Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu

Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu
Part *43


__ADS_3

Di sana, dia langsung bertemu dengan Sisil. Perempuan itu sedang berada di teras rumah. Sepertinya, dia sedang ingin keluar.


"Kamu? Sepertinya ... rajin banget kamu datang ke sini yah. Usaha terus ... pantang mundur," ucap Damar dengan nada menghina.


Sisil memasang wajah kesal. Dia dan Damar memang tidak pernah akur selama ini. Karena Damar, tidak pernah setuju kalau Sisil menjadi bagian dari keluarga omnya.


"Kamu ya ... gak pernah bosan-bosannya ganggu hidup aku. Apa kamu gak ada kerjaan lain, Tuan muda Damar?"


"Oh, tunggu! Aku lupa mengatakan kalau aku tidak datang terus ke sini. Tapi, aku sudah tinggal di sini sekarang."


"Hah? Kamu sudah tinggal di sini? Yang benar saja, mbak Sisil alias sisir rusak. Kamu tinggal di sini sebagai apa sih ngomong-ngomong. Sebagai pembantu ya."


"Damar! Jaga bicara kamu ya. Jangan bicara seenaknya seperti itu. Aku tinggal di sini juga bukan karena aku yang menginginkan. Tapi, karena om dan tante yang meminta. Itu juga karena ulah Dion. Dia yang sudah merusak kehormatan aku sebagai perempuan."


Mendengar kata-kata yang Sisil ucapkan barusan. Damar langsung tertawa lepas. Hal itu membuat Sisil semakin kesal, juga merasa sangat jengkel dan penasaran dengan Damar.


"Dion merusak kamu, Sisir rusak? Ah, yang benar saja kamu, Sir. Aku tidak percaya kalau Dion akan melakukan hal itu. Karena Dion sudah punya istri, mana mungkin dia akan tertarik padamu yang jelas-jelas tidak bisa dibandingkan dengan istrinya yang cantik juga baik itu."


"Cukup, Damar! Jangan banding-bandingkan antara aku dengan perempuan itu. Kami jelas tidak bisa di bandingkan."


"Ya, kamu benar. Kalian memang tidak sebanding. Dia cantik, kamu Sisir rusak. Dan, tingkah lakunya jelas berbeda dari kamu yang sungguh tidak punya moral dan tidak tahu malu. Demi laki-laki, bisa-bisanya kamu menjual harga dirimu sebagai perempuan. Benar-benar tidak punya malu."


"Kau ... Damar! Kau akan tahu apa akibatnya kelak. Ingat saja hari ini. Aku akan balas kamu dengan balasan yang .... "


"Ah, silahkan-silahkan. Aku tunggu balasan dari kamu mbak Sisir rusak." Damar berucap sambil tersenyum.


Saat dia ingin beranjak meninggalkan Sisil, dia seperti mengingat sesuatu. Hal itu membuat Damar menahan langkah kakinya.

__ADS_1


"Oh iya ada satu lagi yang ingin aku katakan. Malam itu, kamu tidak melakukan apa-apa dengan Dion. Karena sebelum kamu melakukan hal menjijikan yang sungguh tidak bermoral, teruntuk seorang wanita seperti kamu. Aku sudah menggagalkan rencana busuk mu itu, bukan?"


"Mm ... sampai kamu dibawa ke kantor polisi dan di tahan di sana semalaman. Aku lupa menanyakan padamu kemarin, apakah enak tinggal di kantor polisi, mbak Sisir rusak?"


Mata Sisil melebar karena kaget sekaligus tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Sungguh, itu adalah hal yang paling mengangetkan untuknya. Dia tidak menyangka, kalau rencananya yang gagal malam itu adalah ulah Damar. Sisil menggenggam erat tangannya untuk meredam amarah.


"Jadi, semua yang terjadi malam itu adalah ulah kamu, Damar?"


"Mm ... bisa di bilang seperti itu. Kenapa? Kaget kamu ya?"


"Sebenarnya, aku ingin melihat kamu pagi itu. Tapi sayangnya, tugas keluar kota dengan mendadak membuat aku tidak bisa menemui kamu, Sil. Sayang sekali."


