
Sudah hampir dua bulan berlalu. Dion yang setelah kembali waktu itu, tidak pernah pulang ke rumah lagi. Anggun terlihat semakin kesepian akibat menahan rindu.
Hanya saja, tidak bisa berkata apa-apa selain pasrah. Pasrah dan tetap bertahan juga karena semangat dari bi Ina yang terus membuat dia merasa kalau ada yang Dion sembunyikan darinya.
Sementara Dion, dia yang berada di kota sebelah juga merasakan hal yang sama. Tidak bisa langsung bicara dengan sang istri yang dia rindukan. Hanya bisa mendengar suara dari ponsel bi Ina dengan cara sembunyi-sembunyi.
Sebenarnya, dia juga marah pada diri sendiri karena tidak punya nyali untuk melawan. Andai saja dia punya koneksi yang kuat untuk bisa melindungi Anggun tanpa harus tunduk pada orang tua kandungnya yang lebih tepat di katakan majikan dari pada orang tua. Mungkin, dia sudah melawan orang tua kandungnya sekuat tenaga.
Pikiran itu tiba-tiba lenyap ketika pintu ruang kerjanya di ketuk oleh seseorang dari luar. Dengan malas, Dion berucap mempersilahkan orang yang ada di luar untuk masuk.
"Masuk."
Kata-kata itu membuat orang yang ada di luar langsung membuka pintu tersebut. Dari pintu yang terbuka, Sisil muncul dengan senyum manisnya yang cukup lebar.
Sontak saja, Dion yang memang dasarnya sedang tidak bersemangat, semakin kehilangan aura kehidupannya. Kedatangan Sisil pasti akan membuat hidupnya semakin sengsara.
"Siang, kak Dion." Sisil langsung menyapa dengan manja.
"Hm ... iya siang. Kenapa kamu ke sini?"
"Ih, cuek banget kamu, kak. Gak boleh apa Sisil datang?"
"Bukan gak boleh. Aku cuma tanya aja, kenapa kamu datang? Inikan kantor, bukan pasar."
Tentu saja Sisil langsung mengeluarkan senjata andalannya. Bersikap sedih dengan keadaan yang paling manja.
"Kak Dion kok ngomongnya gitu sih? Sisil kan .... "
"Udah-udah. Jangan sedih lagi. Aku cuma tanya aja. Jika kamu tidak ada perlu, mana mungkin kamu datang. Iyakan?" Dion berusaha bersikap sebaik mungkin. Walau pada dasarnya, dia sedang kesal dan sangat malas untuk melayani perempuan manja itu.
"Iya sih. Mm ... kak Dion, nanti malam temani aku datang ke pesta ulang tahun teman yah."
"Gak bisa, Sil. Ada banyak pekerjaan yang harus aku urus."
__ADS_1
"Ih, kak Dion kok malah ngomong gitu sih? Kerja lagi, kerja lagi. Itu mulu alasannya. Aku udah bilang tante kok. Tante ngebolehin kak Dion ikut aku. Jadi .... "
"Mama membolehkan, tapi aku sedang sangat sibuk. Yang kerja bukan mama, tapi aku."
"Tante ... dengarkan apa yang kak Dion katakan? Dia gak mau ikut dan bilang kalau dia sibuk. Dan dia juga bilang kalau yang kerja dia bukan tante."
Sontak saja, Dion langsung membulatkan matanya karena ucapan Sisil barusan. Karena Dion sungguh tidak menyangka kalau Sisil ternyata sedang menghubungi mamanya untuk membuat dia menuruti apa yang perempuan itu inginkan.
"Sisil! Kamu .... "
"Dion! Berhenti bikin mama pusing sekarang. Turuti apa yang Sisil katakan. Orang dia cuma minta teman kan dia datang ke pesta ulang tahun sahabatnya aja kok. Lagian, dia juga tidak selalu minta sama kamu. Apa salahnya menuruti permintaan dia itu, ha?"
"Ma, tapi .... "
"Jangan bikin alasan lagi, Dion. Jangan bikin mama stres karena ulah kamu yang tidak mau mendengarkan apa yang mama katakan. Sudah cukup kamu bikin ulah kemarin-kemarin ya. Tolong jangan tambah lagi."
