
"Ayah kenapa?", tanyaku sekali lagi
Ibu malah menangis mendengar perkataanku itu.
"Bu, sebenarnya ada apa?".
"Ayahmu difitnah teman kerjanya Syah. Padahal Orang itu baru kerja di perusahaan itu, namun Dia menuduh Ayahmu korupsi uang perusahaan. Ayah disuruh mengganti uang perusahaan sebesar dua ratus juta Syah, jika tidak Ayahmu akan dilaporkan kepolisi.
Pemilik perusahaan juga lebih percaya dengan orang baru itu. Padahal sudah dua puluh lima tahun Ayahmu bekerja disana. Ayahmu orang yang jujur Syah".
"Astaghfirullah. Lalu kita harus bagaimana Bu, kasihan Ayah".
"Ini kita masih berfikir Syah".
Ibu masih terus menangis, beliau tak mampu cerita lagi. Padahal tadi aku mau cerita jika aku sedang sakit, namun ku urungkan niatku itu.
Rasanya lemas sekali mendengar cerita Ibu. Air mataku menetes dengan sendirinya. Lalu bagiamana nasib pernikahanku.
"Syah, kamu kenapa. Ada apa dengan orang tua kamu?", tanya Mas Rudi
"Nggak apa-apa Mas", jawabku.
Aku membuka m-banking dihandphoneku namun ternyata saldo tabunganku hanya ada tiga belas juta. Masih jauh jika untuk menutup biaya pernikahan.
Gajiku hasil menulis bulan ini juga tidak bisa diambil karena masih dibawah limit. Sudah tiga bulan aku tidak menulis dan jualan online. Kepalaku terasa sangat pusing memikirkan ini.
"Syah, hai..... kamu kenapa? kamu nggak pengen cerita ke Mas?".
Pertanyaan Mas Rudi membuatku semakin menangis. Aku memeluk Mas Rudi dengan erat. Mas Rudi berusaha menenangkan aku.
"Ada apa Syah, jangan menangis. semua bisa diselesaikan. Ceritalah", tanya Mas Rudi
Setelah sedikit tenang aku menceritakan semuanya kepada Mas Rudi. Dia juga memberikan saran-saran kepadaku. Alhamdulillah Mas Rudi masih mau melanjutkan pernikahan kita, meskipun ayahku dituduh menggelapkan dana perusahaan.
"Mas, nanti kita akad nikah saja yah, tidak usah pakai resepsi", tanyaku.
"Resepsi pernikahan kita jadi satu saja Syah".
"Gedung yang sudah kupesan. Aku batalkan saja Mas, uangnya bisa dipakai yang lain".
"Iyah nggak apa-apa, kita pake dekor dirumah saja Syah. Nanti acaranya dirumahku saja. Besok jika kamu sudah sembuh ayo kita datang ke tempat dekor sama perias pengantin yang awal kita pesan. Kita minta dirumah saja".
"Iyah Mas, Aku juga ada tabungan sedikit. lumayan buat tambahan".
"Iyah sudah kamu istirahat saja. Nanti Mas saja yang mikirin itu".
__ADS_1
Aku mencoba memejamkan mata sejenak. Terdengar suara Adzan Magrib, Aku mencoba untuk tayamum. Melihatku memakai mukenah Mas Rudi akhirnya ikut sholat dan menjadi Imamku. Alhamdulillah dengan keadaanku saat ini Mas Rudi masih mau denganku.
Setelah selesai sholat aku menyuruh Mas Rudi pulang karena dia harus bekerja. Aku mencoba memejamkan mata sambil menunggu Anggun dan Novi datang.
krekkkkk...... (suara membuka pintu).
Aku menoleh ternyata Mas Rudi kembali lagi dengan membawa makanan.
"Syah.... ini kamu makan dulu yah biar cepat sembuh", kata Mas Rudi
"Iyah Mas, kamu taruh meja situ nanti aku makan", jawabku
Kulihat Mas Rudi mengambil nafas panjang dan tersenyum kecut kepadaku. Dia duduk disampingku dan membuka nasi bungkus itu. Dia menyuapiku dengan tangannya, karena dia membeli nasi bebek.
"Terimakasih sayang", kataku sambil tersenyum.
Mas Rudi tersenyum sambil mencubit pipiku.
"Mas besok pagi kamu ke sini ya minta dokternya biar aku bisa pulang".
"Iyah sayang".
Ditengah-tengah candaku handphone-ku berbunyi. Kulihat sebuah pesan dari Bu Dina. Alhamdulillah ternyata skripsiku sudah ditandatangani. Tinggal minta tanda tangan lagi ke dosen satunya. Senang sekali rasanya mendengar kabar ini setidaknya perjuanganku selama ini tidak sia-sia.
