
Sebelumnya.
Di rumah sakit setelah perpisahan antara bi Ina dengan Dion. Bi Ina masih diam di tempatnya. Sedangkan Dion langsung menuju kamar rawat tempat Sisil berada.
"Kak Dion kok lama banget sih? Aku takut sendirian tahu gak? Hampir aja aku pergi ke luar untuk mencari keberadaan kak Dion." Sisil berucap manja saat melihat Dion yang datang.
"Maaf ya, Sil. Aku udah buat kamu nunggu terlalu lama. Harap maklum, aku lama karena rumah sakit ini terlalu ramai orang yang sakit. Terlalu panjang antriannya."
"Ya namanya juga rumah sakit, kak. Ya ramai."
'Kau tahu rumah sakit memang selalu ramai, Sisil. Tapi kenapa kamu malah bertanya kenapa aku lama. Dasar anak manja yang susah ditebak kamu.'
"Oh iya, ini minum obat dulu ya, Sil. Biar lekas sembuh," ucap Dion sambil menyodorkan obat ke tangan Sisil.
Obat yang Dion berikan memang resep dari dokter. Namun, air yang dia berikan adalah air yang sudah dia masukkan dengan bubuk obat tidur agar Sisil bisa tidur dengan nyenyak secepat mungkin.
Tanpa pikir panjang, Sisil langsung meminum obat yang Dion berikan. Meneguk air untuk melahap obat dengan habis.
Efek obat berjalan cepat. Sisil baru meminum beberapa detik, dia sudah merasa ngantuk menghampirinya.
"Ah ... kok aku langsung ngantuk ya, kak?"
"Mungkin dokter memberikan kamu obat tidur biar kamu istirahat dengan baik, Sil."
"Ah, iya mungkin ya."
"Mm ... aku gak ingin tidur sendirian, kak Dion. Kak Dion jangan pergi ya. Temani aku, karena aku suka bangun saat tidur."
"Iya. Aku akan temani kamu. Tidurlah dengan nyenyak. Karena besok, mungkin kita akan kembali lebih awal jika kamu susah baik-baik saja."
__ADS_1
Tidak sempat menjawab apa yang Dion katakan, Sisil langsung menutup matanya karena dosis obat sudah bekerja dengan sempurna.
"Selamat malam, Sisil. Maafkan aku karena aku harus meninggalkan kamu sendirian di sini. Aku harus segera mengurus hal yang paling penting."
Tidak membenarkan posisi Sisil terlebih dahulu, Dion langsung saja beranjak meninggalkan kamar tersebut dengan cepat. Karena yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah Anggun Anggun dan Anggun.
Dion langsung meninggalkan rumah sakit setelah mengatakan pada bi Ina kalau rencana mereka telah berjalan dengan baik. Bi Ina yang bertugas menjaga Sisil sekarang.
Berbekalkan GPS yang dia masukkan ke ponsel Anggun, Dion langsung menuju sinyal di mana istrinya berada. Awalnya dia ragu saat sinyal yang dia tuju adalah klab malam. Tapi saat melihat mobil istrinya ada di sana. Dia langsung memilih percaya dengan langsung masuk ke dalam untuk memastikan keberadaan istrinya.
Saat ini.
Dion langsung menjauhkan tubuh istrinya dari Dedy. Namun sayangnya, Dion malah dapat tamparan keras dari Anggun yang sedang mabuk.
"Kau jahat! Sudah membuat aku merasa sangat sakit!" Anggun berteriak keras pada Dion.
Dion yang mendapat tamparan itu tentu saja kaget. Dia sampai tidak bisa berkata apa-apa karena tamparan yang istrinya berikan.
Dedy yang sudah bisa menguasai diri, langsung bertanya pada Dion untuk mencairkan suasana yang agak terasa cukup rumit. Tapi pada dasarnya, dalam hati dia merasa sedih dan kecewa atas kenyataan itu. Perempuan yang dia kagumi, dan selalu dia pikirkan ternyata sudah menjadi milik orang lain. Mana orang itu tak lain adalah kakak angkat dari sahabat sekaligus bosnya lagi.
