
Sebisa mungkin Dion tetap bersikap tenang. Walau pada kenyataannya, dia sedang sangat ingin marah akibat orang tua kandungnya yang terlalu mengekang ini.
"Iya juga sih. Apa yang kamu katakan itu benar. Papamu tidak akan mengizinkan mama ikut. Tapi ... mama tidak tenang jika kamu pergi sendirian."
"Ma ... bukankah aku besar di sana? Apa yang bikin mama tidak tenang jika aku harus pergi sendirian ke sana? Apa mama takut aku berbohong pada mama. Iya, Ma?"
"Aduh ... bukan gitu, Dion. Mama percaya kok sama kamu. Tapi ... mama gak tenang aja."
"Mm ... gini aja deh. Mama akan izinkan kamu pergi ke rumah mama angkat kamu tanpa perlu mama ikut. Tapi ... dengan satu syarat."
"Syarat? Syarat apa maksud mama?"
Dion merasa tidak enak hati sekarang. Dia yakin kalau mamanya pasti punya hal yang tidak dia sukai sebagai syarat untuk dia bisa pergi ke rumah orang tua angkatnya sekarang.
"Mm ... mama ingin kamu bawa Sisil pergi bersama kamu. Dengan begitu, mama bisa tenang saat kamu pergi ke sana."
"Apa! Mama minta aku bawa perempuan itu? Yang benar saja, Ma. Aku .... "
"Ya sudah. Jika kamu gak ingin bawa dia, maka mama gak akan izinkan kamu pergi ke sana. Pilih mana? Terserah kamu sekarang. Karena pilihan ada di tangan kamu."
Dion terdiam memikirkan apa yang mama nya katakan. Dia tahu betul apa maksud mamanya yang meminta dia membawa perempuan manja, centil, juga sok cantik yang selalu bikin hatinya merasa risih lahir batin itu.
Mamanya tidak ingin dia bertemu dengan Anggun yang jelas-jelas adalah istri sahnya. Jikapun bertemu, pasti suasana tidak akan baik-baik saja. Karena Dion yang datang bersama perempuan lain itu, pasti akan membuat hati Anggun merasa sakit karena kecemburuan.
Dion melepas napas panjang. Mendengus pelan karena rasa kesal yang ada dalam hatinya saat ini.
"Heh ... apa mama masih tidak percaya dengan aku, Ma? Apa mama masih merasa tidak cukup dengan mengirim orang untuk mengawasi aku selama ini? Aku bukan tawanan, kan Ma? Aku anak kandung mama, bukan?"
__ADS_1
"Dion. Ngomong apa sih kamu ini, hah? Mama bukannya tidak percaya sama kamu, tapi mama hanya perlu waspada. Kamu anak mama yang susah lama hilang dari mama. Jadi, apa salahnya jika mama memberikan pengawasan yang sedikit berlebihan."
"Sudah. Mama tidak ingin mendengar bantahan lagi dari kamu. Jika kamu ingin pergi ke rumah orang tua angkat kamu, bawa Sisil ikut serta. Jika tidak, maka kamu tidak akan pergi."
"Keputusan mama tidak akan bisa diganggu gugat. Sudah final dan tidak akan pernah bisa diubah."
Tidak punya pilihan lain, Dion terpaksa menyetujui apa yang mamanya katakan. Pergi keluar kota dengan membawa perempuan lain.
Dia tahu itu pasti akan sangat menyakitkan buat Anggun sebagai istrinya. Tapi, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena sesungguhnya, itu memang yang mama kandung dia inginkan.
Membuat hati Anggun sakit dan membuat hubungan Anggun dan dirinya rusak, hancur berantakan. Karena mamanya tidak suka dengan Anggun. Mamanya ingin gadis pilihan yang bernama Sisil itu yang menjadi istri dia.
Dion tiba di rumah Sisil setelah berkendara beberapa saat lamanya. Rumah mewah dengan tiga lantai. Lengkap dengan taman, juga semua fasilitas kelas atas bak vila konglomerat.
