Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu

Dilamar Seperti Ratu Dijatuhkan Seperti Debu
Part *6


__ADS_3

Saat Dion masuk. Dia benar-benar merasa kaget dengan kehadiran sang mama yang sedang menatap dirinya dengan tatapan tajam.


"Mama."


"Dari mana saja kamu, Dion? Kenapa baru tiba di rumah setelah pukul delapan malam, hm?"


"Ada urusan yang harus aku selesaikan, Ma. Makanya aku pulang agak malam hari ini."


Sara langsung bangun mendengar ucapan Dion barusan. Dengan tatapan semakin tidak bersahabat, dia tatap wajah anaknya.


"Urusan? Urusan apa?"


"Urusan pribadi, Ma. Tidak perlu aku jelaskan pada mama. Karena itu tidak penting juga buat mama."


"Dion! Kamu pikir aku ini mama kamu atau siapa sih, hah! Baru saja kamu mempermainkan aku sebagai mama kamu. Kamu sudah mulai lancang sekarang ya."


"Kamu pikir mama tidak tahu kalau kamu habis dari rumah perempuan itu. Kamu tidak minta izin mama dulu sebelum ke sana. Kamu benar-benar bikin mama kecewa, Dion."


"Perempuan siapa yang mama maksudkan? Anggun?"


"Siapa lagi kalau bukan dia, hah! Perempuan yang .... "


"Cukup, Ma. Aku tidak suka mama mengatakan hal yang buruk tentang Anggun. Karena dia adalah istriku. Mama harus ingat itu."


"Dion ... kamu ... barusan kamu berani bentak mama hanya karena perempuan itu, Nak?" Seketika, nada bicara Sara langsung berubah menjadi melemah.


"Perempuan itu perempuan itu. Dia punya nama, Ma. Namanya Anggun, dia itu istri aku. Istri sah yang aku nikahkan dengan disaksikan ribuan pasang mata."

__ADS_1


"Tapi mama tidak menyaksikan pernikahan kamu, Dion. Mama tidak pernah tahu seperti apa pernikahan anak mama. Mama tidak ada di sana saat itu."


"Karena kita belum. bersama. Makanya mama tidak ada. Jadi, untuk apa lagi perdebatkan soal pernikahan aku dengan Anggun yang sudah berlalu, Ma? Seharusnya, itu tidak akan pernah jadi masalah buat mama, kan?"


"Siapa bilang tidak akan pernah jadi masalah buat, Mama? Justru, hal itulah yang akan bikin masalah besar buat mama, Dion. Kamu menikah dengan perempuan yang bukan pilihan mama. Bagaimana bisa kamu bilang itu tidak masalah, ha?"


"Terus aku harus apa, Ma? Meninggalkan istriku, lalu menikah dengan perempuan pilihan mama yang sama sekali tidak aku cintai itu? Yang benar saja kalo gitu, Ma."


"Lama-lama kamu juga akan jadi cinta pada Sisil, Dion. Menikah saja dulu. Mama yakin kalo cinta pasti akan datang menyusul kalian nantinya. Sisil itu anak baik kok, Dion. Dia anak manis yang paling lembut. Mama tahu semua tentang dia. Karena mama menyaksikan dia beranjak dewasa."


"Karena mama tidak menyaksikan aku beranjak dewasa, berarti aku bukan anak baik. Dia tidak cocok untuk aku. Lagipula sekarang, aku bukan laki-laki lajang. Aku laki-laki yang sudah punya istri."


"Kamu ngomong apa sih, Dion? Mama itu hanya ingin yang terbaik buat kamu. Karena kamu anak kandung mama satu-satunya. Kamu adalah penerus keluarga. Semua yang kamu dapatkan, haruslah yang paling baik. Apa kamu paham apa yang mama katakan?"


"Aku tidak akan paham apa yang mama katakan. Karena aku tidak mama besarkan dengan tangan mama."


"Dion! Apa yang kamu katakan barusan, ha? Di mana akal sehat kamu sekarang? Kamu ingin mama kamu sakit lagi?"


"Apa kamu sudah tidak punya perasaan lagi sekarang, Dion? Berani-beraninya kamu bicara kata-kata itu pada istriku. Kau sudah lupa darah siapa yang telah mengalir dalam dirimu itu? Darah kami! Bukan darah keluarga Prayoga yang membesarkan kamu dengan kasih sayang yang setengah itu."


