
Sementara itu, Damar mulai tertarik dengan sikap tekun yang gadis itu punya. Awalnya, dia hanya kagum dengan kinerja yang Siska tunjukkan dalam membicarakan masalah kerja sama mereka. Tapi, pada akhirnya, dia merasa nyaman berada di dekat gadis itu. Entah apa sebabnya, dia juga tidak tahu. Yang jelas, dia suka.
Saat Siska ingin beranjak meninggalkan tempat duduknya. Damar langsung menahan tangan Siska dengan cepat.
Sontak saja, Siska langsung dia buat kaget dengan sikap Damar saat ini. Dia tatap tangan Damar yang memegang tangannya. Lalu, dia alihkan tatapan itu ke wajah Damar yang terlihat masih menatap dirinya dengan tatapan yang Siska sendiri tidak mengerti.
"Ada apa, pak Damar? Kenapa bapak menahan tanganku?"
"Ah, mm ... maaf-maaf. Aku ... tidak sengaja. Niatnya, aku ingin mengajak kamu ke cafe untuk minum. Bagaimana? Apa kamu bisa?"
"Aku .... "
"Aku tidak memaksa. Hanya menawarkan saja. Jika kamu bersedia, maka aku akan sangat senang karena aku punya teman ngobrol sambil minum. Lagipula, ini memang waktu istirahat, bukan?"
Siska langsung melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Mm ... iya. Ini memang jam makan siang. Ya sudah kalo gitu, jika pak Damar ingin mentraktir aku, maka aku siap ikut."
"Eh, siapa yang ingin mentraktir kamu?"
"Hah? Kenapa harus mengajak aku ke cafe jika tidak ingin mentraktir?"
"Ya justru aku yang minta traktir sama kamu. Bukan malah sebaliknya. Hitung-hitung sebagai salam perkenalan dari kamu padaku. Karena atasanmu sudah mengganti kamu untuk melanjutkan pekerjaan yang sebelumnya dia tangani," ucap Damar santai seperti tanpa beban dan rasa bersalah sedikitpun.
Ucapan itu membuat Siska menatap Damar sesaat. Lalu, karena tidak ingin berdebat, maka dia memilih mengalah.
"Ya ... baiklah. Aku akan traktir pak Damar hari ini. Ayo ikut aku ke cafe sebelah. Kita bisa minum di sana."
"Kenapa harus cafe sebelah?"
"Ya karena aku yang akan mentraktir pak Damar. Maka aku berhak memilih tempat yang mana yang aku inginkan. Benar begitu, bukan?"
Damar tersenyum kecil.
__ADS_1
"Ya ... baiklah. Aku setuju dengan ungkapan itu."
Merekapun langsung beranjak menuju cafe samping kantor tersebut. Karena letak cafe yang tidak jauh, maka mereka pergi hanya dengan berjalan kaki saja. Sambil berjalan, keduanya ngobrol ringan.
"Siska. Apa kamu tahu Anggun liburan ke negara mana?" tanya Damar pada akhirnya.
"Mbak Anggun nggak sedang liburan, pak. Dia sedang merawat suaminya yang sedang koma."
"Apa! Koma?"
Siska mendadak menghentikan langkah kakinya. Dia langsung memasang wajah serba salah dan bingung.
Tapi pada kenyataannya, Siska hanya sedang berpura-pura saja. Dia bukan tidak sengaja berucap, melainkan, memang bagian dari keinginannya untuk mengatakan pada Damar, apa yang sudah terjadi pada Anggun dan Dion. Karena dia juga tahu siapa Damar sebenarnya.
Karena, antara Anggun dan Siska, masih terjalin komunikasi satu sama lain dengan sangat baik. Siska juga tahu kalau saat ini, Anggun sedang berada di kota sebelah untuk merebut perusahaan mertuanya.
Sementara Damar, Dia berusaha membuat Siska mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Kata koma yang dia dengar barusan itu sungguh membuat jantungnya kaget luar biasa.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi dengan Anggun dan Dion, Siska! Jangan coba-coba kamu pura-pura tidak tahu. Karena aku yakin, kamu tahu segalanya tentang Anggun."
