Ditilang Cinta Polisi Ganteng

Ditilang Cinta Polisi Ganteng
Gara-gara Hujan


__ADS_3

Hujan menahanku untuk tetap berada di sini. Aku menunggu hingga satu jam lebih namun hujan masih belum redah.


Hari ini aku pulang ke rumah sendirian karena Novi ada acara dengan teman-temannya. baru juga di tengah perjalanan namun hujan sudah turun.


Aku berteduh di depan sebuah rumah kosong sendirian. Sedikit merinding sih karena sepertinya rumah itu sudah lama tidak ditempati.


Hujan tercampur petir dan angin membuatku semakin takut. Sesekali Aku menoleh ke belakang rumah itu, bulu kudukku semakin merinding. seperti ada orang yang lewat. langit semakin gelap dan hujan tak kunjung berhenti. aku memang bodoh kenapa jas hujan ku bisa ketinggalan.


Kulihat dari kejauhan ada sebuah cafe yang masih ramai pengunjung. Aku putuskan untuk pergi ke sana meskipun masih hujan.


Aku masuk dan memesan sebuah kopi hangat dan kentang goreng. Setelah selesai aku bayar ternyata tempat di belakang cukup luas bahkan ada di ruang atas. aku memilih duduk di depan saja sambil menunggu hujan reda.


Kopi hangat ini lumayan juga untuk menghangatkan tubuhku yang mulai kedinginan. Sudah tiga puluh menit aku menunggu hujan di cafe ini namun hujan tak kunjung reda.


Aku berjalan menuju ke toilet yang berada di bagian belakang. Aku mau lihat-lihat bagian belakang cafe ternyata cukup bagus untuk berfoto.


langkahku terhenti ketika aku melihat Mas Rudi sedang duduk bersama seorang wanita. Dia sedang asyik mengobrol. Sakit rasanya hatiku melihatnya. Aku berjalan cepat menuju toilet hingga aku menabrak seorang laki-laki.


"Maaf Mas", kataku


"Iyah enggak apa-apa mbak".


Mas Rudi menoleh kepadaku, aku juga menatapnya. Aku segera masuk ke toilet.


Aku bingung apa yang harus aku lakukan sekarang karena hujan belum juga reda. air mataku menetes dengan sendirinya. Padahal aku dan Mas Rudi memang tidak ada apa-apa.


Aku keluar dari toilet dan berlari menuju ke depan.


"Syah.... Aisyah....", panggil Mas Rudi kepadaku.


Aku enggan menoleh ke belakang. Aku menuju motorku dan bergegas pergi dari kafe itu. Mas Rudi masih mengejarku.


"Syah.... Aisyah.... tunggu".


Aku segera menjalankan motorku tanpa melihat Mas Rudi. Kulihat dari spion dia masih berdiri di parkiran.


Aku masih saja melanjutkan perjalananku meskipun hujan deras masih mengguyur tubuhku. Dingin sekali rasanya tubuhku, namun aku tak menghentikan perjalananku untuk pulang.


Empat puluh lima menit perjalanan akhirnya sampai juga aku di rumah.


Aku segera mandi, sholat dan beristirahat di kamar. Rasanya lelah sekali tubuhku ini. Badanku panas dan seluruh tubuhku mulai meriang. Aku menarik selimut dan mencoba untuk tidur.


Ibu membangunkanku dan berkata, "Syah kamu enggak makan dulu. Lo badanmu panas".


"enggak Bu, sudah kenyang".


"Ayo makan dan minum obatnya. Lain kali jika hujan kamu berteduh dulu jangan main terobos aja. Jika balik kekos jas hujannya dicek ada atau tidak ".


"Iyah Bu. nanti saja aku minum obat, aku mau tidur dulu saja".


Ibu memijitku hingga aku tertidur. Aku terbangun tengah malam, namun badanku masih panas dan meriang.


Aku melihat handphone-ku yang tergeletak dimeja kamar. Ternyata banyak sekali panggilan tak terjawab dari Mas Rudi. Dia juga mengirimi pesan namun hanya bertanya sudah sampai rumah apa belum.


Aku meletakkan hak kembali handphoneku di meja namun tiba-tiba ada sebuah pesan masuk kulihat Mas Rudi.

__ADS_1


"Syah kok belum tidur?".


Aku membacanya dan kulihat Mas Rudi memang sedang online. sepertinya dia juga melihat jika aku sedang online. Aku hanya melihat pesan itu namun tidak ku balas.


Mas Rudi mengirimiku pesan lagi. "Syah boleh saya telepon?".


Akhirnya kubalas juga."Besok saja, sudah malam aku mau tidur".


"Iyah, selamat tidur mimpi indah yah bertemu denganku he..he..he..".


"Ya".


