Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu

Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu
Part *13


__ADS_3

"Apa yang kamu katakan, hm? Bicara hal yang tidak jelas. Omong kosong yang tidak ada gunanya. Cepat singkirkan tanganmu dari tanganku. Aku sedang tidak ingin mencari masalah dengan orang lain sekarang."


"Oh, jika kamu tidak ingin mencari masalah. Aku sedang ingin. Dan aku akan buktikan padamu kalau di antara kita berdua, akulah yang paling berharga buat kak Dion."


Belum sempat Anggun mencerna kata-kata yang Sisil ucapkan, Sisil sudah berhasil menghubungi Dion. Bahkan, dia langsung mengubah ekspresinya ketika panggilan sudah tersambung.


"Kak Dion tolong aku. Aku sedang di kamar mandi. Ada perempuan yang sedang mencari masalah dengan aku sekarang, kak."


Sisil bicara dengan nada manja seperti biasanya. Nada bicara itu berbanding terbalik dengan yang dia gunakan ketika bicara dengan Anggun barusan.


Sementara Anggun yang masih tidak bisa memahami maksud dan tujuan Sisil, ditambah rasa kesal yang sudah menumpuk dalam hatinya. Dia langsung saja berteriak keras untuk memarahi Sisil.


"Apa-apaan sih kamu ini, hah! Perempuan aneh! Sudah gila kamu ya?"


Sisil yang licik segera mematikan sambungan panggilan yang sedang terhubung. Jadi, apa yang akan Anggun bicarakan selanjutnya tidak akan Dion dengar lagi. Dan juga, panggilan yang diputuskan secara mendadak memberikan kesan pada Dion, kalau dia memang sedang berada dalam masalah. Seperti ... Anggun yang langsung merebut ponsel saat tahu Sisil sedang menghubungi Dion untuk minta bantuan.


Dion yang tahu bagaimana sifat Sisil, dan juga ketika dia mendengarkan suara yang sungguh sangat dia hafal siapa pemiliknya. Langsung beranjak menuju tempat di mana Sisil berada.


Sementara di kamar mandi, Sisil sudah mulai bersiap-siap untuk akting selanjutnya. Namun sebelum Dion datang ke tempat tersebut, dia terus memancing amarah Anggun agar usahanya untuk membuat Anggun terlihat bersalah di mata Dion, tidak sia-sia begitu saja.


"Kamu tidak akan aku lepaskan. Karena kamu adalah perempuan penghalang yang sudah membuat aku terhalang untuk memiliki kak Dion."


"Kamu semakin lama jadi semakin tidak waras ya perempuan! Aku dan kamu tidak ada urusan sama sekali. Jadi, lepaskan tanganku sekarang juga!"

__ADS_1


"Tidak akan! Aku tidak akan melepaskan tanganku dari kamu. Karena aku akan membuat pertunjukan besar yang akan membuka mata kamu. Kalau yang paling berharga itu adalah aku, bukan kamu."


Lalu, tanpa menunggu Anggun menjawab apa yang dia katakan terlebih dahulu. Sisil langsung berpura-pura kalau Anggun baru saja mendorong tubuhnya dengan kuat.


Sisil yang sangat licik rela menyakiti dirinya dengan cara menabrak tubuhnya ke tembok batu kamar mandi tersebut. Hasilnya, dahi Sisil yang putih tergores sampai mengeluarkan darah.


"Aaa ...! Sakit! Tolong! Tolong aku, tolong jangan sakiti aku." Sisil berteriak dengan suara keras dengan masih mempertahankan sikap manjanya.


Tentu saja Anggun hanya diam saja. Karena semua yang baru saja terjadi di hadapannya ini sungguh sulit untuk dia pahami. Benaknya seakan tidak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi.


"Kamu .... " Anggun ingin mendekat untuk memastikan apa yang perempuan itu sudah lakukan pada dirinya sendiri. Tapi sayang, saat itu pula Dion tiba di kamar mandi.


Mata Dion membulat ketika dia melihat dua perempuan yang sedang berada di hadapannya. Sungguh, Dion kaget bukan kepalang. Serasa ingin menghilang dan tidak pernah melihat apa yang baru saja matanya lihat.