"Assalamualaikum".
"cie......cie..... romantis sekali sih kalian", celetuk Anggun dan Novi.
"Iyah nih, temen kalian satu ini emang manja", sahut Mas Rudi
Aku hanya tersenyum melihat obrolan mereka. Mas Rudi akhirnya pamitan Karena memang dia harus bekerja.
Alhamdulillah aku punya teman-teman yang baik. yang mau membantuku saat ini, gumamku.
Hingga malam kita masih bercanda bersama, rasa sakitku sedikit berkurang karena adanya mereka.
Kulihat sudah jam sembilan malam, aku memutuskan untuk tidur terlebih dulu. Anggun dan Novi sibuk dengan laptopnya masing-masing. Mereka juga sedang menyelesaikan skripsi biar kita bisa lulus bareng.
Aku terbangun ketika mendengar suara ngaji sebelum adzan subuh. Anggun dan Novi sudah tidur terlelap namun laptopnya masih menyala sepertinya mereka ketiduran.
Badanku sudah lebih segar daripada kemaren. Nanti aku akan memaksa dokter agar aku bisa pulang. aku juga sudah bisa ke kamar mandi sendirian. Aku mengambil air wudhu sambil menunggu adzan subuh.
Setelah sholat Subuh aku bangunkan Novi dan Anggun. Aku juga menyuruh mereka pulang dulu. Namun hanya Novi yang pulang karena memang dia mau bertemu dosen pembimbingnya pagi ini. Sementara Anggun melanjutkan tidurnya.
Aku terbangun ketika mendengar suara berisik seseorang. Ternyata Mas Rudi dan Mas Rizal sudah datang. Kulihat sudah jam 07.30 wib namun mereka masih memakai seragam.
__ADS_1
Mereka tertawa karena Mas Rizal tidur disamping Novi yang sedang ngorok dan Mas Rudi memfoto mereka.
Akupun ikut tertawa melihat kelakuan mereka yang seperti anak kecil. Tak lama Anggun terbangun dan berteriak karena kaget melihat wajah Mas Rizal yang sudah sangat dekat dengannya.
Semua tertawa melihat Anggun yang marah-marah dengan Mas Rizal. Ah mereka itu memang lucu.
Mas Rudi mengajak kita untuk makan bersama, karena mereka juga sudah membeli nasi bungkus. Senang sekali pagi ini, sejenak bisa melupakan sakit dan masalah dirumah.
Kulihat nasi tinggal satu, sebenarnya itu untuk Novi. Namun dia pulang duluan.
Tak lama dokter pun datang dan memeriksa keadaanku. Alhamdulillah aku sudah boleh pulang.
Infus ditanganku juga sudah mulai dilepas. Aku berganti baju yang dibawakan Novi kemaren.
Setelah menyelesaikan administrasi, Mas Rudi membantuku beberes. Namun Anggun dan Mas Rizal sedang asyik berpacaran.
ehemm.... ehemm.... (sindirku kepada Anggun dan Pak Rizal).
"Padahal kita tuan rumahnya Lo Mas tapi kok kyak kita yang ngontrak yah he...he...", kata ku kepada Mas Rudi
"Sayang ayo kita pulang saja biar mereka di sini", jawab Mas Rudi
"Sini-sini aku bantu", sahut Mas Rizal dan Anggun
"Mas, kita naik apa. Anggun enggak bawa motor. kemaren dia bareng Novi", tanyaku
"Yah naik mobil sayang. masa' naik becak", jawab Mas Rudi
"Ya kali aja naik truck atau pesawat he... he...".
Aku berjalan menuju parkiran dibantu Mas Rudi. Namun kulihat keluar tidak ada Mobil Mas Rudi yang terparkir.
"Mana Mobilnya Mas", tanyaku sambil menengok kanan dan kiri.
"Naik ojol kali Syah", sahut Anggun
"Sebentar Aku ambilkan", sahut Mas Rizal
Mas Rizal berjalan keluar pagar untuk mengambil Mobil. tak lama kulihat sebuah mobil polisi masuk ke dalam klinik.
Aku dan anggun tertawa terbahak-bahak sambil berkata, "lah kok pakai mobil polisi Mas?".
"Iyah kan sekalian kita pulang tadi habis mengatur lalu lintas", Jawab Mas Rudi
"Astaga kita seperti narapidana", sahut Anggun
__ADS_1
"*Nggak apa-apa ini pengalaman indah".
ha...ha...ha...ha*...