
"Beneran sayang? Anggun suka ngatur-ngatur orang?"
Pertanyaan tiba-tiba dari Dirly mendadak membuat Anggun dan Amelia kaget. Amelia yang kesal langsung memukul Dirly dengan guling yang sedari tadi berada di atas pangkuannya.
"Mama ... aku gak kuat nih sama anak nakal mama." Amelia berteriak sambil terus memukul suaminya.
Keadaan itu membuat Anggun langsung tersenyum lebar. Dia merasa ikut bahagia dengan kebahagiaan yang sahabatnya perlihatkan. Juga ... ada rasa iri dan cemburu dengan keromantisan itu.
'Kamu telah menemukan suami yang seperti kamu inginkan, Mel. Humoris, yang bisa membuat kamu selalu tertawa. Kamu benar dengan pendapat yang kamu punya sewaktu kita sama-sama masih bebas, belum terikat dengan yang namanya pernikahan.'
Seketika, Anggun teringat akan kata-kata sahabatnya saat mereka masih duduk di bangku perkuliahan dulu.
"Aku tidak suka laki-laki pendiam, atau lebih tepat di sebut dengan laki-laki dingin. Karena laki-laki yang seperti itu, tidak akan membuat kita bahagia menurut aku."
"Kamu sih banyak baca novel soal laki-laki dingin. Jadinya, pikiranmu rusak tuh."
"Hei! Aku gak menyimpulkan dari banyak membaca novel lho ya, Gun. Aku bicara apa adanya. Laki-laki pendiam itu, tidak tahu seberapa dalam dia bisa membuat kuta bahagia."
"Aku tidak berpikir begitu kok, Mel. Jika aku ingin menemukan laki-laki, aku ingin yang pendiam. Karena itu akan membuat aku merasa lebih nyaman jika bersama. Dia pasti laki-laki yang punya banyak kejutan di balik pendiam nya itu."
"Anggun. Gun .... "
"Eh, iy--iya, Ma. Ada apa, Ma? Apa yang mama butuhkan sekarang?" tanya Anggun mendadak panik.
"Nah lho, makanya aku bilang jangan melamun kan. Udah panik aja kamu sekarang, Gun."
"Dirly. Jangan ganggu lagi mama bilang. Kamu ini ya."
"Maaf, Ma. Habisnya, Anggun itu agak lucu sekarang. Dulu gak kek gini deh perasaan."
"Tahu apa papa soal Anggun?" tanya Amelia sambil memasang wajah marah.
Seketika, Dirly memasang wajah takut dengan senyum tidak enak. Juga terlihat masih sedang mengusili Amelia.
"Gak tahu, sayang. Maaf, gak akan ganggu lagi."
__ADS_1
Mereka terus melanjutkan obrolan hangat itu. Sesekali, terdengar tawa akibat ulah Dirly yang terus bikin onar dengan menjadi pengganggu ketika mereka sedang bicara hal serius.
Namun, tiba-tiba saja pintu ruangan tersebut terbuka dengan memunculkan dua orang yang membuat semua mata teralihkan. Terutama, Anggun yang melihat dengan rasa tak percaya juga sakit hati dengan kedatangan dua manusia tersebut.
"Dion." Mama mertua Anggun berucap lirih. Sementara Anggun hanya diam mematung tanpa bisa berkata apa-apa.
"Ud--udah dulu ya, Mel. Kita ... ada ke--kedatangan tamu," ucap Anggun berusaha tetap tenang. Tapi pada kenyataannya, dia tidak bisa. Dia malahan terlihat sangat syok sekarang.
"Ada apa sih, Gun? Siapa yang datang? Aku gak dengar mama ngomong apa barusan? Kek nya, mama bahagia banget barusan. Tapi kamu ... malah memberikan aku ekspresi sebaliknya."
"Ada apa sih sayang? Apa yang terjadi?" tanya Dirly dari belakang.
"Gak tahu Anggun. Mama bilang .... "
"Nanti kita sambung lagi obrolannya. Aku mau ke kamar mandi sekarang, udah gak kuat soalnya," ucap Anggun beralasan.
Tanpa menunggu jawaban dari Amelia terlebih dahulu, Anggun langsung menutup panggilan tersebut. Lalu, dia segera bangun seperti yang sudah dia alasan kan pada sahabatnya tadi. Ingin ke kamar mandi karena sudah tidak kuat lagi.