"Iya. Dia istriku. Kenapa dia bisa ada sama kamu di sini? Kalian saling kenal? Sejak kapan kalian saling kenal?"
Pertanyaan dengan nada tinggi itu terdengar sangat jelas kalau yang memberikan pertanyaan itu sedang marah pada orang yang sedang dia tanya. Walaupun begitu, Dedy tidak ingin ikut terpancing emosi. Dia berusaha tenang agar bisa menjelaskan suasana yang rumit ini.
"Untuk pertanyaan kenapa dia bisa ada sama aku di sini. Aku tidak tahu mai jawab apa, tuan muda. Karena istri tuan muda datang sendiri ke sini. Sedangkan aku, aku adalah manajer di klab malam ini."
"Kamu manajer di sini? Siapa bosnya? Aku ingin bertemu dengan bos klab malam ini untuk bicara. Aku akan membeli klab malam ini untuk aku tutup. Biar besok, tidak ada yang datang ke sini lagi."
Ucapan itu membuat Dedy tersenyum kecil karena hatinya merasa geli. Siapa yang salah, siapa yang kena masalahnya. Bak pepatah mengatakan, orang lain yang makan nangka, orang lain pula yang kena getahnya.
__ADS_1
'Benar-benar orang kaya. Semua apa-apa ingin mereka selesaikan dengan uang. Uang adalah segalanya buat mereka. Menyelesaikan masalah hati yang kesal juga dengan uang. Mana mungkin bisa selesai.' Dedy bicara dalam hati sambil menahan senyum karena geli.
"Kenapa kamu diam? Apa bos mu tidak berani bertemu dengan aku? Bos mu tidak ingin menjual klab malam ini? Jika begitu, aku akan beli dengan paksa."
Emosi telah menguasai Dion saat ini. Rasa cemburu atas apa yang dia lihat, membuat dia begitu terlihat sangat sok di depan Dedy. Sampai-sampai, dia tidak sadar lagi dengan apa yang dia ucapkan.
Karena bagi Dion, Anggun adalah orang yang paling berharga. Hanya saja, dia dan Dirly punya cara yang berbeda untuk menunjukkan rasa sayang mereka pada orang yang mereka cintai. Tapi pada dasarnya, mereka sama. Sama-sama berusaha keras menjaga apa yang mereka punya.
Dedy yang mendengar ucapan Dion itu kembali menahan senyum.
"Bos saya sedang tidak ada di sini, tuan muda. Tapi, jika tuan muda ingin membeli klab malam ini hanya untuk menutupnya, saya rasa itu tidak benar. Karena jika klab malam ini tuan muda tutup, maka akan banyak klab malam yang lainnya lagi yang bisa istri tuan muda datangi."
"Oh iya, satu hal yang harus saya katakan pada tuan muda. Klab malam ini bos saya beli karena orang yang dia cintai suka datang ke sini. Maka dari itu, dia membeli klab malam ini."
"Omong kosong. Katakan pada bos mu, aku akan membeli klab malam ini agar tidak ada klab malam lagi di sini."
Setelah berucap, Dion langsung ingin beranjak dengan menggendong Anggun yang sudah tidak sadarkan diri lagi. Namum, Dedy langsung menahan langkah Dion dengan berucap cepat.
"Jika begitu, kenapa tidak langsung bilang sendiri saja, tuan muda? Karena klab malam ini pemiliknya tak lain adalah adik tuan muda sendiri."
Seketika, Dion menghentikan langkah kakinya. Dia langsung melihat ke arah Dedy yang terlihat biasa saja dengan tatapan tajam yang dia berikan.
"Adik?"
"Iya. Adik tuan muda sendiri. Tuan muda Dirly."
"Apa? Dirly pemilik klab malam ini? Tidak mungkin."
"Tidak ada yang tidak mungkin bagi Dirly untuk orang yang dia cintai, tuan muda."
__ADS_1
"Oh iya, jika tuan muda ingin bicara lebih lanjut, ayo masuk ke dalam! Aku juga ingin bicara banyak dengan tuan muda lagi."