
Pak Sholeh... Pak Sholeh..... nama itu terus terngiang-ngiang di kepalaku.
Apa mungkin Pak Sholeh itu Ayah Putra?. Seingatku dulu waktu SMA Aku sering memanggil Putra dengan sebutan Sholeh karena itu nama Ayahnya.
Aku masih terdiam dan tak menjawab sedikitpun pertanyaan Mas Rudi.
Aku mengambil handphoneku. Setelah Mas Rudi pergi keluar untuk membeli makan. Aku mencoba menelpon Novi.
"Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam"
"Lo Pak Zain, Novi ada Pak?", tanyaku
"Barusan keluar Syah, handphonennya ketinggalan", Jawab Pak Zain.
"Pak, Saya mau tanya. Masih ingat dengan Putra kan? Pak Zain tahu nama Ayah Putra?".
"Yah, nggak hafal Syah. Sebentar Tak lihat di fileku. Tak buka laptop dulu yah nanti aku kabari".
Ah kenapa harus menunggu sih, keburu Mas Rudi kembali, gumamku.
Sekitar sepuluh menit Aku menunggu, akhirnya Pak Zain mengirimkan sebuah pesan.
"Iyah nama Ayah Putra, Ach. Sholeh".
"Terima kasih Pak, informasinya", balasku
Astaghfirullah.... berarti benar Putra yang sengaja menendang motorku kemaren, gumamku dalam hati.
Tak lama Mas Rudi kembali, dia tersenyum kepadaku.
"Sayang, ayo kita makan. Kamu Mas belikan bubur ayam", kata Mas Rudi
"Kamu saja Mas, Aku nggak mau bubur ayam seperti orang sakit saja makan bubur", jawabku
Mas Rudi tersenyum dan mencubit hidungku sambil berkata, "La kamu itu kan lagi sakit sayang. masa' nggak sadar itu Lo".
"Aku sudah sembuh kok".
"Ya udah makan sama-sam punyaku ini".
"Kamu beli nasi apa?".
"Nasi campur, sepertinya pedas. Kamu makan mie sama nasinya saja yah".
Aku menganggukan kepalaku, dan Mas Rudi mulai menyuapiku. Ah...... senangnya.
Mas Rudi mengambil handphonenya yang berbunyi. Kudengar dia mendapat telepon dari kepolisian. Setelah mengobrol lama dengan pihak polisi akhirnya Mas Rudi menceritakan itu kepadaku.
__ADS_1
"Syah ternyata polisi sudah menemukan rumah Pak Soleh dan pada malam kejadian sebenarnya motor itu dibawa oleh anaknya", kata Mas Rudi.
Sejenak Aku terdiam. Astaghfirullah apa Aku harus menceritakan tentang Putra kepada Mas Rudi atau Aku harus diam saja dan membiarkan masalah ini selesai dengan sendirinya.
Lama ku pikirkan akhirnya aku membuka suara tentang putra.
"lalu siapa anak Pak Soleh itu mas", tanyaku
"Anak Pak Sholeh yang memakai motor itu masih kerja, namun sudah diberikan surat panggilan. Aku juga lupa menanyakan namanya".
"Sebenarnya aku tahu anak pak Sholeh itu, tapi kamu jangan marah ya jika aku ceritakan".
"Iyah sayang, siapa dia".
"Dia teman SMA ku Mas. Kita memang bersahabat. Dulu Dia pernah menyukaiku namun dia tak pernah mengatakannya kepadaku.
Ketika Aku sudah dekat dan mencintaimu Mas, Putra baru menyatakan cintanya. Sampai sekarang dia belum bisa move on dari Aku Mas.
Sebenarnya kemarin aku bertemu di nikahnya Novi. Dia juga sempat bilang akan menunggu jandaku. Bahkan didepan teman-teman yang lain dia menyindirku seperti itu.
Waktu kita makan di pernikahan Novi, Putra melihat kita, kulihat wajahnya seperti marah dengan kedekatan kita.
*T*api Aku juga tidak tahu jika dia nekat berbuat seperti itu Mas. Selesaikan dengan cara kekeluargaan saja Mas. Kasihan juga orang tuanya, mereka juga mengenalku".
"Tapi Putra sudah keterlaluan Syah, harus diberi pelajaran. Jika didiamkan saja, dia malah terus mengganggu kita. Dia akan terus berusaha memisahkan kita. Biar dilanjutkan saja proses hukumnya, ada bukti CCTV juga".
"Lalu calon anak kita, bagaimana? Kamu keguguran kan akibat kecelakaan ini. Kamu lihat kakimu itu, apa bisa kamu besok berjalan normal. harus nunggu beberapa bulan kan. Apa kamu masih menyukainya?".
