
"Tunggu! Kamu .... " Anggun langsung melepas pelukannya saat dia ingat, kakaknya yang sakit jiwa, itu terlihat seperti orang normal pada umumnya.
"Anggun. Aku minta maaf." Tina berucap lirih. Dia langsung menundukkan wajahnya. Guratan rasa bersalah, tergambar dengan sangat jelas di wajah Tina saat ini.
Anggun langsung memegang kedua bahu kakaknya dengan lembut.
"Maaf? Untuk apa?"
Tidak menjawab apa yang Anggun tanyakan, Tina langsung saja menghambur kembali ke dalam pelukan Anggun dengan cepat.
"Untuk aku yang berusaha lari dari kenyataan. Aku .... "
"Kak. Kamu ... baik-baik saja? Aku tidak perlu kata maaf darimu, Kak. Karena kamu sama sekali tidak bersalah. Aku tidak akan menyalahkan kamu. Tapi, tolong perjelas kan semuanya. Aku sungguh masih merasa bingung dengan apa yang aku lihat saat ini."
Pelukan Tina lepaskan. Dia pun menyeka air mata yang tumpah di pipi saat ini.
"Aku akan mengatakan semuanya. Tapi tolong, jangan marah."
"Tidak akan."
Tina pun langsung menjelaskan semua yang terjadi pada adiknya. Meskipun perasaan was-was sedang menguasai hati, tapi dia tetap memaksakan untuk bercerita.
Sebenarnya, dia memang tidak mengalami gangguan jiwa sedikitpun. Dia masih waras, bahkan, sangat waras. Hanya saja, dia tidak ingin Anggun terbebani dengan kehadiran dirinya. Karena dia tahu, adiknya masih harus mengejar mimpi besar yang adiknya punya.
Juga ... Tina ingin adiknya menjadikan dirinya sebagai pelajaran agar tidak mudah jatuh cinta ke depannya. Untuk itu, dia mengambil jalan salah seperti yang sudah dia lakukan. Berpura-pura gila, dan tinggal di rumah sakit jiwa.
"Kenapa kamu berpikir terlalu dangkal seperti itu, kak? Itu bukannya ingin memberi pelajaran, tapi sama saja dengan kamu yang malah menyiksa aku. Kau tahu, setiap aku selesai mengunjungi kamu, aku selalu merasa bersalah dan kasihan padamu. Kamu yang terbebani dengan masalah, sampai kena gangguan jiwa. Ini sangat menyakitkan buat aku."
"Maafkan aku, Gun. Aku tahu aku salah. Aku ...."
Tina tidak biasa melanjutkan ucapannya lagi. Karena sekarang, dia menangis keras menyesali apa yang sudah dia lakukan selama ini.
__ADS_1
"Anggun. Semua orang punya pemikirannya
sendiri, Nak. Termasuk kakak kamu. Mungkin, saat itu, kakakmu berpikir kalau jalan yang dia ambil adalah jalan yang terbaik."
Mama mertuanya bicara dengan lembut sambil menyentuh kedua bahu Anggun. Sentuhan itu langsung membuat Anggun membenamkan dirinya ke dada wanita yang sudah dia anggap sebagai mama kandungnya sendiri.
"Yang terpenting sekarang adalah, dia sudah kembali. Kalian harus bersaudara harus saling mendukung, anakku."
"Iya, Ma. Aku tidak marah pada kak Tina. Hanya saja, aku tidak habis pikir dengan apa yang susah terjadi."
"Mama tahu. Tapi, belajarlah melupakan masa lalu. Ayo tata masa depan agar lebih baik lagi. Meskipun semua itu gampang untuk diucapkan, tapi sulit untuk dilakukan. Tapi mama yakin, kamu mampu melakukannya."
Kata-kata itu seperti sebuah pemacu semangat untuk Anggun. Dia bangun dari pelukan mama mertuanya, lalu beralih memeluk kakak kandungnya.
"Anggun."
"Kak, seperti yang mama katakan. Ayo lupakan masa lalu, dan tata masa depan. Jangan ingat masa lalu kita lagi. Meski itu tidak mudah, tapi, mari sama-sama membantu, kak Tina."
