
"Apa yang terjadi, Sil? Kenapa kamu bisa sampai bikin ulah besar seperti ini, ha? Apa kamu sudah tidak punya akal sehatmu lagi sekarang?" Mama Sisil membentak perempuan itu dengan kesal.
"Anakmu bukan hanya sudah tidak punya akal sehatnya lagi. Tapi dia sudah gila sekarang. Lihatlah seperti apa ulahnya yang tidak memikirkan terlebih dahulu apa akibat dari apa yang sudah dia perbuat. Anak tidak tahu malu. Dia benar-benar sudah merusak nama baik keluarga sekarang." Papanya pula angkat bicara.
"Eh, enak saja kamu bilang anak aku. Yang benar saja kamu Pa, kalo ngomong. Jika tidak ada kamu, maka tidak akan ada Sisil sekarang. Paham!"
"Ya emang. Tapi dia bikin malu ini karena didikan kamu yang tidak becus dalam mendidik anak. Dia jadi sangat tidak tahu malu seperti sekarang, bukan?"
"Cukup! Kalian berdua bukannya bantu aku, tapi malah memperdebatkan aku yang bikin masalah. Kalian lupa? Aku jadi seperti ini karena kalian. Kalian yang maniak akan harta. Tidak bisa melihat orang yang kaya sedikit, langsung minta aku jadi bagian dari mereka. Apa kalian tidak tahu, apa yang aku rasakan sebenarnya?"
Sisil sekarang benar-benar meluapkan rasa kesalnya. Dia langsung bicara apa yang ada dalam hatinya saat ini. Mengingat, semua itu sudah dia simpan sejak lama, setelah kejadian ini, dia tidak bisa menyimpan semuanya lagi.
"Diam! Kalian kenapa malah jadi saling bertengkar! Ini kantor polisi, bukan pasar atau rumah kalian yang bisa berisik sesuka hati."
Salah satu polisi yang ada di sana langsung menghentikan perdebatan antara Sisil dengan kedua orang tuanya. Seketika, mereka semua terdiam karena bentakan polisi tersebut.
Sisil diam, tapi tangannya dia genggam dengan sangat erat. Rasa kesal yang ada dalam hatinya, semakin bertambah besar saat ini.
'Kurang ajar! Semuanya karena kak Dion juga istrinya yang brengsek itu. Jika saja bukan karena mereka yang terlalu sulit untuk aku taklukan, semua rencana yang sudah aku susun, pasti tidak akan gagal berantakan seperti saat ini.'
'Kalian sudah membuat aku gagal menjadi bagian dari orang terkaya di kota ini. Kalian harus terima akibatnya nanti. Tunggu saja sampai aku bebas dari tempat terkutuk ini. Maka kalian akan mendapatkan balasan karena sudah membuat aku gagal.'
Malam itu, Sisil harus menginap di kantor polisi karena penyelidikan untuknya masih belum selesai. Kedua orang tuanya terpaksa pulang duluan dengan wajah masam karena kesal.
Keluarga itu sungguh memikirkan nama baik. Bagi mereka, nama baik adalah segalanya.
__ADS_1
Tidak perlu seperti apa, dan bagaimana caranya. Yang terpenting adalah, nama baik keluarga harus tetap terjaga.
Rencana Sisil yang gagal, sampai harus membuat dia masuk ke kantor polisi itu tentu saja bikin kedua orang tuanya pusing tingkat tinggi. Karena itu akan merusak nama baik keluarga mereka.
Karena itu, rencana untuk memurnikan nama baik sudah mereka siapkan. Hanya tinggal menunggu Sisil keluar dari kantor polisi saja.
Sementara itu, Dion yang di bawa ke rumah sakit, paginya baru sadarkan diri. Efek obat sudah hilang, dia juga sudah diizinkan pulang sekarang.
"Sialan perempuan itu. Jika saja tidak ada yang melapor polisi tadi malam. Mungkin aku sudah berhubungan tidak baik dengannya. Benar-benar kurang ajar dia. Tunggu dan lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya."
