Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu

Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu
Part *39


__ADS_3

Dedy masih merasa penasaran dengan penjelasan itu. Tapi, dia tidak ingin bertanya lagi meski sebenarnya, dia sangat-sangat ingin tahu dengan apa yang masih belum dia pahami saat ini.


Anggun yang mengerti dengan apa yang Dedy rasakan, kini kembali mengukir senyum kecut di bibirnya yang sedikit pucat. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya, dia melanjutkan kembali ceritanya yang pahit.


"Kau pasti masih tidak mengerti dengan apa yang aku katakan tadi, bukan? Papaku meninggal karena serangan jantung setelah tahu, calon suami kakakku kabur di hari pernikahan itu. Sedangkan mamaku, dia meninggal karena kecelakaan saat ingin mencari kakakku yang pergi setelah tahu calon suaminya kabur dengan membawa cinta juga harta keluarga kami."


"Apa? Dia tidak hanya kabur membawa cinta, tapi juga membawa harta? Dasar laki-laki kurang ajar. Manusia seperti itu tidak layak hidup, Anggun."


Tanpa sadar, kata-kata itu mengalir begitu saja dari bibir Dedy. Kata-kata yang membuat Anggun langsung tersenyum walau hatinya sedang menangis. Karena Dedy terlihat benar-benar sangat merasakan rasa kesal dengan melepas emosi dari kata-kata yang baru saja dia ucapkan.


"Itulah manusia, Mas. Sulit ditebak apa yang mereka simpan dalam hati. Manusia ini memang tempatnya kesalahan singgah. Ah, ya sudahlah. Tidak perlu dibahas lagi soal itu sekarang. Karena semuanya sudah berlalu. Kami sudah berusaha melupakan semua itu dengan berdamai yang namanya takdir."


Dedy tidak berucap. Hanya tatapan iba, penuh rasa kagum juga kesedihan yang dia berikan pada Anggun. Sedangkan Anggun, sepertinya dia berusaha keras agar terlihat biasa saja. Padahal dalam hati, sangat-sangat ingin menangis jika mengingat kehidupan masa lalu yang sangat menyedihkan.


****


Ternyata, Dion diizinkan pergi dari rumah sakit meski keadaanya masih dalam kondisi sekarat. Air mata Anggun sepertinya sudah tidak tersisa lagi. Dia terus menatap wajah suaminya sepanjang perjalanan menuju luar negeri untuk kehidupan baru yang lebih baik.


Jet pribadi meninggalkan tanah air dengan cepat. Meninggalkan semua luka yang mungkin akan selalu membekas dalam hati Anggun untuk selama-lamanya.


Sementara itu, Dedy sedang ditugaskan oleh Dirly untuk mengurus pemindahan kakak Anggun ke luar negeri. Jet pribadi itu akan kembali menjemput kakak Anggun dalam dua puluh empat jam lagi.


Ketika Dedy bertemu dengan kakak Anggun. Dia terdiam untuk beberapa waktu. Perempuan itu terlihat cukup cantik meski tidak menyentuh sedikitpun polesan alat kosmetik.

__ADS_1


Gadis itu terdiam di samping jendela dengan tatapan lurus ke depan. Tatapan kosong yang menggambarkan hatinya yang juga kosong tanpa penghuni.


"Kristina Wijaya."


Sontak, ketika nama itu Dedy ucapkan, gadis yang sedang melamun itu langsung menoleh. Hal itu membuat mata Dedy dengan Tina langsung beradu.


Ada getaran yang tak wajar dalam hati Dedy. Yang entah kenapa bisa tiba-tiba saja muncul. Dia juga tidak tahu ada apa, dan apa penyebabnya. Yang jelas, perasaan itu tiba-tiba saja muncul dan mengalir dengan sendirinya.


Terlepas dari apa yang hatinya rasakan, tatapan yang Tina berikan juga ada yang aneh menurut Dedy. Bagaimana tidak? Tatapan Tina itu seperti wanita normal pada umumnya. Tidak mirip sedikitpun dengan orang yang sedang menderita gangguan jiwa. Juga respon saat Dedy memanggil namanya, itu jelas-jelas tidak seperti perempuan gangguan mental sedikitpun.