Semua yang ada di sana, ikut merasakan kebahagiaan yang kakak beradik itu rasakan. Tersenyum haru, dengan hati yang di penuhi kebahagiaan.
Sementara itu, Damar sedang bicara dengan omnya. Terlihat suasana tidak baik di dalam ruangan tersebut.
"Cepat katakan padaku, Damar! Kamu pasti tahu di mana keberadaan Anggun dan Dion."
"Hahaha .... Om, jika aku tahu di mana Anggun, mana mungkin aku akan bicarakan pada om. Ah, sayangnya, aku tidak tahu. Sedangkan om sebagai papanya saja tidak tahu, apa lagi aku yang bukan siapa-siapanya ini."
"Jangan main-main, Damar! Aku tidak sedang bercanda."
"Aku juga tidak bercanda, Om. Jangan lupakan satu hal. Aku baru kembali dari luar kota, hanya dapat kabar kalau Anggun sedang berlibur karena kehamilannya. Mungkin Dion membawa dia berlibur untuk menjauhkan calon anaknya dari om."
"Apa! Ha--hamil? Siapa yang hamil?"
__ADS_1
"Siapa lagi kalau bukan Anggun, om? Masa iya, Dion yang hamil. Kan gak mungkin."
"Anak tidak tahu di untung kamu Damar. Aku bicara serius padamu, tapi kamu malah bercanda terus terusan."
"Aku juga serius, Om. Ah, sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Aku harus segera pulang. Jika om tidak percaya dengan apa yang aku katakan, itu hak om. Tapi, semua yang aku katakan itulah yang sebenarnya."
"Tidak. Dion dan Anggun tidak mungkin berlibur. Karena kece .... "
Seketika, ucapan papa Dion terhenti. Damar yang mendengarkan ucapan itu terdiam dengan wajah penasaran.
"Apa, Om? Kece apa?"
"Tidak ada apa-apa. Pergi sekarang karena aku ingin sendirian."
"Ah, iyalah."
Damar langsung meninggalkan rumah omnya. Tanpa banyak berkomentar, juga tidak memikirkan apa yang omnya katakan lagi. Bagi Damar, dia memang tidak ingin berhadapan dengan omnya terlalu lama. Karena dia pikir, tidak akan ada untungnya.
Papa Dion semakin dibuat pusing dengan semua masalah yang terjadi. Damar yang tidak bisa dia kendalikan, Dion yang tak kunjung pulang, bahkan tidak tahu di mana keberadaannya sampai detik ini. Dan istri yang berada di rumah sakit, entah kapan akan pulang ke rumah. Semuanya membuat papa Dion merasa sangat pusing.
Sementara itu, Sisil juga dilanda masalah. Karena Damar tidak kunjung pulang, dia jadi bahan omongan orang sekitar. Para tetangga sibuk membicarakan Sisil yang tidak akan pernah di nikahkan oleh tuan muda kaya yang mamanya ceritakan itu.
Hal itu membuat mamanya menjadi serba salah dan selalu meradang. Seperti siang ini, dia meminta Sisil pulang untuk membicarakan soal pernikahan antara Sisil dan Dion.
"Dion itu masih belum pulang, Ma. Bagaimana aku mau menikah? Orangnya saja gak ada. Bahkan, gak tahu di mana posisinya saat ini."
"Sialan! Bagaimana ini? Aku sudah gak tahan sama gunjingan orang yang mengatakan kamu. Kuping ini sudah sangat sakit rasanya, tahu gak?"
"Ya siapa suruh mama bicara ke orang-orang soal aku yang ingin menikah dengan Dion? Kan, mama sendiri yang kena batunya."
"Anak kurang ajar kamu, Sisil. Orang tua sendiri kamu sorakan. Dasar tidak punya sopan santu jadi anak."
__ADS_1
"Ya harus gimana lagi, Ma? Aku juga tidak tahu harus apa? Sekarang, yang malu bukan cuma mama, tapi aku juga. Aku malu karena omongan tetangga itu. Setiap kali ngelihat aku, mereka selalu menatap dengan tatapan yang tidak enak dilihat."