
"Tidak ada yang tidak mungkin bagi Dirly untuk orang yang dia cintai, tuan muda."
"Oh iya, jika tuan muda ingin bicara lebih lanjut, ayo masuk ke dalam! Aku juga ingin bicara banyak dengan tuan muda lagi."
Tentu saja Dion tidak akan menyanggupinya. Apa yang dia lihat untuk pertama kali, sudah cukup membuat Dion waspada pada laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
"Tidak perlu. Terima kasih banyak atas tawarannya. Aku akan membawa istriku pulang sekarang juga. Untuk apa yang kamu katakan barusan itu, aku akan pertanyakan lagi pada Dirly agar aku tahu kebenarannya. Jika kamu berbohong, maka kamu akan terima akibat dari kebohongan yang kamu buat."
Bukannya takut, Dedy malah tersenyum dengan tenang.
"Aku tidak suka berbohong, tuan muda. Silahkan tanyakan pada Dirly apa yang aku katakan tadi pada tuan muda. Oh ya satu lagi, asal tuan muda tahu, istri tuan muda ini dulu juga sering datang ke sini. Hanya saja, dia tidak pernah menyentuh minuman beralkohol seperti malam ini."
"Sepertinya, masalah yang sedang dia hadapi terlalu besar sampai mau menyentuh minuman keras. Katanya, dia ingin hilang ingatan. Makanya mau mencoba minum minuman keras tersebut."
"Diam kamu! Kamu tidak ada urusannya dengan istriku. Aku peringatkan padamu, jangan pernah dekati istriku lagi. Ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya kamu dekat dengan dia."
"Aku akan bicarakan dengan Dirly agar dia mau menutup klab malam ini. Dan aku juga akan minta padanya untuk membuang kamu jauh-jauh dari pekerjaan manapun."
Selesai berucap, Dion langsung pergi meninggalkan Dedy. Sedangkan Dedy hanya bisa diam saja tanpa berniat menjawab apa yang Dion katakan.
"Dasar manusia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kasihan sekali dia. Kelihatannya begitu tersiksa dengan tuan muda yang egois itu."
"Apa aku hubungi Dirly saja ya? Aku akan bicarakan apa yang terjadi malam ini dengan Dirly. Biar mereka bicara baik-baik berdua. Mereka kan keluarga."
"Ah, iya-iya. Aku akan hubungi dia besok siang saja."
__ADS_1
***
Dion sampai ke rumah mereka setelah mengendarai mobil beberapa lama. Dia langsung mengangkat tubuh Anggun dengan lembut untuk dia pindahkan ke kamar.
Anggun kembali terbangun dengan keadaan yang masih sama. Masih mabuk berat dan tidak sadarkan diri dengan apa yang terjadi.
"Aku benci kamu, Dion! Benci sekali!"
Ucapan itu membuat hati Dion merasa sakit. Tapi dia tidak bisa marah. Karena menurutnya, dia pantas Anggun benci.
"Kau pantas benci padaku, Gun. Karena aku memang jahat. Maafkan aku atas semua yang sudah aku lakukan padamu. Hanya itu yang bisa aku katakan. Selain kata maaf, tidak ada yang lain lagi."
Dion membaringkan tubuh Anggun di atas kasur. Dia tatap wajah perempuan yang sangat dia cintai itu dengan tatapan iba. Dia belai rambut Anggun dengan lembut.
"Andai kamu tahu, aku korbankan segala rasa yang aku punya hanya untuk keselamatan kamu. Apa kamu juga akan bersikap yang sama seperti saat ini? Apa kamu juga akan bilang kata-kata yang sama seperti sekarang? Apa kamu masih benci aku, Gun?"
"Sampai pada akhirnya, aku tidak bisa menahan rasa rindu itu. Aku langsung mengambil resiko dengan pulang ke sini. Aku pasrah dengan tanggapan kamu saat aku pulang. Kamu tidak menyambut aku. Itu bukan salahmu. Kamu bicara dingin padaku, itu juga bukan salahmu."
