
Meski saat itu sedang hujan sangat lebat, Dedy tetap melakukan apa yang Dion katakan. Dia pergi dengan mobil bersama beberapa anak buah yang cukup dia percaya selama ini.
Mobil berjalan dengan kecepatan pelan. Karena hujan cukup deras, mereka butuh kesabaran dan hati-hati untuk melintasi jalan raya agar tidak terjadi kecelakaan.
Dengan sinyal GPS juga bimbingan dari Dirly, mereka akhirnya menemukan mobil Dion yang sedang ada di jalanan tersebut. Dedy cukup kaget dengan kondisi mobil Dion saat ini. Bagian depan terbuka dengan kaca yang retak tak berbentuk lagi.
Dengan kondisi, Dedy langsung menyimpulkan, kalau mobil tersebut baru saja habis mengalami tabrakan dengan benda berat. Tebakan itu hatinya benarkan saat salah satu anak buah melihat truk yang sedang berada di samping pohon.
Tanpa banyak bicara, mereka langsung turun dan mendekati mobil tersebut. Tidak peduli dengan tubuh mereka yang basah karena siraman hujan, mereka langsung mendekat untuk memastikan.
Saat pintu mobil berhasil mereka buka, mata Dedy langsung membulat melihat Anggun yang sedang menahan rasa sakit dengan memegang tangannya pada perut. Sementara Anggun, dia terlihat sibuk dengan rasa sakit yang dia rasakan saat ini.
"Anggun. Ayo aku bantu keluar!" Dedy berucap sambil berusaha menarik Anggun ke dalam gendongannya.
"Tolong, Mas. Selamatkan suamiku. Aku mohon!"
Ucapan itu terasa cukup membuat hati Dedy sedikit sakit. Tapi, dia segera mengabaikan rasa sakit karena kecewa itu dengan cepat.
"Tenang saja. Kami pasti akan menolong kalian. Kalian pasti akan baik-baik saja."
"Agh! Sa--sakitnya."
Anggun tidak kuat lagi. Dia hanya bisa pasrah dengan apa yang Dedy lakukan. Dia membiarkan Dedy menggendong tubuhnya, lalu membawa keluar di tengah hujan yang masih belum mereda sedikitpun.
Evakuasi yang lumayan lambat akhirnya selesai. Setelah berhasil memindahkan Anggun dan Dion, Dedy baru menghubungi kantor polisi untuk mengatakan soal kecelakaan itu. Selanjutnya, mereka meninggalkan tempat tersebut dengan cepat.
"Bertahanlah, Anggun. Aku akan bawa kamu ke rumah sakit secepatnya."
__ADS_1
Namun, belum sempat Anggun menjawab, bunyi dering ponsel milik Dedy terdengar menjadi penghalang. Dedy juga langsung menjawab panggilan itu. Karena dia tahu, orang yang sedang menghubunginya itu sedang sangat cemas saat ini.
"Ya, Dirl."
"Bagaimana? Apa sudah kamu temukan mereka? Apa yang terjadi dengan mereka sebenarnya?"
"Sudah. Aku sedang bersama mereka saat ini. Sepertinya, mereka mengalami kecelakaan di persimpangan."
"Ya Tuhan ... apa mereka baik-baik saja?"
"Kakakmu terluka parah. Sedangkan kakak ipar mu ... dia sepertinya sedang menahan kesakitan. Aku memang tidak melihat dia terluka. Tapi dia sedang sangat kesakitan sekarang. Aku tidak tahu apa penyebabnya."
"Tidak perlu pikirkan apa penyebabnya. Yang jelas, tolong selamatkan mereka berdua. Aku sudah mengatur rumah sakit yang harus kamu datangi. Datang ke rumah sakit Sahaja, di sana sudah ada dokter yang akan merawat kak Dion dan Anggun dengan baik."
"Kenapa harus ke sana? Rumah sakit itu terlalu jauh dari tempat kejadian."
"Ikuti saja apa yang aku katakan. Di sana ada dokter keluarga Prayoga yang sangat aku percaya. Juga ... aku merasa sedikit tidak enak hati untuk melepas mereka di rumah sakit terdekat dengan tempat kecelakaan mereka terjadi. Pokoknya, ikuti saja apa yang aku katakan. Tunggu aku datang tidak lama lagi."