"Maksud kamu apa Mas, Aku sama Putra tidak ada hubungan apa-apa. Pacaran pun tidak pernah. Kita dulu dekat cuma sekedar sahabat, itu juga ada Novi, Dimas dan lainnya. Tadi kan sudah Aku bilang, jangan marah, sekarang apa malah menuduhku yang bukan-bukan".
Mas Rudi hanya diam, dan pergi melihat kemarahan ku barusan.
Aku hanya terdiam memikirkan perkataan Mas Rudi barusan. Semua yang dikatakan memang benar. Putra sudah menyebabkan Aku keguguran. Kakiku juga pincang sebelah.
Aku mengambil handphoneku dan mencoba mengirimi Putra pesan, namun tak juga dibalas.
Kulihat Mas Rudi datang dan menghampiriku, dia hanya diam tanpa memandangku.
Tak lama handphoneku berbunyi, kulihat itu dari Putra. Aku menyalakan loudspeakernya.
"Terimakasih yah Put, kamu sudah membunuh calon anakku", Kataku
"Maksud kamu apa Syah?", jawab Putra
"Tidak usah pura-pura, Kamu kan yang yang sengaja menendang motorku waktu Aku pulang dari acara resepsinya Novi".
"Jangan halu kamu Syah, untuk apa? Aku mencintaimu, mana mungkin Aku melukaimu", jawab Putra
Putra masih terus saja mengelak. Mas Rudi tiba-tiba mengambil handphoneku dan berbicara dengan Putra.
__ADS_1
"Kamu yang datang sendiri ke kantor polisi apa saya dan polisi lain yang akan menjemput paksa?".
"Gila kalian itu".
Tut....Tut....Tut.....
Putra langsung menutup telponnya ketika Mas Rudi yang berbicara.
"Kamu lihat Syah, jika dibiarkan Putra itu bisa jadi psikopat. Bisa-bisa dia merebutmu dariku. Bahkan dia juga bisa melukai Kamu dan Aku".
"Iyah maafkan Aku Mas. Aku terserah kamu saja. Jangan marah lagi Mas".
"Iyah", jawab Mas Rudi dengan wajah datar.
"Peluk Aku Mas", pintaku
Mas Rudi memelukku dan menci**m keningku. Aku tersenyum dan menatap Mas Rudi. Sudah kamu tidur sana, Mas juga istirahat, nanti malam Mas harus kerja.
Alhamdulillah Mas Rudi sudah tidak marah lagi. Mas Rudi tidur disofa rumah sakit, Aku juga mencoba untuk tidur siang.
Aku terbangun ketika perawat mengganti cairan infusku. Kulihat sudah hampir jam lima sore Mas Rudi juga masih tertidur.
Tak lama Ibu juga datang untuk menjagaku. Ibu tersenyum dan membawakan banyak makanan untukku.
Aku mulai membangunkan Mas Rudi, karena dia juga harus kembali ke Surabaya untuk bekerja.
Aku menyuruh Ibu untuk beristirahat disofa, kasian karena beliau baru pulang kerja. Ayah tidak ikut karena harus menjaga warung kopi. Setelah tidak bekerja dikantor, Ayah memang membuka warung kopi. Alhamdulillah jika malam sangat ramai pengunjung, hingga dua orang karyawan kwalahan.
Setelah makan malam bersama Ibu, Aku mencoba untuk tidur namun suara handphonenku mengurungkan niatku. Kulihat ternyata Novi.
"Assalamualaikum Syah"
"Waalaikumsalam Nov, ada apa nih malam-malam begini telpon. Apa tidak malam pertama".
"Apaan sih kamu Syah. Eh kamu dimana sekarang. katanya kamu kecelakaan?", tanya Novi.
"Kata siapa sih Nov, Aku baik-baik saja".
"Disini sedang heboh, katanya Putra habis nabrak orang dan sedang dicari polisi, dan yang ditabrak itu mantan Pacarnya yang sudah menikah dengan polisi".
"Lo Aku kan bukan mantan pacarnya Putra Nov".
"Tapi Mas Rudi kan polisi Syah. Putra juga menyukaimu. Kamu tahu sekarang Putra itu nggak pulang kerumah. Orang tuanya sibuk Mencarinya karena dikira sudah ditangkap polisi. Handphonenya juga dimatikan".
"Ha.....? Putra kabur?
"Iyah Syah".
Sejenak Aku terdiam, berarti memang benar pelakunya Putra.
__ADS_1