
Salah satu pegawai berucap pada Siska si sekretaris Anggun. Dengan mata yang tertuju pada Anggun dan Damar yang berada di luar kantor tentunya.
"Ya mungkin dua-duanya. Sopir mbak Anggun, sekaligus klien kita yang sedang PDKT dengan bos kita. Sama-sama benar aku rasa," ucap Siska acuh tak acuh sambil terus menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
"PDKT? Yang benar saja kamu kalau ngomong, Siska. Gak mungkinlah pak Damar mau PDKT dengan mbak Anggun. Secara, mbak Anggun kan udah punya tuan muda Dion."
"Tunggu deh! Jangan bilang kalau pak Damar gak tahu soal mbak Anggun yang sudah punya suami. Kasihan banget kan, pak Damar nya entar bisa sakit hati."
"Ya apa urusannya dengan kita? Orang itu semua urusan pribadi mbak Anggun dan pak Damar. Gak ada sangkut pautnya dengan kita. Lagian, mbak Anggun dan tuan muda Dion juga .... "
Siska mendadak sadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Dia langsung menghentikan apa yang sebenarnya ingin dia katakan.
Ucapan yang tertahan tentu saja membuat lawan bicara Siska merasa penasaran. Otomatis, Siska dituntut untuk menyelesaikan kalimatnya yang sedang dia gantung karena lawan bicaranya sedang merasa penasaran.
"Juga apa sih, Sis? Kenapa kamu tidak melanjutkan apa yang ingin kamu katakan? Aku penasaran ini."
"Gak ada. Aku gak ada mau bilang apa-apa. Udah ya, aku mau ke ruangan ku sekarang. Ada berkas yang masih belum aku selesaikan."
"Eh, tidak bisa gitu dong. Aku yakin kamu tahu sesuatu karena kamu kan sangat dekat dengan mbak Anggun. Kasi tau aku juga dong, Siska."
"Aku gak tahu apa-apa soal pribadi mbak Anggun. Aku itu sekretarisnya di kantor. Bukan sekretarisnya di rumah. Lagian, jikapun aku sekretarisnya di rumah, mana mungkin juga dia akan bicara padaku tentang segalanya."
__ADS_1
Siska langsung meninggalkan karyawan tersebut. Dia merasa lega karena bisa menghindar, dan hampir saja dia kecoplosan
bicara hal pribadi bosnya itu. Hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia.
Ya walaupun sebenarnya, dia sangat kasihan dengan Anggun. Karena perempuan sebaik Anggun malah dapat cobaan seberat yang sedang Anggun jalani saat ini. Tapi seperti yang sudah dia katakan. Dia bukan siapa-siapa. Tidak bisa membantu Anggun sedikitpun.
Berusaha bersikap sebaik mungkin adalah cara satu-satunya yang Siska bisa. Walau pada kenyatannya, dia sungguh merasa tidak enak hati ketika melihat Anggun dekat dengan Damar. Entah apa yang dia rasakan, tapi yang pasti, ada yang tidak beres dengan hatinya ketika melihat kedekatan Anggun dengan Damar.
Usaha Damar sudah sangat maksimal. Dia melakukan dengan sepenuh hati dengan kemauannya sendiri. Hal itu membuat seseorang merasa sangat kesal dengan ulah Damar yang melenceng dari apa yang dia katakan.
Plak! Sebuah tamparan keras mengenai wajah Damar ketika dia berada di ruangan khusus laki-laki paruh baya yang tak lain adalah papa kandung Dion.
"Bodoh! Aku minta kamu buat dekati dia, dan bikin dia jatuh cinta padamu, Damar! Bukan malah sebaliknya. Dasar anak bodoh kamu!"
"Lancang! Suami yang kamu maksudkan itu adalah anakku. Aku berhak melakukan apapun untuk anakku." Papa Dion menatap tajam wajah Damar. Tatapan itu seperti serigala yang siap menerkam mangsanya.
