
"Aku akan berusaha, bik. Tapi tidak tahu apakah aku mampu atau tidak. Karena aku tidak punya pendukung. Dan, poin pentingnya adalah, laki-laki yang ingin aku perjuangkan sama sekali tidak berada di pihak ku. Haruskah aku terap bertahan dengan laki-laki yang tidak menginginkan aku, bi Ina?"
Pertanyaan dengan nada putus asa itu membuat bi Ina terdiam. Bukan karena apa yang Anggun tanyakan itu masuk akal. Tapi karena dia tahu kalau orang yang sedang Anggun bicara itu sedang berada di titik yang sama dengan Anggun saat ini. Sama-sama berjuang mempertahankan rumah tangga mereka agar tidak putus di tengah jalan. Hanya saja, cara mereka mungkin sangat jauh berbeda.
"Ya sudahlah, bik. Tidak perlu membahas soal kak Dion lagi. Aku sedang tidak ingin membahasnya mulai dari saat ini. Aku sedang ingin fokus dengan kesembuhan mama saja dulu."
"Tapi non ... non tetap harus berjuang. Jangan biarkan orang lain menang tanpa perlawanan. Karena non tidak tahu seperti apa usaha tuan Dion untuk mempertahankan rumah tangga kalian saat ini. Mempertahankan non Anggun agar tidak terlepas dari ikatan suci tali pernikahan yang dia ikat sekarang."
"Dia berjuang? Aku rasa tidak, bik. Kak Dion sama sekali tidak berjuang untuk mempertahankan rumah tangga kami. Dia bahkan mungkin menginginkan .... "
Anggun langsung menghentikan ucapannya. Dia ingat saat dia mengajak Dion bercerai kemarin. Dion yang bersikeras untuk tidak ingin bercerai. Bahkan mata Dion memperlihatkan sebuah luka saat ucapan cerai itu dia dengar.
Kini, Anggun mulai menyadari satu hal. Bi Ina mungkin tahu sesuatu tentang Dion. Maka dari itu dia bersikeras untuk meminta Anggun mempertahankan rumah tangga mereka. Juga menyuruh Anggun berjuang untuk melawan orang-orang yang menentang hubungan pernikahan keduanya.
Pikiran itu membuat Anggun menatap bi Ina dengan tatapan penuh selidik. Orang yang di tatap tentu saja langsung salah tingkah karena grogi.
"A--ada ... apa, non Anggun? Apa ada yang salah dengan bibi? Dengan ucapan bibi barusan?"
"Tidak ada yang salah, bi Ina."
"La--lalu? Ke--kenapa ... non Anggun melihat bibi seperti itu? Seperti bibi punya salah saja."
__ADS_1
"Tidak, bik. Bibi tidak punya salah sedikitpun. Hanya saja, aku semakin merasa kalau bibi tahu sesuatu tentang kak Dion sekarang. Tapi sayangnya, bibi malah merahasiakan apa yang bibi tahu dari aku."
"Itu ... nggak kok, non. Bibi tidak tahu apa-apa. Juga tidak ada merahasiakan apapun dari non Anggun. Beneran, bibi gak bohong." Bi Ina berucap sambil mengangkat kedua tangannya.
Anggun yang sedang malas berdebat, memilih mempercayainya walau pada kenyataan, dalam hati dia merasa tidak percaya dengan apa yang bi Ina katakan padanya barusan. Karena sikap si bibi itu seperti sedang menyembunyikan sebuah rahasia.
"Ya sudahlah. Aku tidak ingin membahas soal itu lagi. Aku masuk sekarang jika bibi tidak ada yang ingin di bicarakan dengan aku."
"Iy--iya, non. Masuklah. Bibi tunggu di kamar nyonya saja."
"Ya."
'Maafkan bibi, non Anggun. Bibi tidak bisa bicara yang sebenarnya tentang tuan Dion pada non Anggun. Karena ini adalah amanah dari tuan Dion. Dia yang sangat menyayangi non Anggun, tidak ingin membuat non berada dalam masalah. Karena yang paling penting buat tuan Dion itu adalah keselamatan non Anggun.'