"Iya-iya. Aku akan dengarkan apa yang mama katakan." Dion berucap dengan nada yang sangat terpaksa.
"Ya sudah ya sayang. Tante tutup sekarang panggilannya. Ada apa-apa, hubungi tante lagi aja."
"Baik, tante. Makasih banyak atas bantuannya yah."
"Gak perlu berterima kasih, sayang. Tante hanya melakukan apa yang seharusnya tante lakukan saja."
"Ya udah ya, bye .... "
"Da tante .... "
Panggilan itupun langsung berakhir. Dion yang terdiam sambil mendengarkan pembicaraan itu perlahan memikirkan gadis seperti apa perempuan yang sedang dia hadapi saat ini.
Jika kemarin-kemarin dia merasa kalau perempuan itu terlalu manja, sekarang dia malah berpikir, kalau perempuan itu juga punya sifat yang licik. Dia merasa sangat kesal, tapi juga tidak bisa menyalahkan perempuan itu. Pikiran tentang gadis itu di manja oleh orang tuanya yang membuat dia bersikap seperti itu, masih saja Dion pikirkan.
Dion masih belum menemukan sifat asli yang Sisil miliki sekarang. Maka dari itu dia bisa berpikir kalau penyebab Sisil seperti saat ini adalah karena dia dimanja.
__ADS_1
Namun, cepat atau lambat, yang namanya keburukan itu juga pasti akan terlihat. Karena seperti apapun baiknya menyembunyikan kejahatan, lama-kelamaan juga akan merasa lelah untuk di sembunyikan.
****
Dion dan Sisil akhirnya tiba di tempat pesta. Itu adalah hotel berbintang yang cukup terkenal. Sambutan yang diberikan buat Sisil dan Dion juga cukup sempurna. Maklum, mereka datang dari kalangan kelas atas yang cukup dihormati karena kekayaan keluarga yang melimpah.
"Ya ampun, akhirnya kamu datang juga, Sil. Aku pikir kamu gak akan datang lho, Sil."
"Ah, mana mungkin aku gak datang. Inikan pesta ulang tahun teman aku."
"Mm ... selamat ulang tahun ya. Doa terbaik aja deh buat kamu."
"Makasih banyak, sayang. Oh iya, pacar kamu ganteng banget deh. Mapan, dan terlihat cukup manis. Kalian cocok."
"Aku .... "
"Makasih banyak atas pujiannya ya. Kita ke sana dulu deh," ucap Sisil memotong cepat apa yang ingin Dion katakan.
Sisil langsung menarik tangan Dion untuk menjauh. Saat itulah, Dion merasa kalau Sisil yang dia kenal malam ini cukup jauh berbeda. Perempuan yang biasa manja saat bicara dengannya itu, kali ini mendadak seperti perempuan dewasa pada umumnya.
Awalnya, Dion hanya merasa kalau dia salah tebak. Karena malam ini, Sisil berpakaian yang cukup seksi dengan gaun yang terlihat seperti kekurangan bahan itu. Hal itu membuat Sisil sangat terlihat dewasa. Dion mengira karena itu dia merasa Sisil berubah jadi manusia normal.
Ketika mereka sudah agak menjauh dari sahabat Sisil yang sedang berulang tahun. Sisil baru melepaskan tangan Dion yang dia genggam untuk dia ajak pergi.
"Kak Dion tolong ya. Jangan bikin aku malu, untuk malam ini saja. Biarkan mereka mengira kalau kamu adalah pacar aku. Toh gak akan masalah juga buat kamu, kan? Gak ada yang kurang dari kamu hanya karena anggapan itu."
"Kamu bisa bicara normal juga, Sil?"
Seketika, Sisil jadi salah tingkah. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu yang pada akhirnya berakhir dengan sebuah kalian permohonan.
"Itu ... nanti akan aku jelaskan. Tapi tolong, ikuti saja apa yang aku katakan, kak Dion. Aku mohon."
"Terserah kamu. Jika kamu ingin aku mengikuti apa yang kamu katakan, maka jangan pernah datang lagi padaku nanti. Jika tidak, aku akan bikin ulah di sini sekarang. Ulah yang akan bikin kamu malu selama-lamanya."
__ADS_1