"Kenapa? Kenapa kamu melakukan itu padaku, Damar. Padahal seperti, kita berada di jalur yang sama. Kamu inginkan Anggun, sedangkan aku inginkan Dion. Jika kita bekerja sama, pasti semuanya akan berjalan dengan lancar. Kita sama-sama bisa memiliki orang yang kita cintai."


"Sayangnya, aku tidak tertarik untuk bekerja sama dengan kamu. Karena kamu adalah Sisir rusak. Mana ada yang mau bekerja sama, dengan sisir rusak, Sir."


"Kamu .... "


"Ah, maaf aku lupa. Kau tidak akan mengerti soal cinta. Karena kau bukan manusia normal pada umumnya," ucap Damar dengan senyum yang penuh dengan ejekan.


Selanjutnya, Damar langsung beranjak meninggalkan Sisil sendirian. Dia masuk ke dalam dengan langkah besar. Sedangkan Sisil, terdiam tanpa kata juga tidak bergerak sama sekali.


'Apa yang dia katakan? Aku hidup penuh cinta. Tidak, bukan itu maksudku. Bukan itu yang ingin aku katakan. Aku tidak butuh cinta. Karena cinta itu tidak nyata. Tidak perlu saling mencintai. Karena pada akhirnya, cinta juga akan menyiksa jiwa dan raga.'


Sisil menggenggam erat kedua tangannya. Seketika, bayangan masa lalu muncul secara perlahan memenuhi ingatan Sisil yang sedang rapuh.


Waktu itu, dia sangat mengharapkan cinta. Berjuang dengan sekuat tenaga untuk memenangkan hati orang yang dia cintai. Dan, pada akhirnya, usaha yang dia lakukan tidak sia-sia. Orang yang dia cintai membalas cintanya.

__ADS_1


Hal yang sangat membahagiakan untuk Sisil saat cintanya terbalaskan. Dia berikan semua yang terbaik untuk laki-laki yang dia cinta. Waktunya, kasih sayangnya, cinta tulusnya, bahkan, harta benda yang dia miliki, dia berikan pada laki-laki itu dengan tulus.


Sayang seribu kali sayang. Ternyata, dia hanya dijadikan mainan oleh laki-laki itu. Sisil remaja yang begitu malang. Di khianati oleh orang yang paling dia cintai. Hal itulah yang mengubah dia jadi seperti saat ini.


Tidak percaya cinta. Tidak inginkan cinta. Dan, bahkan sekarang hanya menjadi budak harta. Mengejar laki-laki hanya karena hartanya saja. Tidak karena cinta.


"Aku tidak butuh cinta. Ya-ya ya. Aku tidak butuh cinta," ucap Sisil sambil menyeka air matanya yang jatuh perlahan karena ingatan akan masa lalu sebelumnya.


****


"Anggun. Ada yang ingin bertemu dengan kamu, Nak."


"Siapa, Ma?" Anggun berucap sambil keluar dari kamar Dion.


"Ada deh. Ayo temui ikut mama sekarang juga."


"Ah, iya deh. Tunggu sebentar," ucap Anggun sambil menutup pintu ruangan tersebut.


Anggun berjalan mengikuti langkah mama mertuanya. Mereka menuju ruang tamu kediaman Prayoga saat ini.


Saat sampai di ruang tamu, mata Anggun membulat ketika melihat orang yang ada di ruang tamu sekarang. Bibir Anggun terasa bergetar, tapi tidak bisa berucap sepatah katapun. Hanya air mata yang jatuh dengan perlahan melintasi pipinya yang putih.


"Anggun."


"Kak Tina .... "


Keduanya langsung berpelukan. Saling melepas kerinduan satu sama lain. Orang yang ada di ruang tamu hanya melihat dengan tatapan bahagia saja. Tidak ingin merusak kebahagiaan adik dan kakak yang mungkin sudah lama tidak bertemu.

__ADS_1


"Aku kangen kak Tina, kak. Akhirnya, kamu datang ke sini juga."


"Tunggu! Kamu .... " Anggun langsung melepas pelukannya saat dia ingat, kakaknya yang sakit jiwa, itu terlihat seperti orang normal pada umumnya.


__ADS_2