Dion berucap kesal sambil menggenggam erat satu tangannya. Sementara tangan yang lain menggapai leher, tempat di mana kalung dengan liontin hati dia simpan.
Dia lepas kalung itu, lalu dia buka liontin tersebut. Di sana, foto Anggun yang sedang tersenyum tersimpan dengan baik.
Dion menatap foto itu dengan penuh kasih sayang dan kerinduan. Dia belai lembut foto kecil itu dengan satu jarinya.
"Kamu tenang saja. Aku akan mencari cara agar aku dan kamu bisa bebas dari masalah besar yang sedang terjadi. Mungkin, aku tidak akan bisa membuat kamu tetap bertahan selama dua tahun. Karena aku sudah tahu, mereka terlalu licik untuk aku lawan sendiri."
"Tenang saja. Aku akan kembali secepatnya, Anggun."
Mobil yang Dion tumpangi pun memasuki perbatasan kota. Dia tersenyum dengan senyuman yang penuh dengan semangat. Dia sudah membulatkan tekat, kalau hari ini juga, dia akan membawa Anggun pergi meninggalkan kota tempat mereka berada. Dia juga akan memakai semua kuasa dari keluarga Prayoga untuk melindungi istrinya sekarang.
Sementara itu, Sisil yang sudah dibebaskan karena tidak terbukti melakukan kesalahan, kini berada di dalam sekarang. Kedua orang tuanya sendiri yang menjemput dia pulang.
"Di mana ponselku, Ma?"
__ADS_1
Tanpa bicara, mamanya langsung menyodorkan ponsel ke tangan Sisil.
Gadis itu menerima dengan senyum menyeringai.
"Terima kasih, Ma."
"Lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan, Sil! Bersihkan nama baik keluarga secepatnya. Mama tidak ingin kamu gagal lagi."
"Iya. Jangan gagal lagi. Jika tidak, kamu yang akan menanggung semuanya. Ingat itu, Sisil!" Papanya memberikan ancaman pula.
"Kalian sudah melihat isi dari ponselku, Ma, Pa?"
"Jangan banyak tanya. Lakukan saja apa yang harus kamu lakukan. Karena aku yakin, kamu tidak bodoh, bukan?"
"Mama tenang saja. Aku akan mendapatkan Dion dengan cara apapun. Kita akan bisa menguasai harta keluarga itu secepatnya."
"Jangan cuma ngomong saja. Buktikan dengan hasil dari omongan itu. Karena kita butuh bukti, bukan cuma omongan belaka."
Sisil merasa kesal sebenarnya. Tapi sayang, dia tidak bisa membantah. Karena apa yang kedua orang tuanya inginkan, dia juga sama. Menginginkan harta untuk hidup dengan kemewahan yang dia anggap bisa membawa dia bahagia.
Sisil langsung mengutak-atik ponsel tersebut. Dia akan menjalankan rencana berikutnya. Membuat Anggun melihat foto tersebut agar hubungan Anggun dan Dion yang susah rusak, bisa semakin rusak lagi.
Sisil langsung mengirim beberapa foto ke nomor WA Anggun. Nomornya sebelumnya susah dia simpan sejak lama. Dia dapatkan dari ponsel Dion saat pura-pura meminjam ponsel untuk menghubungi orang tuanya.
Semuanya sudah dia rencanakan sejak lama. Hanya saja, semuanya gagal akibat polisi datang tiba-tiba. Dan sekarang, dia tidak akan mau gagal lagi. Dia akan membuat Anggun dan Dion berpisah dengan bukti foto itu. Dia juga akan membuat Dion bertanggung jawab dengan bukti foto tersebut.
__ADS_1
Saat itu, kebetulan Anggun sedang membalas pesan singkat dari Siska. Tiba-tiba, dia merasa penasaran dengan pesan yang masuk dengan nomor baru.
Dengan rasa penasaran, Anggun langsung membuka pesan tersebut. Betapa kagetnya dia ketika pesan itu sudah dia buka. Matanya membulat dengan mulut yang tergangga. Air mata tidak bisa dia cegah untuk tidak jatuh.