
"Aku tidak percaya mereka menghilang begitu saja. Cepat selidiki dengan benar. Jangan ada sedikitpun yang terlewatkan. Mereka tidak mungkin menghilang jika tidak ada penyebabnya."
"Itulah yang ingin saya katakan, Tuan. Mereka tidak akan menghilang begitu saja tanpa bantuan orang lain. Karena seperti apapun orang biasa yang bersembunyi, pasti tidak akan pernah bisa lolos dari kejaran kami biasanya."
Papa Dion terdiam. Dia tertegun dengan tangan yang menggenggam erat. Benarnya terus memikirkan semua kemungkinan yang mungkin bisa terjadi setelah kecelakaan itu.
"Apa mungkin, keluarga Prayoga yang membantu mereka untuk kabur dari aku?"
"Sepertinya, cukup mungkin tuan. Namun, keluarga Prayoga saat ini tidak ada di kota itu. Bahkan, tidak ada di tanah air kita ini. Mereka sekarang sedang ada di luar negeri."
"Nah, itu alasan yang sungguh mungkin. Mereka melarikan Dion keluar negeri saat ini."
"Tapi ... tidak ada tanda-tanda keberangkatan mereka, Tuan."
"Bodoh! Keluarga Prayoga itu bukan keluarga sembarangan. Mereka adalah keluarga terkaya di kota itu. Aku tidak mencari masalah dengan mereka, itu karena dua alasan. Yang pertama, karena mereka bukan keluarga biasa yang mudah aku gulingkan. Yang kedua, karena mereka adalah orang yang berjasa dalam merawat anakku."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk melawan keluarga Prayoga jika mereka benar-benar sedang menyembunyikan Tuan Dion, Tuan?"
"Entahlah. Aku juga tidak bisa berpikir hal itu sekarang. Tapi, pergi selidiki keluarga Prayoga yang ada di luar negeri saat ini. Cari tahu semuanya, apapun itu, jangan ada yang terlewatkan sedikitpun."
"Baik, tuan. Akan aku laksanakan."
Selesai berucap, anak buah itu langsung meninggalkan ruangan tersebut. Sedangkan papa Dion langsung mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.
Di sisi lain, tepatnya di perusahaan tempat Anggun bekerja. Saat ini, Siska sedang bicara dengan Damar. Setelah satu minggu Damar sibuk dengan urusan perusahaan di luar kota, sekarang dia baru bisa kembali.
Dia kaget ketika tahu, kalau saat ini, perusahaan itu tidak lagi Anggun yang menjabat sebagai pemimpin. Melainkan, bos besarnya sendiri yang datang turun tangan.
"Aku tidak percaya kalau Anggun pergi liburan tanpa mengabari aku terlebih dahulu, Sis." Damar bicara dengan suara yang penuh dengan kekecewaan.
"Yah, pak Damar. Mbak Anggun itu bukan pergi liburan, tapi, istirahat. Dia ambil cuti karena kehamilannya."
__ADS_1
"Apa! Anggun hamil?!"
Sontak, Siska langsung menatap Damar dengan tatapan bingung. Antara kaget, dengan tak percaya karena tanggapan Damar yang Siska anggap terlalu berlebihan barusan.
"Lah ... kenapa harus kaget gitu, pak? Mbak Anggun itu memang sedang hamil. Karena kehamilannya baru, ya dia harus istirahat."
"Tunggu! Jangan bilang kalo pak Damar gak tahu soal mbak Anggun yang sudah punya suami ya, Pak. Karena aku tidak akan percaya akan hal itu. Soalnya, mbak Anggun selalu memasang foto pernikahan mereka di ruangannya. Sampai sekarang foto itupun masih ada."
"Ya aku tahu kalau Anggun sudah punya suami. Yang tidak aku ketahui dan sangat-sangat tidak habis pikir itu, dia hamil sekarang. Kehamilannya itu lho yang buat aku kaget."
"Yah ... kenapa dengan kehamilannya mba Anggun, pak Damar? Ya wajar dia hamil, pak. Orang mbak Anggun punya suami kan ya."
