Ditilang Cinta Polisi Ganteng

Ditilang Cinta Polisi Ganteng
Dirumah Sakit


__ADS_3

Sekitar jam tujuh pagi dokter datang untuk memeriksaku. Kakiku yang cedera tidak sampai patah, hanya bengkak dan sebagian ada yang sedikit robek dan dijahit.


Aku menanyakan soal darah, namun dokter tidak bisa memastikan, beliau melimpahkan kedokter kandungan. Setelah ini dokter kandungan akan datang dan memeriksa kandunganku.


Setelah dokter itu memeriksaku beliau memutuskan untuk membawaku ke ruang USG. Aku didorong Mas Rudi menggunakan kursi roda menuju ruangan itu.


Dokter memeriksa keadaan kandunganku namun beliau tidak menjelaskan apapun meskipun aku banyak pertanyaan.


Tak lama dokter hanya menyuruh perawat untuk mengantarkanku kembali ke kamar sementara Mas Rudi tetap berada di ruangan dokter itu.


Setelah hampir 30 menit Mas Rudi kembali menuju ke kamar. Aku bertanya kepada dia namun Mas Rudi hanya tersenyum. dia hanya menyuruhku untuk beristirahat.


"Mas apa Kata dokter tadi?", tanyaku.


"Enggak ada apa-apa sayang, sudah kamu istirahat saja biar cepet sembuh".


"Perutku sakit sekali Mas, Aku nggak kuat, tolong ambilkan air, Aku mau minum obat anti nyeri",


"Jangan sayang, kamu puasa dulu beberapa jam yah".


"Untuk apa Aku puasa Mas. Jelaskan padaku. Auhhhh.... ahhhhh.... sakit Mas, sepertinya keluar lagi darahnya, kamu belikan pembalut dulu".


"Sabar sayang.... Sebenarnya nanti jam satu siang, kamu Akan dikure**** karena janinnya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Jika dibiarkan akan berbahaya untuk kamu juga".


Aku menangis histeris sambil berteriak, "Aku nggak mau Mas, Aku mau mempertahankan anakku. Kamu Ayah macam apa, tega sekali".


"Syah.... tenang dulu... darah yang keluar itu sebenarnya kamu sudah keguguran. Kure**** hanya membersihan ra*** kamu. Nanti juga bisa hamil lagi kok. Setelah ini kita program hamil lagi".


Aku masih menangis tak terima dengan keputusan dokter dan Mas Rudi.


"Mas, siapa orang yang menabrak kita", tanyaku


"Sudahlah, itu biar jadi urusanku sayang. sekarang pikirkan kesehatan kamu saja".


"Jawab Mas".


"Aku juga tidak tahu Syah, kejadiannya begitu cepat. Mas hanya melihat pria yang mengendarai sebuah motor trail dan sepertinya sengaja menendang motor kita. Waktu itu, Mas hanya fokus ke kamu yang sempat terseret dan akhirnya jatuh kesawah kering.


Teman-teman Mas sudah menyelidikinya kok, Mas juga tidak akan melepaskannya. Akan ku cari hingga ketemu".


"Apa orang itu begal Mas?".


"Sepertinya bukan karena pria itu sendirian".


"Kamu nggak apa-apa Mas?Apa ada yang luka?".


"Nggak apa-apa hanya lecet sedikit dikaki dan tangan".


Aku hanya berbaring diatas tempat tidur pasien, hanya mampu menatap atap kamar rumah sakit dan menunggu untuk dibawa keruang operasi.

__ADS_1


Air mataku menetes dengan sendirinya, hanya kata "Kenapa" yang terus ada dibenak ku.


Mas Rudi mengelus-elus rambutku, dan sesekali menci**m keningku. Dia jua menggodaku agar aku tidak terlalu sedih.


"Mas, ayo kita pulang saja", tanyaku


Mas Rudi hanya tersenyum dan berkata, "sabar sayang, nanti pasti kita pulang".


Tak terasa perawat datang menghampiriku dia menyuntikkan obat diinfusku. Mas Rudi menggendongku dan memindahkanku diatas kursi roda.


Aku didorong melewati lorong rumah sakit dan dimasukkan kesebuah ruangan. Mas Rudi menggendongku lagi dan memindahkanku ke atas tempat tidur. Aku menggenggam tangan Mas Rudi begitu erat. Aku takut sekali.


"Mas, jangan tinggalkan Aku".


"Iyah sayang, Mas akan menunggu disini", jawab Mas Rudi


Mas Rudi menc**mku lagi, lalu perawat mendorongku memasuki kesebuah ruangan besar yang begitu dingin.


Aku menatap sekitar ruangan, suasana sangat hening. "Aku mau diapakan dok", tanyaku kepada seorang pria yang menyuntikkan sesuatu di infusku.


Pria itu hanya tersenyum, dan terasa seperti mimpi.


