
"Ded, kau sudah tahu kalau perempuan itu istri kak Dion? Maafkan aku yang tidak bisa berterus terang padamu waktu itu. Aku tidak bisa mengatakan padamu kalau kak Dion menikah dengan Anggun. Itu karena .... "
"Sudahlah. Tidak perlu dibahas lagi. Semua sudah terjadi. Dia sudah menjadi kakak ipar mu, bukan? Ya meski kakak ipar angkat saja. Tapi aku yakin, kalau kamu juga bisa bantu dia."
"Apa maksud kamu?"
"Sepertinya, dia sedang ada dalam masalah yang cukup besar dan terlalu rumit, Dirl. Hubungan mereka sepertinya tidak baik-baik saja."
"Aku tidak berniat untuk ikut campur urusan pribadi orang lain. Tapi hati ini merasa sangat ingin membantu walau itu tidak baik untuk kebaikan mereka berdua."
"Tuan muda Dion, maksudku, kakakmu. Sepertinya rumah tangga mereka sedang diterpa badai saat ini."
Dedy langsung menceritakan pada Dirly semua yang telah terjadi tadi malam. Kata-kata yang Anggun dan Dion ucapkan, juga dia katakan semuanya tanpa ada yang tertinggal satupun.
"Jadi ... hubungan mereka memang tidak sedang baik-baik saja? Kalau memang benar begitu, apa yang Amelia katakan itu mungkin benar adanya."
"Maksud kamu?"
"Dia sudah menebak kalau ada yang tidak beres dengan sahabatnya. Saat mereka melakukan panggilan vidio call kemarin. Dia sudah merasakan ada yang salah. Tapi, Anggun tidak ingin mengatakan apapun pada istriku. Jadi, Amelia berniat untuk mencari tahu sendiri nantinya."
"Oh, itu tandanya, kalian akan kembali ke tanah air dalam waktu dekat ya? Kapan kalian akan pulang ke sini?"
"Aku juga belum tahu kapan waktu tepatnya. Itu semua tergantung gerakan dari tuan putriku. Jika dia bilang akan pulang hari ini, maka aku terpaksa ikut dia pulang."
"Kau terlalu bucin tuan muda Dirly. Sangat-sangat membuat aku tidak habis pikir dengan sikapmu itu."
"Yah ... kamu juga sama, Ded. Sayangnya, orang yang kamu cintai tidak bisa kamu miliki, bukan? Tapi walaupun begitu, lebih bucin nya kamu dari pada aku. Karena meski kamu tidak bisa memiliki orang itu, kamu masih tetap peduli dengan orang tersebut."
"Sudahlah. Jangan bahas soal itu lagi. Aku tidak mungkin jadi orang ketiga yang datang untuk merebut apa yang sudah tidak bisa aku miliki."
"Mm ... itu sifat baik yang sangat aku kagumi dari kamu, Ded. Oh ya, apa yang kita bicarakan saat ini, tolong jangan katakan pada siapapun lagi. Termasuk, pada Amelia. Aku tidak ingin dia berpikiran yang berat-berat mulai dari sekarang."
__ADS_1
"Aku tahu. Kamu tenang saja. Aku tidak akan bicara pada siapapun lagi."
Obrolan itu langsung berakhir. Dedy langsung memutuskan panggilan mereka setelah dia rasa semua yang ingin mereka bicarakan sudah selesai.
Sementara itu, Anggun yang sudah sampai ke rumah sakit, kini terdiam ketika melihat kamar mama mertua angkatnya sudah tidak ada orang lagi. Awalnya, dia kebingungan dengan apa yang dia lihat. Saat salah satu suster lewat, Anggun langsung menanyakan apa yang susah terjadi di kamar tersebut.
"Pasiennya sudah di bawa pulang, mbak. Tadi pagi, mereka pulang. Karena pasiennya susah membaik dan tidak perlu di rawat inap lagi."
"Oh, begitu ya. Terima kasih banyak, Sus."
"Iya, mbak. Sama-sama."
Ada rasa lega dalam hati Anggun setelah dia tahu kalau mama mertua angkatnya sudah baik-baik saja sekarang. Karena sebelumnya, dia sempat berpikir kalau mama mertua angkatnya itu semakin drop. Dan mungkin dipindahkan ke ruangan yang lain akibat penyakitnya yang semakin parah.
