
Memasuki ruang rapat, kedua asisten saling tatap. Sepertinya, mereka berdua sudah saling mengenal satu sama yang lain.
Suasana canggung pun terasa sangat jelas. Tapi, rasa itu mendadak menghilang saat papa Dion masuk ke dalam ruangan tersebut.
Seketika, Anggun langsung teringat akan masa lalu saat melihat wajah orang tua itu. Semua kejahatan yang orang tua itu lakukan langsung tergambar dengan jelas diingatan Anggun. Bahkan, wajah suaminya yang sempat meminta dia untuk menghindar sebelum kecelakaan itu terjadi.
Wajah Dion yang tersenyum penuh harap agar dimaafkan. Dan, bekas pukulan yang masih membekas dipunggung suaminya saat membuka pakaian di tempat umum dalam usaha membuat dirinya percaya. Terakhir, kebahagiaan suaminya saat tahu kalau dia sedang hamil dan berusaha keras untuk melindungi dengan menjadikan tubuh sebagai tameng.
Semua itu membuat Anggun terbakar emosi. Api amarah menyala seketika. Bak api yang memakan dedaunan kering. Ingin rasanya Anggun berteriak untuk melepaskan semua amarah. Tapi seketika dia sadar, kalau itu tidak bisa dia lakukan. Karena dia tidak mungkin melawan orang yang kejam dengan emosi.
"Baiklah. Kita mulai saja sekarang," ucap asisten Anggun memecah ketegangan yang terjadi di ruangan tersebut.
"Oke."
Mereka langsung membicarakan soal apa yang sedang terjadi. Anggun terlihat tenang saat dia sudah bisa menguasai diri. Pelajaran harus diberikan dengan sangat baik agar membekas lama dalam ingatan dan hati.
Sedikitpun Anggun tidak bisa diajak negosiasi. Tidak satupun kesempatan yang dia berikan kepada mertuanya. Hal itu membuat papa Dion hilang kendali. Dia banting gelas yang ada di atas meja dengan keras.
"Apa kau sudah gila! Siapa kau sebenarnya? Kenapa begitu gencar menginginkan perusahaan ku, ha?"
"Kita ada di dunia bisnis, Pak. Apakah aku perlu alasan untuk mengejar perusahaan mu yang menurutku adalah tempat yang cocok untuk aku kembangkan bisnisku, hm?"
"Aku tidak percaya kau melakukan hal ini tanpa motif lain dibalik alasan itu. Katakan langsung! Jangan sampai kau mati secara tidak layak nantinya."
"Ah! Anda membuat aku takut dengan ancaman anda barusan. Tapi, satu hal yang ingin aku katakan. Lakukan jika anda bisa. Hukum tidak selamanya bisa anda beli, pak. Ingat itu!"
__ADS_1
"Dasar biadab! Kau .... "
"Tenang, Tuan. Kita mengadakan rapat ini bukan untuk berdebat. Tapi, untuk mencari keuntungan dengan jalan damai, bukan?"
Asisten papa Dion berusaha menenangkan bosnya. Sementara Anggun, dia masih tetap tenang dengan posisi duduk sebelumnya.
"Nona Anggun. Kami ingin nona mempertimbangkan lagi apa yang sudah bos kami katakan barusan. Tolong, berikan kami waktu untuk berpikir terlebih dahulu. Karena bagi bos kami, perusahaan ini sangat penting."
"Tidak. Sampai kapanpun, aku tidak akan menyerahkan perusahaan ini pada orang lain. Apalagi pada wanita seperti kamu." Papa Dion berucap cepat membantah apa yang asistennya katakan.
"Jika begitu, kalian hanya bisa mencari investor lain yang tak kalah besar dari perusahaan kami. Atau jika tidak, perusahaan kalian akan tinggal nama tanpa ada hasil akhir sedikitpun," ucap asisten Anggun pula.
Kedua asisten langsung saling tatap satu sama lain. Seperti sudah pernah terjadi masalah di antara keduanya. Hanya saja, itu sedikit sulit untuk ditebak.
Hal itu membuat Anggun dan asistennya tidak ingin membuang waktu lagi. Dia sudah menunjukkan apa yang dia bisa. Maka saatnya dia pergi sekarang. Pergi setelah menyiram luka dengan garam agar terasa semakin perih.
