
Dua bulan berlalu. Sejak kejadian itu, Anggun tidak pernah menyinggung soal anak lagi. Hal itu bukannya membuat Dion semakin tenang. Eh, tapi malah membuat hati Dion semakin gelisah.
Ketika Anggun berwajah pucat, Dion berusaha keras untuk membawanya ke dokter. Tapi, Anggun malah tidak ingin pergi. Alasannya, dia hanya masuk angin biasa. Tidak ingin datang ke rumah sakit karena tidak ingin bertemu dokter yang pada akhirnya akan membuat dia merasa kecewa lagi dan lagi.
"Yank. Ke dokter juga bukan hanya untuk cek kehamilan saja, bukan? Tapi, untuk periksa keadaan kamu yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja sekarang." Dion berusaha membujuk Anggun yang sekarang sudah jadi anti dokter sejak beberapa kali dia gagal saat datang untuk memeriksa kehamilan.
"Tetap aja, kak. Aku gak suka datang ke dokter. Percayalah, aku baik-baik saja sekarang, kak Dion. Gak perlu ke dokter sama sekali."
Beberapa hari setelah obrolan itu, Anggun dan Dion datang ke rumah mama mereka untuk makan bersama. Anggun sepertinya, semakin kelihatan tidak baik-baik saja. Wajahnya yang pucat, kini di tambah sering merasa capek, membuat hati Dion semakin gelisah.
Bukan hanya Dion yang melihat Anggun yang tidak baik-baik saja itu. Mama dan papa mertuanya juga merasakan hal yang sama.
Saat tiba di rumah orang tua mereka, sang mama langsung menanyakan keadaan Anggun dengan penuh rasa cemas.
"Kamu baik-baik saja, Gun? Wajah kamu agak pucat, Nak. Udah berobat belum?"
"Aku baik-baik saja, Ma. Gak perlu berobat kok. Aku memang agak kurang enak badan. Tapi, gak papa kok. Udah biasa."
"Kamu yakin, Gun?" tanya papa mertuanya pula.
"Yakin, Pa. Aku emang gak papa. Mungkin karena kurang tidur, dan ... sedang lapar aja sekarang. Makanya agak pucat gini."
"Ya udah kalo gitu, ayo langsung makan aja."
__ADS_1
Mereka pun langsung menuju meja makan setelah ajakan dari mama mertua tadi. Sampai di meja makan, Anggun langsung duduk tepat membelakangi dapur. Hal itu membuat bibi yang mengangkat makanan melewati Anggun untuk meletakkan makanan ke atas meja.
"Nah, Gun. Hari ini, mama masakan sayur tumis kesukaan kamu. Kamu pasti suka," ucap mama mertua saat bibi yang datang dari dapur muncul dengan mangkok kaca di tangannya.
"Sayur tumis, Ma?" Anggun berucap senang.
Namun, ketika dia ingin mencicipi sayur yang bibi bawakan, dia tiba-tiba merasa tidak enak di bagian perutnya. Serasa, aroma sayur itu masuk dan mengacak-acak isi perut sampai dia tidak kuat untuk tetap mencium bau sayur tumis itu.
Semua mata yang ada di sana langsung menatap sikap tak biasa dari Anggun saat ini. Dion yang duduk di samping istrinya, langsung bangun untuk memperhatikan istrinya.
"Ada apa, Sayang? Apa yang terjadi?"
"Bawa pergi sayurnya, kak. Aku gak kuat mencium bau sayur ini. Sangat-sangat tidak enak sampai bikin aku sangat mual."
"Anggun. Kamu hamil, Nak?" ucap mama dengan wajah yang sangat bahagia sambil bangun dari duduknya untuk menghampiri Anggun.
"Nggak, Ma. Mana mungkin aku hamil. Toh aku .... "
"Gun, mama udah pernah punya anak lho. Mama pernah muda, sama seperti kamu."
"Mm ... gini aja deh. Mama sarankan kamu ke dokter untuk membuktikan soal apa yang mama katakan barusan."
"Tapi, Ma .... "
__ADS_1
"Lupakan soal kamu yang pernah gagal berulang kali. Mama yakin kamu adalah perempuan yang sangat kuat dan tidak akan pernah mengenal kata menyerah. Ayo, Nak. Bangkit dari jatuh mu, dan coba lagi."
Karena kata-kata itu, Anggun berusaha untuk menegarkan hati. Merekapun langsung meninggalkan meja makan untuk pergi ke dokter sama-sama.
Tidak ada obrolan yang terucap selama perjalanan, hingga akhirnya, mereka tiba di rumah sakit, dan menunggu giliran untuk konsultasi. Anggun yang di temani mama mertua terlihat sedikit tegang. Sedangkan Dion dan papanya menunggu di luar juga dengan wajah agak tenang.
'Jika kali ini gagal lagi. Aku gak tahu akan bicara apa untuk menenangkan hati istriku yang pastinya akan sangat kecewa sekali, Tuhan. Tolonglah aku. Jangan sampai dia kecewa lagi kali ini. Aku gak sanggup melihat kekecewaannya itu.' Dion membatin dalam penantian.
Ketika penantian itu tiba. Hati Dion semakin cemas. Dia sangat gelisah sampai tidak bisa duduk. Papanya yang tahu akan apa yang Dion rasakan, segera bangun, lalu menepuk pundak Dion dengan pelan.
"Tenang. Semoga saja kali ini tebakan mama kamu benar. Kalian bisa punya anak lagi. Dan kebahagiaan Anggun pasti akan kembali lagi."
"Bagaimana jika tidak hamil, Pa? Itu yang aku takutkan. Aku gak ingin Anggun kecewa lagi untuk yang kesekian kali."
Belum sempat papanya menjawab. Pintu ruangan tersebut terbuka. Kedua pasang mata tentu saja langsung memfokuskan pandangan mereka ke arah orang yang keluar dari pintu tersebut dengan tatapan penuh tanda tanya juga rasa khawatir.
Anggun keluar dari pintu tersebut dengan wajah murung. Hal itu sontak membuat Dion yang cemas semakin cemas saja.
Dion langsung berjalan cepat untuk menyambut sang istri. Kemudian, langsung memeluk tubuh langsing Anggun dengan penuh kasih sayang dan kehangatan.
"Sabar sayang. Kamu tidak perlu kecewa. Karena seperti yang sudah kamu katakan sebelumnya padaku, jika kita masih belum bisa punya anak, maka kamu masih bisa manja-manjaan sepuasnya dengan aku, bukan?"
"Ada hikmahnya, kan Sayang," ucap Dion lagi sambil melepas pelukan dari Anggun, dan berpindah dengan memegang kedua pipi Anggun pula.
__ADS_1
"Apa maksud kamu, Kak? Kamu beneran gak ingin punya anak dari aku? Kamu beneran gak mau punya anak?"
"Sayang, bukan aku gak mau. Tuhan yang belum percaya dengan kita. Jadi, kamu tidak perlu sedih ya Sayang. Tidak perlu cemberut, dan jangan sampai jadi buah pikiran yang bisa menganggu kamu."