"Terima kasih banyak, Dedy. Aku percayakan semuanya padamu."
Panggilan itu langsung berakhir. Mobil yang Anggun tumpangi bergerak cepat menuju rumah sakit yang Dirly katakan. Rumah sakit yang cukup jauh dari tempat kejadian. Dedy merasa sangat cemas, tapi dia tidak bisa mengabaikan apa yang Dirly katakan. Karena biasanya, firasat Dirly itu selalu benar.
"Bertahanlah, Anggun. Kita akan sampai tidak lama lagi."
"Aku ... sungguh tidak kuat lagi."
Pada akhirnya, Anggun terkulai lemah dan tak sadarkan diri di atas pangkuan Dedy. Dedy merasa sangat cemas, rasa cemas itu semakin bertambah saat dia melihat kaki Anggun yang terdapat darah segar.
__ADS_1
"Ya Tuhan ... apa yang terjadi dengan dia? Dari mana darah itu datang?"
Salah satu anak buah langsung berucap.
"Mas, mungkin dia keguguran."
"Apa! Yang benar saja kamu."
"Iya, Mas. Aku sudah punya istri. Aku pernah mengalami hal ini sebelumnya. Hal yang sama sekali tidak ingin aku ingat selama aku hidup. Keguguran yang menyebabkan istriku pergi untuk selama-lamanya."
"Apa!"
Kata-kata itu semakin membuat Dedy merasa panik. Dia jadi serba salah sekarang. Rumah sakit yang ingin dia datangi memang lumayan jauh, karena itu, ada rasa yang mengatakan kalau dia tidak bisa mengikuti apa yang Dirly katakan.
Tapi pada akhirnya, dia tetap mengikuti apa yang Dirly katakan. Datang ke rumah sakit Sahaja walau rumah sakit itu lumayan jauh.
"Maafkan aku, Anggun. Aku tidak ingin membuat Dirly merasa cemas dan bertambah cemas karena aku yang tidak mendengarkan apa yang dia katakan. Kita harus ke rumah sakit Sahaja apapun yang terjadi."
Kurang dari lima belas menit, akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai juga ke rumah sakit tersebut. Benar saja, ternyata, dokter susah bersiap-siap di sana. Mereka hanya tinggal memindahkan Anggun dan Dion dari mobil saja. Selanjutnya, semua langsung di ambil alih oleh dokter yang Dirly katakan sebelumnya.
Di sisi lain, Dirly sudah pun melakukan perjalanan dengan jet pribadi keluarga Prayoga. Hanya dia yang datang ke tanah air, istri juga orang tuanya tidak ikut. Mereka menunggu di luar negeri dengan perasaan sangat cemas.
Rencananya, Dion dan Anggun langsung akan Dirly pindahkan ke luar negeri secepatnya. Karena dia akan merawat Dion yang sedang terluka di tempatnya.
Sebenarnya, Dion sudah bercerita pada Dirly satu hari sebelum semua masalah itu terjadi. Dia sudah meminta bantuan dan kuasa atas keluarga Prayoga di serahkan padanya. Dia berniat melindungi Anggun dengan kuasa itu.
Dirly setuju dengan permintaan kakak angkatnya. Dia juga mendukung penuh keputusan itu, dengan harapan, hubungan mereka kembali seperti dulu lagi. Meski tidak ada ikatan darah, tapi tetap seperti keluarga kandung yang saling menyayangi satu sama lain. Karena sejak kecil, mereka di besarkan bersama-sama dengan kasih sayang yang sama.
__ADS_1
Tapi tidak di sangka, semuanya berubah tragis. Dirly yang sudah tahu bagaimana kehidupan kakak angkatnya di keluarga kandung itu, langsung menaruh rasa curiga yang besar.
Dia juga bertekad untuk menyelidiki semuanya. Segala yang terjadi pada kakak angkatnya tanpa ada satupun yang terlewatkan. Setelah itu, baru dia akan putuskan langkah apa yang akan dia ambil.