Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu

Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu
Part *28


__ADS_3

"Uh ... sabar dulu ya, kak. Aku akan menolong kamu secepatnya. Tapi, tunggu aku mengambil foto sebagai bukti kalau kamu adalah milik aku, bukan milik istrimu lagi."


Sisil lalu mengambil ponsel yang ada di tasnya. Selanjutnya, dia membuka baju Dion, juga bajunya untuk mengambil foto agar Anggun melihat apa yang telah terjadi antara dia dengan Dion.


Beberapa kali jepretan dengan pose tidur yang luar biasa bikin sakit hati untuk Anggun jika melihatnya. Bagaimana tidak? Sisil yang licik tentu saja memasang ekspresi seolah-olah mereka berdua sedang tertidur setelah melakukan hubungan panas.


"Nah, selanjutnya, aku akan bikin rekaman vidio agar bukti kemesraan kita lebih kuat, kak."


Sisil lalu bangun dari ranjang menuju meja yang tepat berada di depan ranjang tersebut. Dia letakkan kamera di atas meja tersebut dengan posisi yang pas melihat ke arah ranjang itu.


Sisil tersenyum lebar.


"Saatnya kita berpetualang, kak Dion."


Dia berucap dengan suara pelan, sambil berjalan menuju ranjang.


Namun, baru saja dia ingin mencapai ranjang, pintu kamar mereka langsung di ketuk oleh seseorang. Hal itu tentu saja membuat Sisil merasa sangat kesal.


"Sialan! Siapa yang sudah berani mengetuk pintu kamar ini? Bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak ingin diganggu. Bukannya mereka sudah aku perintahkan untuk mengurus segalanya."


Ketukan itu semakin terdengar keras. Sepertinya, orang yang ada di luar sudah semakin tidak sabar lagi sekarang.


Sisil tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau, dia terpaksa menuju pintu untuk melihat siapa yang telah berani merusak kesenangan yang ada di depan matanya saat ini.


"Sial! Awas saja jika yang datang itu mereka. Benar-benar sahabat yang tidak berguna. Sudah aku peringatkan, mereka masih saja tidak mengerti," ucap Sisil sambil menghampiri pintu.


Namun, saat pintu terbuka, dia tidak bisa berucap apa-apa. Karena yang datang bukanlah sahabatnya, melainkan, dua orang petugas kepolisian yang berseragam lengkap.


"Iy--iya, Pak. Ada ... ada perlu apa ya?"

__ADS_1


Sisil berucap dengan gelagapan. Rasa takut kini mulai menyelimuti hatinya. Dia takut akan ketahuan oleh polisi itu karena sudah memberikan Dion obat perangsang dalam dosis tinggi.


"Malam, nona. Maaf kalau kami menganggu nona. Kami punya tugas mendesak. Kami dapat laporan dari seseorang tentang pesta yang diadakan di hotel ini. Sebagian yang berpesta telah mengkonsumsi narkoba. Jadi, semua yang ikut dalam pesta malam ini harus ikut kami ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan."


"Ap--apa? Yang- yang benar saja, Pak. Saya ini anak konglomerat ternama. Mana mungkin mau merusak diri saya dengan barang yang tidak baik seperti itu. Anda tidak perlu membawa saya. Karena saya tidak terlibat dalam pesta."


"Maaf nona. Nama anda tertera dengan sangat jelas, teman-teman anda juga sudah mengkonfirmasi pada kami kalau anda juga ikut. Jadi, tidak ada alasan untuk anda menghindar dari penyelidikan kami."


"Tentu saja anda akan menghindar jika anda memang memakai narkoba itu tadi. Jika tidak, anda pasti mau ikut kami sekarang," ucap teman polisi itu pula dengan tegas menuduh Sisil.


Sisil langsung membulatkan matanya karena tuduhan itu.


"Sudah saya tegaskan, saya tidak memakai barang itu! Harus seperti apa lagi supaya anda-anda paham, pak."


"Ikut kami ke kantor polisi sekarang juga. Maka anda bisa membuktikan kalau anda bersih dari narkoba."