"Kau aku tugaskan untuk membuat dia jatuh cinta padamu. Dan merusak hidupnya agar Dion tidak lagi suka padanya. Tapi kau malah melakukan hal yang bertolak belakang dengan apa yang aku katakan. Kau malah mencintai dia, dan membuat dia bahagia. Apa kau sudah gila! Kau lupa kalau kau datang karena misi yang aku berikan? Kau ingin perusahaan keluargamu aku luluh lantahkan, hm?"
Damar terdiam. Bukan dia tidak tahu harus bicara apa. Tapi, dia hanya sedang mengingat kembali apa yang papa Dion katakan.
Ya, dia datang karena permintaan orang tua itu. Permintaan untuk mendekati Anggun dan membuat Anggun jatuh cinta. Lalu, merusak hidup Anggun serusak mungkin agar Dion tidak lagi suka pada Anggun. Dan tentunya, Dion akan menceraikan Anggun saat itu.
__ADS_1
Tapi sayang, karena kelembutan Anggun. Dia yang malah jatuh cinta duluan, bukan sebaliknya. Dia berusaha membuat Anggun bahagia dan nyaman saat bersama dengannya. Dia juga berniat untuk mendapatkan hati Anggun dengan cinta.
Tentu saja itu bertolak belakang dengan misi yang sedang dia bawa. Namun Damar tidak peduli dengan semua itu. Dia tahu apa resiko karena telah membuat misinya jadi gagal. Dan Damar siap menerima resiko itu demi melindungi Anggun yang sudah berhasil mencuri harinya.
"Aku bukan Dion yang takut dengan ancaman, om. Harusnya om tahu itu. Aku Damar, keponakan om. Jika om ingin kita bermusuhan, aku siap melawan."
"Anak gila! Tidak tahu diri kamu ternyata! Jangan coba-coba kamu menantang aku, Damar! Kau juga seharusnya tahu siapa aku, bukan? Aku tidak akan segan-segan bikin kamu dan keluargamu berada dalam masalah besar jika kau berani menantang aku."
"Oh, silahkan saja, om. Aku siap menunggu om bergerak untuk membuat kami sekeluarga ada dalam masalah. Setelah itu, om juga harus siap melihat anak om pergi dari om karena aku."
"Kau mengancam ku! Laknat!"
"Tidak. Aku hanya membalas peringatan dengan peringatan. Dengan begitu, kita impas."
Setelah berucap kata-kata itu dengan senyum lebar, Damar langsung meninggalkan ruangan tersebut tanpa izin terlebih dahulu. Dia kesal, sangat kesal juga sedikit takut sebenarnya. Karena dia tahu siapa papa Dion yang tak lain adalah saudara jauh papanya itu. Meskipun begitu, dia dulunya dekat dengan papa Dion sebelum dia beranjak dewasa seperti saat ini.
Sementara itu, papa Dion yang kesal dengan apa yang baru saja terjadi, langsung memukul mejanya dengan keras. Dengan tatapan yang penuh dengan kebencian, orang tua itu melihat lurus ke depan.
"Semua karena kamu perempuan. Kamu terus saja bikin ulah dengan aku. Jika saja kamu tidak berguna sebagai ancaman untuk menahan Dion agar tetap mengikuti apa yang aku katakan. Aku pasti sudah melenyapkan kamu seperti yang telah aku lakukan pada pamanmu dulu."
"Cih! Keluarga Wijaya benar-benar bikin aku pusing. Aku sudah menutup lembaran itu, tapi siapa sangka, anak kandungku malah menikah dengan perempuan dari keluarga Wijaya. Benar-benar sial sekali semua ini."
__ADS_1
"Karena kalian yang membuka apa yang sudah aku tutup, maka kalian harus aku tuntaskan sampai ke akar-akarnya kelak. Agar tidak ada lagi manusia bejat seperti pamanmu yang terlahir dari keluarga Wijaya yang laknat."