
Sisil mulai marah. Dia kesal dengan mamanya yang dia anggap sebagai pemicu masalah yang sudah ada, malah semakin menjadi besar saja.
"Hei! Kenapa malah nyalahin mama, ha! Kamu tuh yang salah. Coba aja kamu itu bisa mengikat Dion. Buat dia jatuh cinta pada kamu. Kan gak akan jadi seperti ini masalahnya. Dia gak akan kabur dan menghilang tanpa jejak seperti saat ini."
"Aduh ... ada apa sih ini ribut-ribut? Untung rumah kita besar, jadi gak akan terdengar oleh tetangga. Coba kecil, mungkin udah ada tuh tetangga yang datang."
Papa Sisil yang baru pulang dari kantor untuk makan siang. Langsung angkat bicara saat dia mendengar obrolan ibu dan anak tersebut.
"Ini, Pa. Si Sisil bikin kesal aja. Dia yang gak bisa dapatin Dion, malah nyalahin mama segala lagi."
"Gimana aku gak nyalahin mama. Mama yang mulai duluan. Enak aja nyalahin aku soal aku yang tidak kunjung menikah. Orang Dion nya yang gak punya mata. Itu bukan salah aku dong."
"Aduh. Udah deh. Kalian ini ibu dan anak sama saja. Tidak ingin mengalah sedikitpun."
"Untuk kamu Sisil. Apa Dion masih belum ada kabar sedikitpun?"
"Belum, Pa."
"Ya ampun. Seperti apa sih usaha keluarganya? Buat nyari anak saja tidak bisa. Katanya keluarga kaya raya. Punya banyak jaringan yang bisa di suruh-suruh. Ini, nyari satu orang saja nggak bisa. Memang ya, mereka gak niat buat nyari Dion," ucap papa Sisil panjang lebar
"Bukannya gak niat, Pa. Mereka sedang berusaha keras buat nyari kok. Apa lagi, mamanya kak Dion itu sedang sakit akibat anaknya yang tak kunjung pulang. Otomatis, mereka sedang gencar-gencarnya buat nyari." Sisil berucap serius. Sepertinya, dia sedang membela keluarga Dion saat ini.
Papanya yang mendengarkan ucapan Sisil barusan, langsung menatap serius wajah anaknya. Sepertinya, papa Sisil baru ingat dengan kabar masuknya mama Dion ke rumah sakit. Dan sampai sekarang, orang tua itu masih belum keluar dari rumah sakit tersebut.
"Oh iya ya. Mama Dion ada di rumah sakit saat ini. Perempuan penyakitan itu syok banget ya Sil saat tahu anaknya gak pulang-pulang sampai sekarang?"
"Ya ... begitu deh. Syok berat lah pastinya. Secara, dia itukan baru ketemu anaknya belum juga genap dua tahun kan?"
__ADS_1
"Mm ... papa sepertinya punya ide bagus deh, Sil."
"Ide bagus apa, Pa?"
"Iya. Ide apa sih, Pa?" tanya mama Sisil dengan wajah yang tak kalah penasaran dari anaknya.
"Mama Dion sakit parah, bukan?"
"Iya." Sisil menjawab dengan mengangguk sambil berucap.
"Ya udah tahu mama si Dion sakit, Pa? Masa kamu tanyakan lagi sih?"
"Papa bertanya hanya untuk memastikan saja, Ma. Karena papa punya ide bagus jika perempuan itu sakit gak sembuh-sembuh. Kita tidak perlu menunggu Dion kembali untuk merebut harta keluarga itu. Kita bisa menikahkan Sisil dengan papanya Dion saja."
"Apa!" Sisil kaget bukan kepalang. Sangking kagetnya dia. Dia sampai bangun dari duduknya dengan cepat.
"Hei! Biasa aja kali tanggapan kamu itu, Sil. Ide papa kamu ini sangat bagus. Tahu gak?"
