
Seketika, papa Sisil langsung berlari untuk menghampiri istrinya. Sedangkan Sisil masih tetap mematung karena dia kaget bukan kepalang. Ketidaksengajaan dia membuat perempuan itu terluka. Hal itu sungguh sangat tidak dia sangka.
Papa Sisil langsung membawa tubuh istrinya ke pangkuan. Dia berusaha membangunkan istrinya yang sedang terluka. Dengan suara yang sangat panik, papa Sisil terus memanggil-manggil nama istrinya. Tapi sayang, perempuan itu masih tetap terkulai lemah dengan kepala yang terus mengeluarkan darah segar.
Menit berikutnya, papa Sisil yang marah, kini benar-benar terbakar emosi. Dia tatap Sisil yang terdiam itu dengan tatapan tajam seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
"Kau anak pungut yang tidak tahu diri! Berani-beraninya kau melukai istriku. Aku sendiri saja tidak pernah melakukan hal itu."
"Aa--ku ... anak ... anak pungut?" Sisil berucap dengan suara yang bergetar karena kaget, juga karena takut.
"Iya. Kau anak yang kamu pungut karena orang tuamu telah mati akibat kecelakaan. Sayangnya, kau sudah tidak ada gunanya lagi karena kau sudah berani menyentuh istriku. Aku akan membunuhmu sekarang juga!"
Suara papa Sisil menggelegar. Dia langsung bangun dari duduknya. Lalu, plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Sisil tanpa Sisil bisa menghindar.
Tidak hanya itu, laki-laki yang sudah terbakar api amarah itupun langsung memukul Sisil lagi dan lagi. Tubuh langsing itu sampai terjatuh ke lantai akibat pukulan demi pukulan yang mengenai wajah, perut, juga punggungnya.
Dari sudut bibir Sisil juga mengalir darah segara secara perlahan. Mata Sisil lebam akibat pukulan keras yang papanya layangkan.
Itu juga tidak cukup buat papanya. Seakan tidak ada kata puas, papanya terus memukul Sisil secara brutal.
Gadis lemah yang tidak bisa apa-apa itupun hanya bisa pasrah. Hingga pada akhirnya, dia melihat sebilah gunting yang ada di atas meja. Sisil berusaha menjangkau gunting tersebut dengan susah payah saat papanya mencekik keras lehernya untuk melenyapkan dia.
Usaha memang tidak akan mengkhianati hasil. Takdir juga berpihak padanya. Gunting berhasil dia dapatkan, juga dia genggam dengan baik.
Tidak akan membuang waktu lagi, Sisil langsung menancapkan gunting tersebut ke perut papanya. Seketika, laki-laki itu langsung meraung kesakitan. Cengkraman tangannya juga melonggar seketika.
__ADS_1
Tapi, Sisil yang marah juga tidak akan puas hanya dengan menancapkan satu tusukan saja. Dia langsung melakukannya lagi dan lagi sampai papanya tidak kuat untuk menahan dan ambruk ke lantai seketika.
Tragedi berdarah siang itu akhirnya usai setelah papanya jatuh ke lantai. Seiring papanya yang tidak bernapas lagi. Sisil pun melemah seketika.
Kakinya tidak kuat menahan beban berat tubuh. Dia pun ikut jatuh ke lantai saat itu juga. Dengan air mata yang mengalir perlahan, Sisil menatap sayu dua orang yang sedang terbaring di atas lantai saat ini.
Saat itu pula, bibi yang bekerja di rumah tersebut keluar dari kamarnya. Karena waktu istirahat yang dia punya sudah selesai. Si bibi yang melihat pemandangan itu kaget bukan kepalang. Tubuhnya seketika gemetaran akibat apa yang dia lihat saat ini.
Bibi tersebutpun jatuh terduduk tanpa bisa berkata apa-apa. Sisil yang menyadari keberadaan si bibi, langsung menoleh dengan lemah.
"Bibi." Sisil berucap pelan.
Panggilan itu membuat bibi merasa sangat takut. Dia berusaha masuk ke dalam untuk menghindar dari penglihatan Sisil.
