tentunya.


Mereka meninggalkan ruang tamu, menuju ruang dapur. Di sana, Sara menghentikan langkah kaki.


"Ada apa sih, Ma? Kenapa kita malah menjauh dari mereka?"


"Ada yang ingin mama diskusikan dengan papa. Ini penting, dan tidak bisa didengar orang lain selain kita berdua."

__ADS_1


"Mau diskusi soal apa? Soal apa yang mereka katakan? Mama percaya dengan apa yang mereka katakan? Sudah jelas-jelas kalau itu ada banyak yang ganjal, Ma. Itu seperti ... sebuah kebohongan saja."


"Mama juga tahu. Mama percaya kok pada, Dion. Dia tidak akan melakukan hal yang tidak senonoh secara sendirian. Pasti kalau Sisil juga yang menginginkannya."


"Lah terus, apa yang mama ingin katakan pada papa lagi kalau sudah tahu mereka itu berbohong pada kita?"


"Mama ingin papa pura-pura percaya saja dengan apa yang mereka katakan. Dengan begitu, kita bisa menjerat Dion untuk menikah dengan Sisil. Bukankah papa tidak suka dengan istri Dion yang sekarang? Sedangkan mama sudah berniat untuk menjodohkan Sisil dengan Dion sejak dulu. Jadi, masalah ini bisa kita jadikan kesempatan emas, Pa. Bagaimana?"


Papa Dion langsung menatap lekat istrinya. Wajah keraguan itu tergambar dengan sangat jelas, hanya saja tidak bisa dia ucapkan secara terang-terangan karena takut dengan keadaan sang istri yang bisa saja drop seketika.


"Mama yakin dengan pemikiran ini? Papa gak ingin kita jadi salah langkah karena terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan. Lagian, setelah melihat kebohongan yang mereka buat, papa jadi ragu untuk menerima Sisil sebagai menantu. Papa takut kalau mereka punya niat tersembunyi di balik semua ini, Ma."


"Papa ih, mikirnya kejauhan banget. Jangan mikir yang tidak-tidak. Mungkin saja kalau masalah ini adalah rencana Sisil untuk menjerat Dion. Karenakan, Dion itu sudah punya istri, dan dia tidak ingin dituduh menjadi orang ketika dalam rumah tangga Dion. Maka dia pakai cara ini untuk membuat Dion jatuh ke tangannya. Papa tidak mikir seperti itu, kah?"


"Tidak. Papa tidak mikir begitu, Ma."


"Ah, makanya pahami sifat wanita. Sudah, mama tidak ingin berdebat lagi dengan papa. Mama ingin papa pura-pura percaya dan mengikuti apa yang mereka inginkan. Kita harus membuat Dion bertanggung jawab dengan menikahi Sisil."


"Terserah mama saja kalau itu yang terbaik menurut mama. Maka papa akan ikuti apa yang mama katakan."


"Nah, itu baru benar. Ayo kembali!"


Mereka langsung berjalan kembali ke ruang tamu. Seperti yang mama Dion katakan, papa Dion mengikuti apa yang keluarga Sisil inginkan.


Mereka ingin Dion menikah dengan Sisil secepatnya sebagai tanda bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi dengan Sisil tadi malam. Kedua orang tua Dion setuju. Mereka bahkan langsung meminta Sisil pindah ke rumah mereka hari ini juga.

__ADS_1


Di akui sebagai menantu sebelum waktunya tiba. Sisil dan kedua orang tuanya sangat bahagia. Bahkan, mereka tidak bisa menyembunyikan perasaan senang itu terlalu lama. Langsung tertawa terbahak-bahak setelah berada di dalam mobil, itulah yang Sisil dan kedua orang tuanya lakukan setelah keluar dari rumah orang tua Dion.


__ADS_2