"Sampai kamu bicara hal yang sama sekali tidak pernah aku duga sebelumnya. Kamu ingin kita berpisah. Saat itu duniaku terasa hitam tanpa sedikitpun cahaya yang terlihat."
"Aku ingin berbalik untuk memelukmu dan mengatakan semua masalah yang sedang aku hadapi. Tapi sayangnya, aku telah diawasi oleh mereka yang tidak bisa dilihat. Tapi aku tahu keberadaan mereka."
"Aku hanya boneka keluarga kandungku, Gun. Ingin lepas, tapi tidak tahu caranya. Karena mereka sedang memegang kelemahan ku. Hal itu yang membuat aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti apa yang mereka katakan."
"Karena hal itu juga, aku jadi egois. Menahan kamu dengan semua kesakitan. Tidak bersedia melepaskan kamu karena aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku harap kamu tahu dan mengerti dengan keadaan ini, Gun. Aku sayang kamu."
__ADS_1
Dion langsung mencium dahi Anggun dengan lembut. Saat ciuman itu jatuh, Anggun yang tidak sadarkan diri langsung menarik Dion ke dalam pelukannya.
Entah dapat dorongan dari mana, Dion langsung ikut terangsang dengan pelukan itu. Mereka pada akhirnya melakukan hubungan suami istri dengan keadaan yang tidak seharusnya Dion lakukan.
Mengambil kesempatan dalam kesempitan, Dion benar-benar tidak berniat dengan istilah itu. Tapi, suasana yang sudah terjalin membuat dia terhanyut begitu saja. Mereka akhirnya melakukan adegan itu beberapa kali.
Menjelang subuh, Dion mendapat panggilan dari bi Ina. Dia pun langsung kembali ke rumah sakit agar semua yang terjadi tidak diketahui oleh keluarga kandungnya.
Dengan perasaan berat, Dion meninggalkan rumahnya. Meninggalkan Anggun yang masih terlelap akibat apa yang terjadi tadi malam.
"Maafkan aku, Gun. Tolong jangan marah dengan aku untuk selamanya. Aku pasti akan mencari cara agar kita bisa hidup bahagia kelak. Bersabarlah, Anggun."
Dion kembali memberikan Anggun sebuah ciuman. Setelah itu, baru dia berangkat meninggalkan rumah tersebut. Sementara dia pergi dari rumah, bi Ina sudah pun pulang.
***
Anggun membuka mata dengan malas. Terasa cukup berat mata itu untuk dia buka. Tubuhnya juga merasakan rasa pegal dan sakit-sakit dibeberapa bagian. Ingin rasanya dia tetap. berbaring. Tapi cahaya matahari yang menyilaukan menyadarkan Anggun kalau hari sudah beranjak siang. Bukan subuh, atau pagi lagi.
"Aduh ... jam berapa ini?" Anggun berucap sambil berusaha menggapai ponsel yang biasanya dia letakkan di atas nakas.
Saat itulah dia sadar, kalau dia sedang tidak memakai pakaian. Sontak saja, dia kaget bukan kepalang. Melihat sekujur tubuhnya yang tidak menggunakan satu pakaian pun, Anggun langsung melihat sekeliling.
"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan tadi malam? Kenapa aku bisa melakukan kebodohan ini? Ini sungguh ... tidak mungkin. Jangan bilang aku sudah melakukan dosa karena kebodohan yang aku lakukan tadi malam."
Anggun panik. Sangat panik sampai dia tidak bisa berpikir dengan baik. Namun, detik berikutnya dia menyadari satu hal yang membuat dia berpikir ulang apa yang dia pikirkan sebelumnya.
__ADS_1
"Tunggu! Ini kamarku, bukan? Ini ... di rumah? Dengan siapa aku pulang ke rumah? Aku tidak mungkin pulang ke rumah bersama laki-laki lain, kan? Dari mana mereka tahu alamat aku?"