"No--non ... non Si--Sil. Sa-saya ... ti--tidak me--melihatnya kok no--non."
Mendengar ucapan itu, si bibi langsung memunculkan kepalanya kembali. Dengan sikap yang masih tetap waspada, dia berusaha memastikan apa yang baru saja dia dengar.
"Non Sisil. Ini .... "
"Lakukan apa yang aku katakan, bik! Panggil polisi sekarang juga. Semuanya harus segera aku selesaikan."
Si bibi menuruti apa yang Sisil katakan. Tanpa mengurangi tingkat kewaspadaannya, dia masuk kembali ke dalam kamar. Tidak lupa dia kunci pintu agar semua kemungkinan bisa terelakkan.
Bibi tersebutpun langsung menghubungi polisi untuk melaporkan apa yang terjadi. Selesai melakukan tugasnya, dia tetap berdiam diri di dalam kamar tersebut sampai polisi datang.
__ADS_1
Bunyi sirene mobil polisi terdengar memecah keributan komplek elit tersebut. Para tetangga tentu saja ikut meramaikan untuk melunaskan rasa penasaran dalam hati mereka masing-masing.
Dua jasat yang sudah dipastikan tidak bernyawa itupun langsung di bawa ke rumah sakit untuk diotopsi. Sedangkan Sisil yang terlihat sekarat pun, ikut dibawa ke rumah sakit untuk diberi pengobatan.
Sementara si bibi juga dibawa sebagai saksi. Rumah mewah tersebut kini terlihat sedikit menyeramkan dengan garis polisi yang terpasang di mana-mana. Para tetangga pun sibuk dengan gosip yang sedang hangat menurut mereka saat ini.
Kabar buruk itupun langsung menyebar ke telinga mama dan papa Dion. Hal itu semakin memperburuk kondisi mama Dion yang sekarang memang sedang tidak baik.
***
Satu bulan kemudian. Pengadilan telah memutuskan hukuman seumur hidup penjara buat Sisil atas kesalahan yang dia lakukan. Hukuman itu dia dapatkan karena beberapa alasan.
Sekarang, dia tidak punya siapa-siapa selain bibi yang masih sering datang untuk mengunjunginya. Dari si bibi juga dia tahu sebuah fakta yang selama ini disembunyikan.
Ternyata, dia adalah anak dari sahabat papa dan mamanya saat ini. Kedua orang tua Sisil mati karena kecelakaan maut. Sisil yang masih berumur dua bulan pun di asuh orang orang tuanya karena mereka tidak bisa memiliki keturunan.
Kekayaan yang mereka punya, ternyata hanyalah pinjaman belaka. Semua itu karena hutang di beberapa tempat peminjaman uang. Makanya, kedua orang tua Sisil itu begitu menginginkan pernikahan Sisil dengan Dion. Itu semua karena mereka menginginkan harta agar hutang mereka bisa di lunas kan.
Sisil sekarang sudah tidak berminat untuk mengingat kehidupan masa lalu nya lagi. Dia seperti sudah kehilangan jiwanya setelah kejadian itu. Dia lebih mirip patung bernyawa. Bergerak, tapi tidak bicara sepatah katapun.
Sementara itu, Anggun kini telah datang kembali ke tanah air. Dia datang dengan wajah baru, meski terlihat sangat culun dengan kaca mata besar dan rambut terikat, tapi nama perusahaan yang dia bawa, adalah perusahaan terkenal di luar negeri.
*Sebelumnya.
"Gun, apa kamu sudah siap untuk memberikan pelajaran pada mertuamu?" tanya Dirly serius saat mereka sedang berada di ruang kerja Dirly.
__ADS_1
"Tentu saja. Aku sudah sangat siap. Bahkan, sangat tidak sabar lagi untuk bergerak."
"Bagus kalau gitu. Besok, kamu sudah bisa berangkat kembali ke tanah air. Kamu tidak perlu takut, ada aku di belakangmu. Dan, ada semua keluarga yang sedang mendukung kamu sekarang."