Papa Dion tidak bisa melakukan apapun lagi. Hanya bisa terdiam menahan kesal saat kepergian Anggun beserta dua anak buah dan satu asisten itu meninggalkan ruangan rapat.
Dalam hatinya berkata, 'Jika saja perempuan itu datang tanpa anak buah. Maka aku mungkin sudah menghabiskan perempuan itu sekarang juga. Karena aku sudah tidak tahan lagi dengan wajahnya yang menyebalkan itu.'
Sementara itu, di sisi lain. Siska sedang membahas soal proyek kerja sama dengan Damar yang sekarang dia ambil alih.
Karena Anggun dikabarkan sedang istirahat, maka pemimpin mereka memutuskan Siska sebagai ganti untuk sementara waktu. Karena itulah, semua pekerjaan yang sebelumnya di tangani Anggun, sekarang Siska yang kerjakan. Termasuk, proyek kerja sama dengan Damar kemarin.
"Untuk hari ini, itu saja dulu yang bisa kita bahas, pak Damar. Selanjutnya, kita akan bahas dua hari lagi. Bagaimana? Apa pak Damar tidak keberatan?"
__ADS_1
"Tidak. Kebetulan, jadwalku tidak banyak selama dua hari ke depan. Jadi, kita bisa membahasnya lagi dengan leluasa."
"Oh, baguslah kalau begitu." Siska berucap sambil tersenyum kecil.
Sebenarnya, dia sudah tahu kalau dua hari lagi, Damar tidak punya banyak kerjaan. Maka dari itu, dia menunda pembahasan selanjutnya dua hari lagi.
Siska termasuk orang yang teliti. Makanya, dia bisa menjabat sebagai sekretaris Anggun selama beberapa tahun. Kinerjanya yang sangat bagus, keterampilan dalam menyusun jadwal, juga ketelitiannya itu membuat Anggun sangat mempercayai Siska selama ini.
Terlepas dari itu semua, mereka juga sudah seperti adik kakak yang saling mengingat dan menguatkan satu sama lain. Karena nasib mereka bisa dikatakan sedikit sama. Kehilangan orang yang mereka cintai secara beruntun dalam waktu singkat.
Namun, Anggun bisa dibilang sedikit beruntung. Karena dia kehilangan orang tua saat dia sudah remaja. Sedangkan Siska, dia kehilangan orang tua dan kakaknya saat masih anak-anak.
Orang tuanya mengalami kecelakaan beruntun ketika dia baru saja duduk di kelas enam sekolah dasar. Saat itu, mereka sangat bahagia. Pulang dari perpisahan kakaknya yang baru saja lulus dari sekolah menengah pertama.
Tanpa diduga, mobil yang papanya kendarai ditabrak truk dari belakang. Sedangkan mobil papanya langsung menabrak mobil yang ada di depan. Dan .... kecelakaan itu setidaknya melibatkan lima mobil, satu truk, dan beberapa sepeda motor yang juga sedang lewat di jalan tersebut.
Siska malang langsung jadi yatim piatu tanpa keluarga. Dia hidup, dan melanjutkan pendidikan dengan bantuan tetangga sebelah rumah. Orang baik yang bersedia menjadikan Siska sebagai anak angkat meski tidak secara resmi.
Karena Siska malang hanya menginap di rumah tetangga tersebut saat malam hari saja. Sedangkan siangnya, Siska kembali ke rumah yang orang tuanya tinggalkan untuk dia.
Meskipun begitu, dia bisa tumbuh besar dan jadi orang yang bisa menghidupi diri sendiri dengan baik. Karena dukungan dari tetangga, juga tekadnya yang kuat untuk bertahan hidup di kerasnya kehidupan yang sedang dia hadapi.
Itulah kehidupan Siska yang sesungguhnya. Kisah pahit itu, tidak banyak orang yang tahu. Karena dia bukan tipe perempuan yang suka menceritakan kehidupannya dengan orang lain.
Sementara itu, Damar mulai tertarik dengan sikap tekun yang gadis itu punya. Awalnya, dia hanya kagum dengan kinerja yang Siska tunjukkan dalam membicarakan masalah kerja sama mereka. Tapi, pada akhirnya, dia merasa nyaman berada di dekat gadis itu. Entah apa sebabnya, dia juga tidak tahu. Yang jelas, dia suka.
__ADS_1