"Kamu ... Kristina Wijaya?" tanya Dedy memastikan apa yang benaknya sedang pikirkan.


Tina hanya mengangguk pelan. Sementara Dedy yang mendapat respon itu, langsung berkata, "apa yang aku pikirkan sih? Jelas-jelas dia tidak sama dengan apa yang aku bayangkan."


Hal itu membuat Dedy semakin was-was dengan keadaan yang sulit untuk dia tebak. Apalagi untuk dia pahami. Jelas sangat sulit.


"Mm ... adikmu ... tidak. Maksudku, kau masih ingat kalau kau punya adik? Dia sekarang sedang terbang keluar negeri untuk .... "


"Itu yang terbaik untuk dia. Biarkan dia pergi. Karena dia berhak untuk bahagia," ucap Tina cepat dengan memotong perkataan Dedy barusan.


"Maksud kamu .... "


"Akhirnya dia pergi juga."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Tina langsung memutar tubuh. Dia sepertinya ingin meninggalkan Dedy dengan cepat setelah mengucapkan kata-kata itu.


Namun Dedy yang menyadari akan gerakan Tina barusan, tidak ingin membiarkan Tina pergi. Karena ada banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan perempuan itu sekarang.


Dengan cepat, Dedy menahan tangan Tina sebelum Tina pergi.


Namun, respon yang Tina berikan begitu cepat. Dia menepis tangan Dedy agar tidak menyentuh tangannya. Lalu, dia langsung beranjak dengan langkah besar agar segera menjauh dari Dedy.


"Tunggu! Adikmu mengalami kecelakaan fatal. Suaminya sedang koma, dan anak yang dia kandung tidak bisa di selamatkan. Dia keguguran."


Seketika, langkah kaki Tina terhenti. Matanya langsung berkaca-kata karena tidak kuat mendengar berita penderitaan yang adiknya alami saat ini.


"Tina. Aku tahu kamu tidak sedang mengalami gangguan jiwa sekarang. Kau pasti merasakan kesedihan yang kuat saat tahu apa yang sedang menimpa adik kandungmu saat ini."


"Ketahuilah, dia setuju pergi keluar negeri dengan syarat, Tina. Dia ingin kamu juga ikut dia ke luar negeri. Karena hanya kamu yang dia punya di sini. Aku datang untuk menjemput kamu sekarang. Aku mohon kerja sama dari kamu. Ikutlah denganku."


"Tidak. Aku tidak akan ikut kamu. Aku tidak ingin membuat Anggun sulit lagi. Aku adalah kakak yang tidak pantas untuk di sebut kakak baginya. Aku telah membuat orang tua kami pergi karena kesalahanku. Aku juga membuat dia menderita akibat hinaan dan cacian orang lain karena aku."


"Kamu salah. Dia akan semakin merasa sedih dan semakin menderita jika kamu bersikap seperti ini. Jangan lari dari kenyataan, Tina. Karena semakin kamu lari, maka akan semakin berat kesalahan yang kamu rasakan dalam hatimu."


"Adikmu adalah perempuan yang kuat. Dia sanggup bertahan dengan kehidupan keras yang dia lalui selama ini. Dia juga sanggup bertahan dengan cacian dan hinaan dari orang lain. Meski sejujurnya, dia sangat rapuh karena kamu yang lebih memilih terhanyut dengan perasaanmu. Dia semakin menderita akibat kamu yang tidak ingin menghadapi hidup yang keras ini."


"Kristina Wijaya. Aku tidak akan mempermasalahkan kehidupanmu yang entah apa alasannya sampai kamu bisa mengambil keputusan tinggal di rumah sakit jiwa seperti ini lebih baik dari pada tinggal dan saling menguatkan dengan adikmu. Tapi, tolonglah bekerja sama dengan aku demi pemilihan adikmu."

__ADS_1


"Kau tidak perlu menunjukkan kalau kamu tidak mengalami gangguan jiwa padanya, atau pada siapapun. Karena aku juga akan berpura-pura tidak tahu kalau kamu hanya berpura-pura saja. Tapi, tolong ikut dengan aku agar pekerjaan yang dibebankan padaku bisa cepat aku selesaikan. Intinya, kita saling bekerja sama saja."


__ADS_2