Padahal aku berharap Mas Rudi menjelaskan apa yang kulihat tadi di cafe namun sama sekali dia tidak merasa bersalah.


Aku tidak mengerti sama Mas Rudi, sikapnya seperti memberikanku harapan namun aku melihat dia sudah dengan wanita lain lalu untuk apa dia mendekatiku.


Ah sudahlah bodo amat, Aku juga belum pernah pacaran sama sekali. Mungkin memang Mas Rudi lebih cocok jadi teman sama seperti aku dan Putra.


...****************...


Sudah dua hari aku demam, gara-gara hujan kemaren. untung saja sekarang masih hari minggu.


Ibu sudah membawaku kedokter namun badanku masih saja meriang bercampur pegal-pegal.


Nanti sore seharusnya aku sudah balik ke kos namun ibu melarangku.


Kulihat sebuah pesan masuk handphoneku. Ternyata dari Anggun, dia menayakan aku balik kekos kapan. namun tak lama dia.menelponeku juga.


"Hallo Syah".


"Kenapa nggak balik nanti sore? aku sudah dikos nih".


"Besok pagi saja aku balik. ini lagi demam, kemaren lusa aku kehujanan waktu balik dari kos".


"Padahal mau aku ajak jalan-jalan sama Mas Rizal".


"Males ah nggun, nanti aku jadi obat nyamuk lagi. kamu ngenalin orang juga sudah punya pacar".


"Lo masa' sih Syah, Setahuku Mas Rudi itu jomblo, kan waktu itu dia minta ikut jalan-jalan karena ingin dikenalin sama temenku".


"Waktu pulang kemaren aku lihat dia sama cewek dikafe. Aku nggak sengaja ketemu, gara-gara hujan aku masuk dikafe itu".


"Nanti deh coba aku tanyakan Mas Rizal".


"Lo Lo ya jangan Nggun, kamu itu gitu yah dikasih tahu. Udah ah aku mau nonton TV aja. Assalamualaikum".


"Iyah Syah waalaikumsalam".


Kenapa aku tadi harus cerita ke anggun pasti nanti dia akan cerita ke pacarnya terus pacarnya cerita juga ke Mas Rudi. entah dikiranya aku suka beneran meskipun kenyataannya iyah sih.


Ah...... sudah sudah biarin. Fokus... fokus Syah, harus kuliah dulu. gumamku dalam hati.


Seharian aku di kamar saja sambil memainkan handphoneku. Ku lihat ada panggilan masuk ternyata Putra.


"Hallo Syah".

__ADS_1


"Iyah Put, kenapa?",


"enggak apa-apa kok, kangen aja. lagi dimana nih".


"Prett.... ini lagi dirumah"


"jalan-jalan yuk, ngopi dipuncak?".


"Minggu depan aja Put, sekarang aku lagi demam, abis kehujanan. ajak Novi aja, sepertinya dia juga sudah pulang".


"Lo bisa sakit juga kamu Syah".


"Iyahlah, aku juga kan manusia".


Setelah ngobrol panjang dengan Putra, lumayan sedikit mengurangi rasa pusingku.


Kulihat sudah pukul 11.00 wib. Aku mencoba tidur sejenak biar badanku enakan lagi namun tak lama ibu memnaggilku.


"Syah..... ada Novi diteras".


"Iyah Bu, suruh masuk sini aja"


"Dia sama temanmu cowok, yang dulu sering kesini tapi lupa namanya".


Aku berdiri dan menghampiri Novi diteras rumah. Kulihat ternyata Novi bersama Putra.


Mereka membawa brownis dan seblak.


"Lo ada acara apa nih, kok pake bawa makanan", tanyaku.


"Ini lo Putra yang bawa Syah, katanya kamu lagi sakit". kata Novi


"Wah makasih yah Put, sering sering yah".


"Iyah beres, doain aja banyak rejekinya he... he...", kata Putra


"Amin. aku ambil piring dulu yah".


Kita makan sama-sama diteras rumah. Ternyata ada satu bakso.


"Lo ini kok bakso?", tanyaku


"Ya baksonya itu buat ibumu". jawab Putra


"cie....cie..... inget juga sama calon mertua", celetuk Novi.


"udah udah ayo makan saja".


Seblak yang dibawakan Putra sungguh enak. pedasnya mantap bisa membuat pusingku hilang. Keringat sudah keluar semua. Panasku sudah hilang seketika. Alhamdulillah badanku sudah enakan.


"Nggak sia-sia kalian tadi kesini. Seblaknya mantap nie", kataku.


"Iyah lah siapa dulu yang beli", jawab Putra.


"iyahlah belinya kan pake cinta", celetuk Novi.

__ADS_1


Senang sekali rasanya bisa kedatangan mereka, sahabatku sejak SMA. Kami bercanda hingga sore hari.


__ADS_2