'Tuan Dion cukup tahu siapa non Anggun yang sebenarnya. Sifat keras kepala, juga rasa peduli yang kuat. Tuan Dion takut kalau non akan ikut melawan secara terang-terangan keluarga kandungnya. Karena jika itu terjadi, maka keselamatan non sedang terancam.'
Setelah beberapa lama melihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Juga setelah selesai dengan pikiran dan keluh kesah dalam hati. Bi Ina baru meninggalkan kamar mandi tersebut.
Sementara Anggun masih diam di dalam kamar mandi tanpa berbuat sesuatu. Dia hanya diam dan berusaha tetap tenang. Karena apa yang dia lihat barusan itu cukup membuat hatinya bergejolak seperti ingin memukul Dion. agar amarahnya bisa tersalurkan.
Tapi sayangnya, itu tidak bisa dia lakukan. Karena dia akan membuat semua yang ada di sana menganggap dia sudah gila. Dan seperti yang bi Ina katakan, dia tidak boleh kalah tanpa berusaha melawan.
__ADS_1
'Ya Tuhan ... sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan kak Dion? Apa yang bi Ina tahu dan sembunyikan dari aku? Dia begitu ingin aku berjuang untuk mempertahankan Dion. Seolah-olah dia tahu kalau Dion juga sedang melakukan hal yang sama untuk rumah tangga kami. Tapi pada kenyataan yang aku tahu malah sebaliknya. Kak Dion tidak berusaha melakukan apapun. Lagipula .... '
'Tunggu! Apa kak Dion tidak bahagia dengan keluarga kandungnya? Bukankah mereka sangat tidak suka padaku? Mungkin karena dia ingin tetap mempertahankan aku, orang tuanya tidak suka. Kehidupannya di sana jadi dipersulit oleh orang tua kandungnya.'
'Ah! Benarkah begitu? Tapi .... Agh! Apapun itu, aku tidak bisa mengambil kesimpulan sendiri. Dan, aku tidak bisa terus-terusan memikirkan soal kak Dion juga kehidupan rumah tangga aku yang berantakan ini. Karena aku juga punya tanggung jawab untuk memikirkan perusahaan yang sedang aku pimpin.'
"Agh! Sudahlah Anggun! Cobalah untuk terap bertahan dalam ketenangan. Jangan bikin onar dulu. Jangan gegabah dalam mengambil langkah. Pastikan semuanya dengan cukup baik, baru bisa melangkah. Oke?"
Setelah dirasa cukup untuk menenangkan diri, Anggun langsung memilih untuk keluar. Tapi, saat dia membuka pintu kamar mandi tersebut. Seseorang yang sangat tidak ingin dia lihat wajahnya malah ada di sana. Berpas-pasan dengan dirinya yang baru daja ingin keluar dari kamar mandi tersebut.
Anggun tidak ingin ambil pusing sebenarnya dengan kehadiran orang tersebut. Niatnya, dia ingin langsung pergi dengan mengabaikan orang itu begitu saja.
Tapi sayang, sepertinya orang itu tidak berpikiran yang sama. Dia malah seperti sedang ingin mencari masalah dengan Anggun sekarang.
Hal itu terbukti dari tangannya yang menangkap tangan Anggun dengan cepat ketika Anggun ingin beranjak meninggalkan tempat tersebut. Sontak, langkah Anggun langsung tertahan karena cengkraman tersebut.
"Lepaskan tanganku! Kita tidak saling kenal, bukan? Kenapa kamu malah seenaknya mencengkram tanganku, ha?"
"Karena kamu perempuan naif yang tidak punya rasa malu. Oh, kita memang tidak saling kenal sama sekali. Tapi sayangnya, karena kehadiran kamu, aku jadi terhalang untuk mendapatkan apa yang aku mau. Untuk itu, aku harus menghancurkan kamu agar aku bebas mendapatkan apa yang aku inginkan."
"Apa yang kamu katakan, hm? Bicara hal yang tidak jelas. Omong kosong yang tidak ada gunanya. Cepat singkirkan tanganmu dari tanganku. Aku sedang tidak ingin mencari masalah dengan orang lain sekarang."
__ADS_1