"Karena apa?"


"Karena itu ... apa ... mm ... pacar saya ... iya, pacar saya sedang tidak enak badan. Dia .... "


"Buka pintunya. Kami akan melihat sendiri ke dalam."


"Ah tidak bisa. Ini kamar hotel. Kalian tidak bisa masuk sesuka hati ke dalam. Karena ini sangat privasi. Saya bisa tuntut kalian karena telah melanggar privasi orang lain."


"Nona. Semakin anda menghindar maka kami akan semakin yakin kalau anda sedang menutupi kesalahan. Lagipula, jika ingin menuntut kami karena masuk ke dalam dengan alasan kami telah melanggar privasi nona di kamar hotel. Nona harus ingat, jangankan hotel yang jelas-jelas tempat umum. Rumah yang punya pribadi saja kamu lalui dengan bebas. Karena itu sudah tugas kami."


Sisil terdiam. Dia merasa menyesal karena salah salam berucap barusan. Sementara polisi itu langsung menyuruh temannya masuk ke dalam untuk mengecek.


"Hei tidak bisa! Saya tidak setuju. Jangan!"

__ADS_1


Tentu saja tidak akan polisi itu dengarkan apa yang Sisil katakan. Karena dia tetap akan masuk untuk menjalankan tugasnya sebagai penegak kebenaran.


'Sialan! Benar-benar sial sekarang,' kata Sisil dalan hati setelah polisi itu lolos dari halangan nya.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang? Segeralah berpikir Sil! Buat rencana apapun agar semuanya tidak rusak. Dan yang terpenting, jangan sampai kamu di bawa ke kantor polisi malam ini.'


Sisil terlihat sangat panik sekarang. Sementara polisi yang sudah menerobos masuk, tentu saja langsung bisa melihat Dion yang sedang terbaring dengan gelisah di atas ranjang big size kamar hotel tersebut.


Polisi itu langsung memeriksa keadaan Dion. Dari apa yang dia lihat, tentu saja dia tahu kalau Dion sedang dalam pengaruh obat dan harus segera di tolong.


Polisi itu langsung melapor pada temanya atas apa yang sudah dia temukan.


"Ada satu laki-laki yang sedang dalam pengaruh obat di kamar ini. Kita harus mengirimnya ke rumah sakit untuk menolong dia."


"Tidak perlu! Dia tidak perlu ke rumah sakit, karena dia pacarku, Pak. Aku bisa mengatasi dia dengan caraku sendiri."


"Kamu perempuan yang liar ternyata. Jangan-jangan, kamu adalah perempuan yang sedang mencari mangsa untuk melakukan tindakan kejahatan dengan berkedok kan hubungan terlarang."


"Pak, tidak! Aku .... "


"Tidak ada alasan lagi sekarang. Kamu harus segera ikut kami ke kantor untuk menjelaskan siapa kamu sebenarnya. Dan, membuktikan kalau kamu bukan seperti yang kamu lihat."


Sisil tidak bisa berbuat apa-apa. Dia terpaksa menuruti apa yang polisi itu katakan. Meski dengan hati yang sangat berat, dia mengikuti langkah polisi menuju pintu keluar hotel tersebut. Sedangkan Dion, dia langsung di kirim ke rumah sakit untum di tangani.


Malam itu jadi malam yang paling mengesalkan buat Sisil. Kebahagiaan yang sudah hampir saja dia dapatkan, kini malah lenyap begitu saja. Malah berakhir dengan dirinya yang sedang berada di kantor polisi untuk melewati beberapa tahan penyelidikan.


Malam itu juga, kedua orang tuanya datang ke kantor polisi untuk melihat keadaan anak mereka. Bukannya bahagia karena kedatangan orang tua dia, Sisil malah terlihat semakin cemberut dan ketakutan.


"Apa yang terjadi, Sil? Kenapa kamu bisa sampai bikin ulah besar seperti ini, ha? Apa kamu sudah tidak punya akal sehatmu lagi sekarang?" Mama Sisil membentak perempuan itu dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2