
Anggun dinyatakan keguguran setelah pendarahan hebat yang dia alami. Calon bayi yang masih sangat muda itu, tidak kuat bertahan di rahimnya setelah kecelakaan itu terjadi.
Meski Dion sudah berusaha sekuat tenaga melindungi istri dan calon anaknya, takdir terap saja tidak bisa dia lawan. Anak itu tetap tidak bisa di selamatkan.
Sementara Dion sendiri, dia masih berada dalam masa kritis ketika Dirly tiba di tanah air. Dirly memaksa dokter melakukan segala cara agar bisa menyelamatkan kakak angkatnya. Karena dia tidak ingin kakak angkatnya pergi dari mereka untuk selama-lamanya.
"Tuan muda, kita hanya bisa pasrah dan berdoa. Benturan keras yang tuan muda Dion alami cukup fatal. Tulang belakangnya patah, kepalanya pecah. Dan ... ada beberapa syarafnya yang terjepit. Kami sudah melakukan semaksimal mungkin. Hasil akhirnya, hanya Tuhan yang bisa menentukan lagi."
"Ya Tuhan .... "
Hanya itu yang mampu Dirly katakan. Dia menangis tanpa air mata dan suara. Mengusap kasar wajahnya, karena sedih juga kesal yang bercampur menjadi satu saat ini. Dia benar-benar tertekan dengan keadaan itu.
"Dokter. Tolong lakukan segalanya. Aku tidak ingin kak Dion sampai tidak tertolong. Kasihan mama papa. Dan ... kasihan Anggun. Dia sudah kehilangan anaknya. Dia tidak boleh kehilangan suaminya juga."
"Seperti yang sudah saya katakan tadi tuan muda. Kami sudah melakukan sebisa kami. Hanya Tuhan yang harus apa hasil akhirnya. Karena kami sebagai dokter, tidak punya hak untuk melakukan apapun lagi."
Dirly menarik napas dalam-dalam. Ada beban berat yang menghimpit dadanya. Rasa kasihan akan keadaan Dion, sungguh membuat dia merasa sangat bersalah.
"Dokter, aku akan pindahkan kak Dion sekarang juga. Apa aku bisa melakukannya?"
"Pindahkan? Tuan muda mau memindahkan tuan muda Dion ke mana?"
"Ke luar negeri. Tempat aku dan keluarga Prayoga tinggal saat ini. Apakah aku bisa melakukannya? Aku ingin menyelamatkan dia. Apapun caranya."
Dokter itu terdiam sesaat. Lalu, dia meminta waktu pada Dirly untuk bicara dengan rekannya yang lain. Dia akan membahas soal itu dengan semua rekannya. Membahas apa kemungkinan terburu, juga resiko dari niat Dirly untuk memindahkan Dion di saat kritis seperti saat ini.
__ADS_1
Dirly di minta menunggu. Dengan berat hati, dia menyetujuinya. Selama menunggu hasil dari rapat yang dokter itu lakukan, Dirly memilih mendatangi kamar Anggun di rawat.
Saat masuk ke dalam kamar tersebut, Dirly langsung bisa melihat Anggun yang sedang menangis tersedu-sedu. Di sana juga ada Dedy yang berusaha menenangkan Anggun dengan susah payah sepertinya.
"Anggun."
Suara lirih Dirly memanggil nama Anggun. Membuat Anggun langsung menoleh ke arah pintu dengan tatapan penuh luka.
"Dirly!"
Tanpa berucap, Dirly yang mengerti apa yang Anggun rasakan itu langsung mendekat. Perempuan itu semakin kuat mengisak saat langkah kaki Dirly berjalan mendekatinya.
"Anggun, sabarlah. Anggap ini adalah cobaan buat kamu."
"Aku sudah berusaha, Dirl. Yang ada, semakin aku berusaha kuat, aku semakin merasa sakit. Bagaimana dengan keadaan kak Dion? Apa dia baik-baik saja? Aku ingin melihatnya. Tolong izinkan aku melihatnya, Dirly."
Kata-kata itu langsung membuat mata Anggun melebar. Dia sungguh kaget dengan apa yang Dirly katakan barusan.