Dion langsung memanggil nama Anggun dengan suara tak percaya. Anggun yang namanya di panggil oleh Dion, tentu saja kaget bukan kepalang. Sementara Sisil yang merasa kalau usahanya berhasil, langsung tersenyum kecil dalam diam.


"Kak Dion." Anggun berucap kaget.


"Huhu ... kak Dion. Tolong ... aku. Perempuan ini ... dia mendorong aku sampai terjatuh. Sakit .... "


Sisil langsung memainkan perannya lagi. Dengan air mata buaya yang mengucur deras, dia bersikap seolah-olah sangat menderita karena kesakitan.


"Sisil!" Dion langsung menghampiri gadis itu dengan wajah panik saat melihat darah dari kepala perempuan tersebut.

__ADS_1


Anggun yang menyadari akan rencana perempuan tersebut, langsung berusaha menjelaskan pada Dion. Meski dia tahu kalau apa yang akan dia jelaskan belum tentu akan di terima oleh Dion.


Karena pada kenyataan, apa yang orang lihat, itu yang akan orang itu percayai. Penjelasan tanpa bukti, memang tidak akan bisa membuat orang percaya. Tapi setidaknya, Anggun ingin mencoba keberuntungan. Jika Dion memang sangat mencintainya, maka Dion akan percaya apa yang dia katakan.


Jikapun tidak langsung percaya, setidaknya Dion akan mencari bukti kebenaran dari apa yang telah terjadi. Seperti Dirly yang selalu ada di pihak Amelia. Tidak perlu dalam situasi apapun. Anggun juga ingin Dion begitu sebenarnya.


"Kak Dion. Aku tidak melakukan semua .... "


"Diam Anggun! Apa kamu sudah gila sekarang? Kenapa kamu bisa sangat liar seperti ini, ha! Kamu marah pada aku, kenapa malah menyakiti dia? Dia tidak tahu apa-apa tentang masalah rumah tangga kita. Dia datang bersama aku juga karena mamaku yang minta. Dia tidak salah, Anggun."


Kaget bukan kepalang. Itulah yang Anggun rasakan saat ini. Ingin rasanya dia menangis, tapi sepertinya, air mata sudah tidak ada stok untuk ditumpahkan lagi. Yang bisa dia lakukan hanya terdiam sambil menatap wajah marah Dion yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


Saat itu Anggun sadar, kalau Dion bukan Dirly yang mencintai Amelia dengan sepenuh hati. Semua untuk Amelia, dalam apapun situasi dan kondisi.


Dion tidak punya hati yang tulus untuk dirinya. Jangan percaya, mendengarkan ucapannya sampai selesai saja tidak ingin. Dion malah langsung membentak dirinya, membuat kata-kata yang ingin dia ucapkan langsung tertahan karena ingin membela perempuan yang sedang dia khawatirkan saat ini.


"Kamu tidak percaya dengan apa yang ingin aku katakan, kak? Kamu pikir apa yang terjadi sekarang itu sama dengan apa yang kamu lihat? Aku tidak menyakiti perempuan selingkuhan kamu ini! Asal kau tahu, dia yang telah menyakiti dirinya sendiri hanya untuk mendapatkan perhatian dari kamu."


"Aku tidak percaya kalau kamu tidak hanya buta mata sekarang kak Dion. Tapi kamu juga buta hati sampai tidak bisa merasakan yang mana yang salah, juga yang mana yang benar. Aku kecewa sama kamu. Sangat-sangat kecewa sampai aku merasa jijik untuk melihat wajah kamu lagi mulai detik ini."


Anggun yang tidak kuat menahan amarah itu langsung meninggalkan Dion dan Sisil setelah mengeluarkan semua unek-unek yang ada dalam hatinya. Dion terdiam mematung tanpa bisa berucap apa-apa setelah kata-kata dengan nada tinggi itu dia dengar.


Ada seperti luka yang terbuka dalam hatinya saat ini. Perih itu sungguh nyata ketika kata-kata Anggun menyentuh telinganya. Dia merasa cukup sakit saat istrinya bicara dengan nada tinggi seperti barusan. Bahkan, dia juga di katakan buta mata juga buta hati. Itu sungguh menyakitkan buat Dion saat ini.

__ADS_1


__ADS_2