"Aduh ... susah bicara dengan kamu ini, Siska. Bikin kesal saja."
"Yah ... kok bilangnya gitu sih, Pak? Saya bicara apa adanya kok. Malah pak Damar bilang bikin kesal. Ah, anda ada-ada saja, pak-pak."
Damar tidak menjawab lagi. Dia langsung ingin meninggalkan Siska dengan memutar tubuhnya. Namun, bunyi panggilan masuk menghentikan langkah Damar seketika.
Sepertinya, orang yang sedang menghubungi Damar sekarang, adalah orang yang tidak Damar harapkan. Terlihat sekali kalau wajah Damar saat melihat layar ponsel itu, dia langsung kesal.
Namun, Damar tetap menjawab panggilan itu.
"Halo, Om. Ada apa?" Damar langsung berucap cepat saat sambungan panggilan telah terhubung.
"Di mana kamu? Datang ke rumah sekarang juga! Penting!"
"Tidak bisa sekarang, om. Aku sedang ada di kota sebelah. Tidak bisa pulang .... "
"Jangan bikin aku kehilangan kendali, Damar. Aku hanya ingin bicara dengan kamu. Seharusnya, kamu tahu apa akibatnya jika kamu membantah."
"Aku sudah tahu sejak awal, Om. Tapi, aku tidak takut. Jika ada yang ingin om katakan, maka katakan saja sekarang. Jangan nunggu bertatap muka dulu."
__ADS_1
"Baik. Kamu sedang membangkang ternyata. Kalau begitu, jangan salahkan aku jika perusahaan keluargamu ada dalam masalah nantinya."
"Terserah om saja. Aku tidak akan takut dengan ancaman om ini."
Damar langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Hatinya yang kesal akibat kabar perginya Anggun, kini semakin dibuat kesal dengan obrolan antara dia dengan papa Dion yang selalu saja mengancamnya.
"Huh. Orang tua seperti apa dia sebenarnya? Pantas saja anaknya tidak betah di rumah."
"Tunggu! Anaknya ... itukan, Dion."
"Agh."
Damar langsung memutar tubuhnya kembali untuk bicara dengan Siska. Namun, Siska yang ingin dia ajak bicara, sudah tidak ada lagi di tempatnya.
"Hah. Kemana pula perginya gadis ini? Bisa-bisanya dia biarkan aku bicara sendiri," ucap Damar semakin bertambah kesal.
"Tuhan ... apa hari ini, semua orang yang ada disekitar aku bermaksud membuat hati ini kesal? Kalau begitu, yah ... aku terima."
Setelah berucap, Damar langsung meninggalkan perusahaan tersebut. Namun, saat dia baru saja masuk ke dalam mobil, ponselnya kembali berdering.
Dengan malas, Damar mengeluarkan lagi ponselnya. Nama yang ada di layar ponsel sedikit menarik hati Damar. Karena itu adalah papanya. Orang yang cukup jarang menghubungi ke nomor yang sekarang dia gunakan.
"Temui om mu, Damar! Jangan bikin ulah lagi. Papa tidak kuat menerima semua masalah yang sudah kamu buat."
Itulah yang papanya bicarakan saat panggilan terhubung. Damar pun tidak sempat menjawab, karena detik berikutnya, panggilan itu sudah tidak tersambung lagi.
"Aish. Ternyata benar, semua orang sedang bahagia-bahagianya bikin aku kesal hari ini."
Tidak punya pilihan lain, Damar langsung kembali ke kotanya untuk bertemu dengan papa Dion. Karena bertahan di kota ini, juga tidak akan ada gunanya. Karena orang yang ingin dia temui, juga tidak ada di kota ini sekarang.
Sepanjang perjalanan, Damar terus memikirkan ke mana Anggun berlibur. Dan, kenapa Anggun bisa hamil saat hubungan antara Anggun dengan suaminya tidak baik. Hal itu terus mengganggu Damar hingga dia sampai ke rumah yang ingin dia datangi.
__ADS_1
Di sana, dia langsung bertemu dengan Sisil. Perempuan itu sedang berada di teras rumah. Sepertinya, dia sedang ingin keluar.