"Ma, aku ke kamar mandi dulu ya."
"Tergantung, Ma. Jika urusannya kelar lama, maka aku juga akan lama di sana. Tapi, jika urusannya cepat, aku juga akan cepat kembali."
"Ya udah kalo gitu. Semoga aja gak lama ya."
Anggun hanya tersenyum kecil. Senyum yang sebisa mungkin dia ukir saat hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Anggun lalu berjalan meninggalkan kamar tersebut. Sempat mereka saling bertukar pandang selama beberapa detik, namun itu segera berlalu dengan Anggun yang mengalihkan pandangannya secepat yang dia bisa.
"Mama, apa kabar?" tanya Dion dengan suara pelan.
Sama sekali tidak ada tegur sapa di antara Anggun dan Dion. Mereka persis seperti bukan pasangan suami istri jika dilihat oleh orang luar. Lebih tepatnya, orang asing yang tidak saling kenal satu sama lain.
"Aku ... seperti yang kamu lihat, Nak. Baik-baik saja."
"Ah, syukurlah kalo gitu."
__ADS_1
"Oh iya, ini Sisil."
"Hai tante. Aku Sisil. Aku .... "
"Dia adik sepupuku, Ma." Dion memotong dengan cepat.
Masih bisa Anggun dengar dengan sangat baik obrolan itu. Meski dia sudah berada di luar kamar rawat mama mertuanya, tapi obrolan itu masih terdengar cukup jelas.
Perempuan yang sama dengan yang dia temui saat dia datang untuk menjenguk suami waktu itu. Sekarang, perempuan itu malah datang bersama suaminya.
Walau Dion selalu mengatakan hal yang sama tentang perempuan tersebut. Tapi hati Anggun, yang jelas-jelas seorang istri sah ini tidak bisa untuk tetap biasa saja saat melihat suaminya datang dengan perempuan lain.
Meskipun itu adik sepupu, tapi itu perempuan. Sikapnya sangat manja pula. Mana waktu itu, Dion sempat memeluk perempuan itu karena ingin menenangkan perempuan tersebut yang sedang menangis.
***
Anggun sampai di kamar mandi. Dia ingin langsung masuk ke dalam kamar mandi tersebut, tapi bi Ina langung menahan tangan Anggun dengan cepat.
Anggun sontak langsung berhenti. Dengan wajah kaget dan penuh dengan tanda tanya, Anggun melihat wajah bi Ina yang ternyata sengaja menyusul dia dari belakang.
"Ada apa, Bi? Mau bahas soal kak Dion yang bawa perempuan datang buat jenguk mama? Kalau iya. Gak perlu dibahas lagi, bi Ina. Aku sama sekali gak papa kok."
"Maafkan bibi yang tidak tahu diri ini, non Anggun. Bibi selalu saja ikut campur dalan urusan pribadi non Anggun dan tuan Dion."
"Bi ... jangan bilang begitu. Jangan ucapkan kata maaf karena bibi tidak salah sedikitpun. Untuk masalah kak Dion yang datang dengan perempuan kali ini, aku benar-benar gak masalah kok, bik. Aku gak papa. Beneran deh."
"Bibi tahu non Anggun gak papa. Tapi, bibi gak mau non Anggun sampai mengalah. Karena mengalah bukan solusi yang tepat untuk perjalan rumah tangga non Anggun dan tuan Dion."
"Terus, aku harus apa, Bik? Aku bingung dengan apa yang harus aku lakukan sekarang."
"Lawan, non."
"Hah? Lawan? Mau lawan gimana, Bik? Aku tidak mengerti soal perlawanan dalam cinta. Apalagi perlawanan dalam memperebutkan laki-laki."
"Laki-laki itu adalah suaminya non Anggun. Ya non harus melawannya dong. Singkirkan dia dari sisi tuan Dion dengan apapun caranya. Itu yang harus non Anggun lakukan."
__ADS_1
Anggun tersenyum tipis. Dia sungguh tidak tahu bagaimana cara bertarung untuk memperebutkan laki-kaki. Meski dia sangat ingin mempertahankan rumah tangganya karena semangat juang yang bi Ina berikan. Tapi tetap saja, dia masih dalam situasi yang tidak jelas.