"Ya emang kita butuh harta mereka. Hanya hartanya saja, bukan? Dengan siapapun kamu menikah itu akan sama saja. Dengan anak, atau papa. Yang penting, hak warisan harta akan jatuh ke tangan kita." Mama Sisil bicara dengan santai.
"Betul apa yang mama kamu katakan. Yang kita butuhkan itu harta mereka, Sil. Bukan orangnya, kan? Lagian, jika kamu menikah dengan papanya Dion, itu akan semakin bagus. Toh kita akan dapatkan harta tanpa harus menunggu warisan jatuh ke tangan Dion lagi bukan?"
Sisil langsung menggelengkan kepala. Dia tatap kedua manusia yang bergelar orang tuanya ini dengan air mata yang mengalir deras.
"Kalian ... ini sebenarnya orang tua aku atau bukan? Kenapa kalian begitu mementingkan harta dari pada aku?"
"Kenapa jika kami lebih mementingkan harta dari pada kamu, hm? Sudah sewajarnya kamu membalas jasa dengan memberikan harta untuk kami, bukan? Kau sudah kami rawat dengan sepenuh hati sehingga sampai bisa seperti ini."
__ADS_1
"Kalian merawat aku dengan sepenuh hati? Ya itu karena kalian ingin aku membalas jasa, bukan?"
"Kalau iya, kenapa? Ada yang salah dengan itu?" tanya mamanya dengan mantap.
Sisil benar-benar tak habis pikir. Dia rasanya sudah tidak kuat lagi ada di tengah-tengah dua manusia yang hanya bertopeng kan manusia, sedangkan hati mereka, entah apa.
Sisil berniat kabur saja sekarang. Tapi sayang, ketika dia ingin pergi. Papanya malah langsung berlari ke arah pintu.
"Cepat kunci pintunya, Pa. Jangan biarkan dia kabur dari kita. Kita sudah susah payah menjaga dia sejak kecil. Jika dia kabur, maka kita tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa. Sia-sia saja jerih payahku selama ini," ucap mama Sisil lantang.
Papanya melajukan apa yang mamanya katakan. Mengunci pintu dengan cepat, sehingga Sisil tidak bisa keluar dari pintu utama. Tapi, Sisil tidak ingin tinggal diam. Dia akan berusaha kabur dari pintu yang lainnya.
Saat dia ingin lari, tangannya di tangkap dengan cepat oleh si mama. Sisil kaget bukan kepalang. Dia berusaha keras untuk melepaskan dirinya dari cengkraman papanya.
"Lepaskan aku, Ma! Aku tidak akan jadi budak harta kalian lagi."
"Kau tidak akan bisa lepas. Aku sudah susah payah membesarkan kamu untuk menjadi senjata perebut harta orang. Ya mana mungkin aku akan membiarkan kamu lepas."
"Kalian ini orang tua aku atau bukan sih?"
"Kenapa itu melulu yang kamu tanyakan? Apa kamu benar-benar ingin tahu siapa kami yang sesungguhnya?"
"Ma, sudahlah. Tidak perlu mengatakan hal itu lagi. Cepat bawa dia ke kamar sekarang. Jangan biarkan dia memberontak, apalagi kabur dari rumah ini. Selagi rencana kita masih belum terlaksana, maka dia tidak boleh pergi."
Mendengar ucapan itu, Sisil semakin kuat berusaha untuk membebaskan diri. Dan akhirnya, dia bisa mengumpul semua kekuatan untuk melakukan hal yang bisa dia pikirkan.
Sisil langsung mendorong tubuh mamanya yang sedang memegang tangannya. Dorongan keras itu membuat tubuh si mama yang tidak siap terhuyung seketika. Malangnya, tubuh itu langsung menabrak sanding meja yang ada di dekat mereka.
__ADS_1
Brak! Bunyi kepala mama Sisil yang bertabrakan dengan sanding meja. Seketika, perempuan itu terjatuh dengan kepala yang langsung mengalirkan darah segar seketika.
"Mama!" Papa Sisil berteriak keras saat melihat istrinya terluka. Sementara Sisil terdiam mematung dengan apa yang dia lihat saat ini.