Keluarga itu bukan orang nomor satu di kota ini, tapi kehidupan mereka terlihat cukup loyal. Mungkin, semua harta mereka habiskan dengan kehidupan yang loyal itu. Pikiran itulah yang selalu muncul dalam benak Dion ketika dia melihat rumah mewah itu. Rumah yang bikin hatinya merasa tidak enak karena penghuninya yang bikin muak.
Seperti biasa, dengan dandanan mewah yang selalu dia kenakan. Sisil berjalan menuju Dion yang menunggu di depan gerbang rumah tersebut.
"Kak Dion udah lama? Maaf ya, aku bikin kak Dion nungguin aku terlalu lama. Habisnya, tante Sara ngasi kabar secara mendadak sih. Jadinya .... "
"Gak lama kok. Ayo masuk karena aku sedang sangat buru-buru." Dion berucap cepat memotong perkataan Sisil yang terdengar semakin lama semakin membuat hatinya merasa kesal.
"Ah, iya. Maaf lagi karena bikin kak Dion terhambat karena aku."
"Gak papa."
Perjalanan mereka tempuh dengan Sisil yang sibuk bicara. Sementara Dion hanya menjawab sepatah dua patah kata saja saat pertanyaan yang Sisil lontarkan buat dia.
__ADS_1
"Kita langsung ke mana, Kak?"
"Rumah mama."
"Rumah mama angkat, kak Dion maksudnya?"
"Ya."
"Uh ... aku udah gak sabar lagi nih buat ketemu sama mama angkat kak Dion. Pasti orangnya baik banget, kan? Atau ... aduh, aku jadi deg-degan gini ya. Jadi takut juga lho, kak."
"Takutnya ... mereka malah tidak sama dengan yang aku bayangkan. Aduh ... gimana ini ya?"
"Kak Dion. Katakan sesuatu tentang keluarga angkat kak Dion biar Sisil gak takut lagi, kak."
"Tidak ada yang perlu aku katakan. Kamu bisa lihat sendiri nantinya. Dan, bisakah kamu diam saja? Aku tidak bisa mengendarai mobil dengan baik jika kamu sibuk bicara. Aku harus fokus karena jalan yang kita lalui akan panjang."
"Kak Dion marah ya padaku? Aku ... hiks hiks. Jika gak mau ajak aku, aku gak keberatan kok, kak. Tapi ... hiks, jangan marah padaku seperti ini. Aku ... hiks, jadi takut."
'Ya Tuhan ... perempuan ini bikin aku merasa seperti ingin menendangnya dari mobil sekarang juga. Andai saja aku bisa, sudah sejak tadi aku lakukan hal itu. Tuhan ... agh!'
"Tolong jangan menangis seperti itu, Sisil. Kamu bukan anak kecil lagi, bukan? Kamu sudah dewasa dengan umur kamu yang sekarang menginjak dua puluh tiga tahun. Jangan bikin orang lain merasa risih dengan sikap kamu ini."
"Risih? Kak Dion merasa risih dengan sikap aku sekarang? Kak ... aku ... hiks, aku gak bermaksud bikin kamu risih kok, kak .... Hiks-hiks."
Bukanya berhenti. Sisil malah semakin menjadi-jadi lagi tingkahnya. Dia semakin memperkuat tangisannya sehingga Dion tidak punya cara lain selain menepikan mobil untuk menenangkan perempuan itu dengan cara membujuknya.
"Tenang lah. Aku tidak bilang kalau aku merasa risih padamu. Aku hanya bilang, jika orang lain pasti akan merasa risih dengan tingkah orang dewasa yang seperti anak-anak ini. Kamu harus pintar bersikap, Sisil."
__ADS_1
"Aku ingin. Tapi ... hiks, aku tidak tahu bagaimana harus bersikap seperti itu, kak." Sisil berucap sambil menggosok matanya dengan satu tangan.