"Siska aku mohon. Aku tidak ingin mendengarkan alasan apapun. Tolong katakan padaku, apa yang sudah terjadi dengan Anggun. Aku yakin kamu tahu, Sis."
"Aku ... iya. Aku tahu semua tentang mbak Anggun. Ah, tidak semua. Hanya soal dia kecelakaan saja, pak."
"Kecelakaan? Kapan? Di mana dia kecelakaan? Apa sebabnya?"
"Kalo untuk sebab, itu kurang jelas aku. Tapi, menurut kabar yang aku dengar dari pemimpin besar perusahaan kami, mbak Anggun dan Mas Dion mengalami kecelakaan saat mereka pulang dari rumah sakit untuk mengecek kehamilannya mbak Anggun."
"Mobil mereka bertabrakan dengan truk. Untungnya, mbak Anggun tidak terluka parah. Tapi sayangnya, anak yang ada dalam kandungan mbak Anggun tidak bisa di selamatkan."
"Tidak mungkin." Damar berucap lirih dengan perasaan cukup terluka.
"Lalu ... bagaimana dengan suaminya? Apa mereka mengalami kecelakaan yang sama?" tanya Damar dengan nada lemas.
__ADS_1
"Ya. Mereka mengalami kecelakaan yang sama. Suaminya mbak Anggun koma karena menyelamatkan mbak Anggun, pak."
"Menyelamatkan? Bagaimana?"
"Ini aku kurang tahu. Pemimpin besar cuma bicara soal itu saja. Jadi, aku tidak tahu yang lainnya lagi. Mmm ... sebenarnya, kata pemimpin, mbak Anggun mungkin mengalami kecelakaan karena ulah seseorang. Tapi ... sssttt. Jangan banyak bicara. Karena itu bahaya."
Damar terdiam. Benaknya langsung memikirkan apa yang Siska katakan terakhir kalimat barusan.
'Seseorang. Tidak salah lagi, aku yakin itu pasti ulah om. Om sangat tidak suka dengan Anggun. Selama ini, dia melakukan segala cara untuk menyingkirkan Anggun dari kehidupan anaknya.'
'Kasihan sekali kamu Anggun. Kamu pasti sangat terpukul saat kamu kehilangan anakmu waktu itu. Maafkan aku yang tidak bisa membantu kamu, Anggun.'
'Membantu?"
'Ya, mungkin saja aku bisa membantu.'
"Ee ... Siska. Apa kamu tahu di mana Anggun berada saat ini?"
"Tidak, Pak. Pemimpin besar tidak mengatakan di mana mbak Anggun sekarang berada. Saat aku tanya juga, pemimpin besar bilang tidak tahu."
Siska berucap dengan wajah polos. Hal itu membuat Damar percaya tanpa sedikitpun meragukan jawaban yang Siska berikan.
"Mm ... Siska. Sepertinya, aku harus membatalkan minum-minum kita kali ini. Karena aku mendadak ingat punya urusan penting yang belum aku selesaikan. Kita lanjutkan lain kali saja rencana minum-minumnya ya. Bagaimana?"
"Terserah pada pak Damar saja. Saya juga tidak akan menahan bapak untuk pergi. Karena barusan bapak bilang punya urusan penting, bukan? Ya sekarang, silahkan pergi! Saya gak papa."
"Terima kasih banyak atas pengertiannya ya, Sis. Aku pamit dulu. Sampai jumpa lagi."
"Ya. Silahkan."
Damar langsung pergi meninggalkan cafe yang hampir saja mereka masuki. Sayangnya, langsung terhalang karena ingat ada hal besar yang harus dia lakukan.
Sementara Siska, dia malah tersenyum bahagia dengan kepergian Damar barusan.
__ADS_1
"Sepertinya, apa yang mbak Anggun katakan itu benar. Pak Damar langsung bergerak. Keren juga prediksi mbak Anggun kali ini."
Damar pergi dengan mobilnya. Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi agar segera sampai ke tempat yang ingin dia tuju.