
"Kau anak yang tidak tahu terima kasih. Harusnya kamu bersyukur karena kami sudah menemukanmu. Kamu sekarang sudah punya keluarga yang utuh. Bukan malah bicara yang tidak-tidak. Bahkan, semakin membuat buruk kesehatan istriku. Aku tidak akan tinggal diam jika kamu bersikap keterlaluan, Dion. Karier perempuan itu jadi taruhannya. Kau mengerti?"
"Sekarang, temui mama mu di kamarnya! Jangan pernah ungkit soal masa lalu kamu lagi di depannya. Dan juga, jangan pernah cari masalah lagi mulai dari sekarang. Ikuti semua yang mama mu katakan."
"Aku bukan anak kecil lagi. Kalian ingin mengekang aku dengan keras seperti aku hanya budak kalian saja. Aku punya keluarga sekarang. Aku punya istri. Kalian ingin aku menjauhi istriku, apa kalian benar-benar tidak punya perasaan?"
"Memangnya kamu punya pilihan lain, selain mengikuti apa yang kami inginkan? Nasib istrimu dan semua keluarga angkat mu ada di tangan aku, kau tahu itu?"
Dion terdiam sejenak. Bukan keluarga angkatnya yang dia cemaskan. Tapi Anggun. Karena dia yakin, tidak akan ada yang mampu merusak nama baik, juga kedudukan keluarga angkatnya. Namun jika Anggun yang jadi taruhan, dia tidak akan pernah bisa menerka.
Anggun yang berasal dari keluarga sederhana itu tidak akan mampu menerima masalah yang papanya buat. Karier yang sudah dia jalani selama ini, pasti akan mudah papanya rusak. Dan yang paling pentingnya adalah, keselamatan Anggun dan keluarganya akan jadi taruhan di tangan papanya saat ini.
"Sudah aku katakan kalau kamu tidak punya pilihan lain, Dion. Bersikaplah selayaknya anak penurut yang bisa mendengarkan apa saja yang orang tua kamu inginkan. Jika tidak, kamu pasti akan berada dalam masalah."
_____
Setelah rapat selesai, Anggun langsung memikirkan soal rencana yang bibi Ina katakan. Rencana untuk mengajak Dion pulang bertemu dengan orang tua angkatnya.
Tidak punya pikiran yang jernih akibat masalah berat yang dia jalani. Anggun memilih langsung menghubungi bi Ina untuk menanyakan apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Halo, Non Anggun." Terdengar suara lemah lembut keibuan dari bibi yang selama ini tinggal satu rumah dengannya.
"Bi. Lagi apa? Maaf aku ganggu bibi yang sedang sibuk."
"Gak papa, non. Bibi gak akan merasa terganggu sedikitpun kalo non Anggun yang menghubungi bibi."
"Oh ya. Ngomong-ngomong, ada ada nih non Anggun menghubungi bibi sekarang? Ada hal yang paling mendesak ya yang harus non bicarakan dengan bibi."
"Iya, bik. Aku ingin tanya soal rencana kita untuk bawa kak Dion pulang ke rumah mama. Apa bibi sudah punya caranya?"
"Bibi sudah punya kok, non. Tenang saja. Rencana ini bibi jamin akan berjalan sesuai yang kita inginkan."
__ADS_1
"Baguslah kalau gitu, bik. Aku bisa sedikit tenang. Karena barusan, mama nanya lagi padaku, kapan pastinya kak Dion datang."
"Kalau itu ... bibi juga belum bisa memastikannya, non Anggun. Semoga saja kita bisa membawa tuan Dion pulang dalam waktu dekat. Bibi juga kasihan sama nyonya besar yang merindukan tuan muda Dion."
"Iya, Bik. Ya sudah kalo gitu, kita lanjutkan pembicaraan ini di rumah saja. Aku akan melanjutkan pekerjaanku sekarang, bik."
"Iya, non."
Panggilan itu langsung berakhir. Anggun langsung melepas napas berat setelah dia memutuskan panggilan tersebut.