"Kau ... ingin membawa kak Dion pulang ke luar negeri? Tidak! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Dirly. Aku tidak akan .... "
"Anggun. Dia tidak akan pulang sendirian. Kau juga ikut dengannya. Karena kalian butuh perawatan yang sangat baik saat ini. Dan, aku pikir perawatan terbaik itu adalah dengan kekuatan juga semangat yang berasal dari kasih sayang keluarga. Yaitu, kedua orang tuaku, juga sahabatmu yang sekarang ada di luar negeri saat ini."
"Tapi .... "
"Gun, apa yang kamu pikirkan lagi? Di sini, kamu tidak punya siapa-siapa sebagai tempat untuk mengadu, bukan? Kedua orang tuamu sudah lama tiada. Sementara kakakmu, dia tidak bisa apa-apa. Dia tidak bisa melakukan apapun. Jangankan untuk menolong kamu, menolong dirinya sendiri saja dia tidak bisa, bukan?"
__ADS_1
Anggun terdiam. Matanya menatap lekat wajah Dirly. Bukan karena marah, tapi karena apa yang Dirly katakan itu sangat benar adanya.
Di kota ini, dia tidak punya siapa-siapa selain kakak kandungnya yang saat ini ada di rumah sakit jiwa. Sementara kedua orang tuanya, sudah meninggal sejak dia masih remaja.
"Dirly. Apa yang kamu katakan itu sangat benar. Aku akan ikuti apa yang kamu katakan. Tapi tolong, bawalah kakakku ikut bersama aku. Karena hanya dia yang aku punya sebagai keluarga saat ini. Aku tidak mungkin meninggalkan dia di kota ini sendirian, Dirl."
"Bagaimana? Apa kamu bisa membawa dia ikut bersama aku pergi ke luar negeri?"
Dirly langsung mengukir senyum di bibirnya.
"Jangankan membawa kakakmu ikut dengan kita, Gun. Merawat dia sampai sembuh pun aku bersedia membantu kamu."
Mata Anggun seketika berbinar senang. Kata-kata Dirly seperti siraman hujan di saat kemarau panjang.
"Benarkah apa yang kamu katakan ini, Dirl? Kau bersedia membawa kakakku ikut bersama?"
"Tentu saja."
"Terima kasih banyak, Dirly. Aku tidak tahu lagi harus bilang apa padamu. Aku tidak berharap besar untuk kamu membantu memulihkan kesehatan mental kakakku. Tapi, aku sangat berterima kasih untuk niatmu ini. Kau telah bersedia membantu kami, terutama aku sendiri khususnya."
"Tidak perlu berterima kasih padaku, Gun. Kau adalah kakak ipar ku. Dan, kamu juga adalah orang yang berjasa dalam hubungan aku dan Amel. Kamu sahabat terbaik istriku, jasamu ini tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan padamu saat ini, Gun. Jadi, jangan terlalu sungkan padaku."
"Lagipula, Amel pasti akan sangat bahagia saat kau bersedia menerima bantuan dari kami. Karena dulu, kamu yang sudah banyak membantu dia dalam urusan pekerjaan maupun pribadi. Jadi, sekarang saatnya aku selaku suaminya yang membantu kamu sebagai balasan atas kebaikan yang telah kamu lakukan padanya dulu."
"Aku tidak pernah mengharapkan balasan apapun dari bantuan yang aku berikan pada Amel, Dirly. Karena aku sadar, dia adalah sahabatku. Sesama sahabat, sudah seharusnya aku membantu dia sebisa aku."
__ADS_1
"Aku tahu. Untuk itu, tolong jangan merasa sungkan atas bantuan yang akan aku berikan. Karena sekarang, kita adalah keluarga. Sesama keluarga juga sudah seharusnya saling membantu, bukan? Bahkan, sangat harus saling membantu satu sama lain."
Tidak punya kata-kata, Anggun hanya bisa mengukir senyum tipis di sela air matanya yang mulai mengering. Sepertinya, dia baru saja mendapatkan pelangi setelah badai yang cukup dahsyat.