"Mas ... sudahlah. Dia memang bukan kita yang membesarkannya. Karena itu, dia tidak dekat dengan kita. Tidak ingin berbakti pada kita selaku keluarga kandungnya."


"Agh! Aduh ... sakit." Tiba-tiba, Sara merintih kesakitan sambil memegang dadanya.


"Sara! Sara kamu kenapa?" Papa Dion merangkul tubuh istrinya dengan wajah yang sangat panik.


"Dadaku, Mas. Dadaku terasa sangat sakit. Sesak ... sesak sekali, Mas."

__ADS_1


"Tenangkan hatimu, Sara. Ayo kita ke kamar!"


"Panggil dokter sekarang juga, Dion!"


"Awas saja kalau ada sesuatu yang buruk terjadi pada istriku, kamu akan tahu apa akibatnya."


Dion hanya diam saja. Dia merasa sangat kesal dan terlalu tertekan. Keluarga angkatnya dulu tidak pernah melakukan semua ini untuk dia. Dia memang bukan keluarga kandung di sana, tapi kasih sayang yang dia dapatkan, tidak berkurang sedikitpun. Bahkan, kasih sayang yang dia dapatkan malahan utuh dari semua anggota keluarga.


Perasaan rindu itu semakin kuat sekarang. Menyusup ke dalam hati Dion, dan memberikan rasa bersalah untuk hatinya buat mereka semua.


'Maafkan aku, Mama, kakek, papa, dan ... terutama kalian berdua. Anggun dan Dirly. Aku tidak bisa jadi yang kalian inginkan. Dirly, aku tidak bisa jadi kakak seperti yang kamu mau. Aku bahkan tidak bisa menebus rasa terima kasihku padamu karena telah berbesar hati berbagi kasih sayang dari orang tuamu. Aku tidak bisa memenuhi permintaan kamu untuk menjaga mamamu dengan baik.'


'Anggun, kamu harus baik-baik saja. Tetaplah bertahan dengan keadaan. Aku yakin kalau keadaan ini akan segera kembali seperti semula. Aku ingin sekali melihat kamu tersenyum padaku seperti dulu lagi. Aku ingin memeluk tubuhmu. Tapi ... itu tidak bisa aku lakukan. Maafkan aku, Anggun.'


Pikiran Dion segera teralihkan dengan kedatangan papanya yang turun dari lantai dua. Dengan wajah masih marah, laki-laki itu datang kembali mendekati Dion.


"Di mana dokternya?"


"Sebentar lagi akan datang."


"Kamu bikin ulah lagi hari ini, Dion. Jika saja kondisinya memburuk akibat ucapakan kamu, maka aku tidak akan segan-segan membuat masalah dengan perusahaan yang perempuan itu pimpin. Kau tahu apa yang akan terjadi, bukan? Itu semua karena kesalahan yang kau buat."


"Aku tidak tahu, apakah kalian ini keluarga kandungku atau bukan? Tapi sepertinya, aku akan lebih baik jika aku tidak bertemu dengan kalian waktu itu."


"Kamu!"


Plak! Sebuah tamparan mendarat di wajah Dion. Tamparan keras itu langsung membuat pipi Dion yang sawo matang berubah merah.

__ADS_1


Dion tidak berucap. Hanya memegang pipi itu dengan satu tangan. Dia juga enggan untuk melihat wajah laki-laki yang sedang berada di hadapannya saat ini. Rasanya, jika ingin memilih, dia lebih baik tidak punya keluarga kandung dan tetap berada di rumah keluarga angkat. Yang meskipun keras dalam mendidik, tapi hidup penuh dengan kasih sayang.


"Kau anak yang tidak tahu terima kasih. Harusnya kamu bersyukur karena kami sudah menemukanmu. Kamu sekarang sudah punya keluarga yang utuh. Bukan malah bicara yang tidak-tidak. Bahkan, semakin membuat buruk kesehatan istriku. Aku tidak akan tinggal diam jika kamu bersikap keterlaluan, Dion. Karier perempuan itu jadi taruhannya. Kau mengerti?"


__ADS_2