"Huh ... kapan beban berat ini selesai, Tuhan? Aku merasa cukup lelah sekarang. Aku ingin mengakhiri semua ini, tapi ... apa yang bi Ina katakan itu mungkin ada benarnya juga. Kalau aku menyerah, aku akan kalah tanpa membuat perlawanan sedikitpun. Tapi .... "
"Agh! Aku semakin merasa pusing saja sekarang. Tolong tuntun langkah ini, Tuhan. Aku tidak ingin salah dalam melangkah."
Anggun menutup wajahnya dengan kedua tangan. Terasa cukup berat beban yang dia pikul. Namun, dia sadar kalau dia tidak boleh menyerah. Dia harus tetap bertahan jika tidak ingin dijatuhkan seperti debu begitu saja.
***
"Bibi ... aku .... "
"Tolonglah carikan cara, tuan muda. Kasihan dua wanita yang sangat menyayangi tuan muda itu. Mereka sedang berada dalam masalah besar saat ini, tuan muda."
"Bi ... bibi tahu bagaimana keadaan aku, bukan? Bagaimana aku harus ke sana sekarang. Sedangkan aku juga sedang dalam masalah besar, bik."
"Jika sudah tidak punya cara sedikitpun. Minta izin saja secara langsung pada mereka, tuan muda. Mungkin saja, tuan muda bisa datang ke sini tanpa bikin masalah di sana."
"Aku tidak yakin cara itu akan berhasil. Tapi, aku akan mencobanya sebisa aku."
"Semangat berjuang, tuan muda. Aku yakin, tuan muda pasti akan bisa melewati masa sulit ini."
Karena saran dari bi Ina, Dion memaksakan diri untuk bicara dengan Sara. Perempuan itu adalah kunci segala masalah yang sedang dia hadapi. Jika perempuan itu setuju, maka semua yang ada dibelakangnya juga tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Dion datang ke kamar Sara. Perempuan itu masih diam di kamar setelah kejadian kemarin malam. Sepertinya, dia masih harus banyak-banyak istirahat karena kejadian kemarin malam itu.
"Mama."
"Ada apa, Ion? Tumben kamu datang ke kamar mama jam segini? Apa yang ingin kamu bicarakan dengan mama sekarang?"
"Aku minta maaf."
"Soal apa?"
"Kesalahan yang sudah aku perbuat pada mama kemarin malam itu."
"Tidak perlu dibicarakan lagi. Mama sudah tidak ingin membahasnya sekarang."
"Mama, aku boleh minta sesuatu pada mama gak sekarang?"
"Mau minta apa sih? Katakan saja! Jika mama bisa, maka mama akan berikan."
"Ma ... mama angkat sakit sekarang. Bisakah ... aku pulang untuk menjenguknya. Dia sangat ingin aku datang melihatnya, Ma. Karena bagaimanapun, mereka sudah membesarkan aku sejak kecil, bukan?"
Dion berusaha bersikap sangat lemah lembut. Sesungguhnya, apa yang dia bicarakan dan tingkah yang dia tunjukkan saat ini itu sangat bertentangan dengan hatinya.
Sementara Sara, dia yang mendengarkan ucapan Dion barusan, langsung menoleh ke arah Dion. Dia tatap wajah anaknya yang sedang terlihat sangat berharap dapat izin darinya sekarang.
Sara juga bukan perempuan yang terlalu keras. Hatinya mudah meluluh jika dia tidak di lawan dengan kekerasan.
"Huh .... Mama angkat mu sakit sekarang, Dion. Jika begitu, biarkan mama juga ikut dengan kamu ya."
"Papa tidak akan mengizinkan mama ikut, Ma. Karena mama harus banyak istirahat untuk waktu dekat ini, bukan? Perjalanan keluar kota akan membuat mana kelelahan. Jadi, aku tidak ingin ambil resiko itu untuk mama."
Sebisa mungkin Dion tetap bersikap tenang. Walau pada kenyataannya, dia sedang sangat ingin marah akibat orang tua kandungnya yang terlalu mengekang ini.
__ADS_1