"Huh ... syukurlah kalau mama baik-baik saja. Aku sepertinya bisa kembali ke kantor saja dulu sekarang. Nanti sore saja ke rumah mama buat jenguk mama."
Anggun bicara pada dirinya sendiri. Setelah itu, dia langsung meninggalkan kamar rawat tersebut dengan cepat.
Mata Anggun membulat saat dia membaca daftar yang sekretarisnya kirimkan. Ternyata, kurang dari dua puluh menit lagi, dia ada rapat penting dengan klien luar kota.
Karena dia baru menghidupkan jaringan ponselnya, jadi pesan itu baru bisa masuk. Anggun sontak jadi panik akibat kelalaian yang dia buat. Kesibukan dengan urusan pribadi, sampai dia bisa mengabaikan tanggung jawab pekerjaan yang sahabatnya percayakan ada dia.
"Ya Tuhan .... Aku kok bisa begitu ceroboh sih sekarang? Aduh, mana kurang dari dua puluh menit lagi pertemuannya. Bagaimana bisa aku sampai ke kantor dengan waktu yang sangat singkat ini."
Anggun semakin mempercepat langkah kakinya. Sambil terus sibuk melihat ponsel juga, karena dia sedang berusaha menghubungi sekretaris untuk mengatakan tentang dia yang mungkin akan terlambat. Namum, karena kepanikan itu, Anggun malahan semakin membuat masalah.
Tanpa sengaja, dia menabrak seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan pintu utama rumah sakit tersebut. Karena tubuh kekar laki-laki itu, Anggun yang menabrak, Anggun juga yang terjatuh karena kehilangan keseimbangan.
"Aduh! Auh .... "
Anggun mengeluh karena pantatnya terbentuk keras dengan keramik. Sementara laki-laki itu langsung menoleh ke arah Anggun untuk melihat orang yang begitu sibuk sampai tidak melihat keberadaan dirinya yang sudah cukup besar itu.
__ADS_1
"Mbak gak papa?" tanya laki-laki itu dengan ramah.
"Aku ... aduh, sakitnya pinggangku ini."
"Ya ampun. Sini aku bantu mbak bangun."
Anggun hanya pasrah saja dengan bantuan dari laki-laki itu. Karena memang, dia sedang sangat membutuhkan bantuan dari orang lain untuk bangun. Pinggang juga pantat yang terasa begitu sakit sekarang.
Laki-laki itu membantu Anggun bagun dengan lembut. Seterusnya, dia bawa Anggun duduk di kursi tunggu yang berada tak jauh dari pintu tersebut.
"Apa aku tidak cukup besar sampai mbak bisa menabrak aku, mbak? Perasaan, aku sudah lumayan besar deh kayaknya."
"Aduh ... maafkan aku. Aku yang jalannya gak lihat-lihat, Mas. Aku sedang buru-buru soalnya. Aku punya rapat penting dengan .... "
"Ya Tuhan! Rapat!"
Mengingat kalau dia punya rapat penting, Anggun langsung berusaha bangun sambil memegang pinggangnya yang masih terasa sangat sakit. Sangking sakitnya, dia sampai mengeluh saat dia berusaha bagun.
"Auh ...!"
"Ya ampun, mbak. Mbak masih sakit, bagaimana bisa menghadiri rapat penting jika sakit begini?"
"Gak, gak papa kok, Mas. Tanggung jawab yang aku punya lebih penting untuk aku selesaikan. Lagian, aku akan baik-baik saja kok. Aku cuma perlu duduk saja, tidak jalan."
"Mbak yakin gak papa? Gak perlu periksa dulu lagi kah?"
"Gak, Mas. Gak papa. Aku akan baik-baik saja."
"Oh ya, terima kasih banyak udah bantu aku. Maaf karena kesalahan aku yang sudah menabrak kamu. Aku yang tidak hati-hati. Sekali lagi maaf."
"Gak papa, mbak. Aku gak papa. Sebaliknya, mbak yang kenapa-napa. Andai aku tidak berdiri di depan pintu tadi. Mungkin mbak akan baik-baik saja sekarang. Aku yang minta maaf, mbak."
__ADS_1