...****************...


POV (Sudut pandang Mas Rudi)


Aku masih menunggu di depan kamar operasi. tak lama Ibuku datang menghampiriku.


"Masih diruang operasi Bu, harus diku****se karena tadi pagi dia pendarahan", jawabku


"Yang sabar Nak, InsyaAllah nanti disegerakan untuk mendapatkan anak lagi".


"Amin Bu".


Sudah tiga puluh menit Aku dan Ibu menunggu, tak lama mertuaku juga datang kesini. Beliau kaget sekali Aku beritahu jika Aisyah kecelakaan.


"Rud, bagaimana Aisyah?", tanya ibu mertuaku


"Masih diruang operasi Bu, harus diku****se karena pendarahan akibat kecelakaan tadi malam", jawabku


"Lo berarti waktu Ibu telpon tadi malam kamu sudah dirumah sakit?".


"Iyah Bu, tapi saya nggak bilang, takut ibu khawatir, sudah malam juga".


"Astaghfirullah pantesan Ibu mikirin kalian. Bagaimana ceritanya Rud".


Aku menceritakan kejadian malam itu kepada orang tuanya Aisyah. Mereka mendengarkan sambil meneteskan air mata, kasihan juga.


Setelah satu jam menunggu akhirnya Aisyah keluar dari ruangan operasi, mereka memindahkan ke kamar perawatan.

__ADS_1


Hingga sore Aisyah belum sadar juga. Karena sudah ada Ibu dan Mertuaku, Aku berpamitan untuk pergi kekantor polisi untuk mengetahui pelaku yang menabrakku.


Sesampainya disana, rekanku sudah mendapat rekaman CCTV dari sebuah warkop, beruntung plat motornya terlihat.


Ternyata pemilik motor sudah ketemu, namun ternyata mereka sudah menjual kepada seorang makelar bernama Pak Heri.


Polisi sudah mendatangi rumah Pak Heri. Namun Pak Heri masih belum pulang ke rumahnya. Tak apalah setidaknya sudah ada titik terang.


Setelah dari kantor polisi, Aku bergegas menuju ke Surabaya karena Aku harus bekerja namun jika tidak terlalu padat pekerjaannya, mungkin Aku ijin untuk pulang lebih awal.


Sesampainya disana, Aku langsung bertemu pimpinan untuk meminta ijin nanti pulang lebih awal. Alhamdulillah pimpinan mau mengerti keadaanku saat ini.


Setelah beberapa jam Aku berjaga, Aku bergegas pulang dan menuju kerumah sakit. Perjalan kerumah sakit membutuhkan sekitar 45 menit.


Aku mampir untuk membelikan makanan untuk Aisyah dan mertuaku.


Alhamdulillah sesampainya dirumah sakit Aisyah sudah bangun namun dia tampak melamun.


"Bagaimana Syah, sudah enakan?", tanyaku


Aisyah hanya menganggukan kepalanya, mungkin dia masih tak terima jika harus kehilangan calon bayinya.


Aku mencoba menghiburnya dan menci**m keningnya. Kulihat sudah hampir subuh. Aisyah juga sudah tertidur lagi.


"Nanti Ibu pulang saja biar saya yang menjaga Aisyah. Besok sore saja gantikan saya, karena besok saya harus bekerja lagi", kataku kepada Ibu mertuaku.


"Iyah Rud, nanti setelah subuh Ibu pulang, karena harus bekerja. Besok jam empat Ibu kembali lagi kesini".


"Iyah Bu".


Kulihat sudah hampir subuh. Aisyah juga sudah tertidur lagi.


Tak terasa sudah jam tujuh pagi, ternyata Aku tertidur. Kulihat Ibu mertua juga sudah pulang.


"Selamat pagi sayang. kamu mau dibelikan makan diluar apa dari rumah sakit?", tanyaku


"Terserah kamu Mas", jawab Aisyah


Tak lama dokter datang untuk memeriksa Aisyah, Alhamdulillah keadaannya sudah mulai membaik. Besok Aisyah sudah boleh pulang.


Kring.... kring.... kring.....


Dering handphoneku berbunyi. Ternyata dari kepolisian mereka sudah berhasil menemui Pak Heri makelar itu. Mereka memberitahu pembelinya memang masih daerah sini. Setelah menutup telponnya Aku bertanya kepada Aisyah.


"Sayang, rumah Novi itu kan desa sumber indah. Coba kamu tanyakan yang bernama Pak Sholeh", tanyaku


"Untuk apa Mas", tanya Novi


"Pemilik motor trail yang menabrak kita itu bernama Pak Sholeh".

__ADS_1


Sejenak Aisyah terdiam, entah apa yang dia pikirkan.


Sayang.... sayang..... kamu kenapa? Apa kamu kenal dengan Pak Sholeh?


__ADS_2