Ditilang Cinta Polisi Ganteng

Ditilang Cinta Polisi Ganteng
Kedatangan Putra ke rumah


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit aku menginap di rumah ibu sehari. Namun rasanya bosan sekali tak bertemu dengan Mas Rudi.


Hari ini aku memutuskan untuk kembali ke kontrakan disurabaya. Mas Rudi menjemputku sore ini karena Mas Rudi juga harus bekerja nanti malam.


Aku rebahan sambil menunggu Mas Rudi datang menjemputku.


"Astagfirullah........Kamu kapan sampai Mas, tiba-tiba sudah dibelakang ku", tanyaku


"Sudah dari tadi, kamu tidur sambil ngorok", jawab Mas Rudi


"Tadi niatnya hanya rebahan tapi malah ketiduran".


"Ayo kita balik Syah, nanti Aku keburu kerja. kamu shalat dulu sana, sama mandi sekalian".


"Iyah bawel, ambilkan tongkatku itu".


Aku berjalan kekamar mandi dengan menggunakan tongkat, karena kakiku memang masih sakit jika dibuat jalan, jahitannya juga belum kering.


Setelah selesai, Aku dan Mas Rudi bergegas kembali pulang ke kontrakan.


Selama perjalanan kita sesekali berhenti untuk membeli makanan karena memang aku tidak memasak.


Sesampainya dikontrakkan, Aku dan Mas Rudi beristirahat sejenak. Tak lama Mas Rudi juga berangkat bekerja.


Ah sendirian lagi dirumah, gumamku.


"Aku berangkat dulu yah sayang, jika ada apa-apa kamu telpon yah", kata Mas Rudi


"Iyah. kamu hati-hati", jawabku


Aku mengunci semua pintu rumah dan jendela. Aku berjalan terpincang-pincang sambil menggunakan tongkat menuju kekamar, namun belum juga sampai ada yang mengetuk pintu.


tok.... tok.... tok.....


Aku berjalan perlahan kubuka pintu. Mungkin Mas Rudi ada sesuatu yang tertinggal, gumamku.


tok.... tok.... tok....


"Sebentar Mas".


Aku mulai membukakan pintu.


"Astaghfirullah......" Aku menutup pintu kembali namun dia berhasil mendorong pintu itu hingga aku terjatuh.


auuhhhhhhhh.......


"Ngapain kamu ke sini Put. Tahu dari mana kamu rumahku".


"Aku mengikuti kamu tadi sewaktu dirumah ibumu. Syah dengerin Aku dulu", kata Putra


"Pergi kamu Put, atau Aku teriak maling".


Aku berusaha berdiri, Putra mencoba membantuku namun Aku menolaknya.


"Pergi Put, kamu sudah membuatku keguguran".

__ADS_1


"Aku tak bermaksud Syah, Aku khilaf. Waktu itu kamu makan berdua dengan Rudi, rasanya hatiku sakit sekali".


"Pergi Put, Aku tidak mau mendengarnya".


Aku mencoba memukul Putra agar dia segera pergi, namun Putra menggengam kedua tanganku dan membalikkannya kearah punggung.


"auhhhhh...... lepas Put, sakit tahu".


"Dengarkan dulu penjelasanku Syah. Aku sungguh-sungguh mencintaimu Syah. Kepalaku rasanya mau pecah hanya memikirkanmu".


Aku terus mencoba berontak namun genggaman tangan Putra begitu kuat.


"Lepas Put sakit..... itu bukan cinta tapi nafsumu saja yang ingin memilikiku. Aku sudah menikah Put dan Aku mencintai suamiku. Auhhhh..... sakit Put. Lepas atau Aku akan teriak maling".


"Teriak saja, ini sudah malam tidak ada yang mendengar".


"Tolong..... tolong.....".


Putra mendorongku hingga terbentur tembok. Kedua tanganku dipegang dan dipepet ditembok. Aku terus meminta tolong. Namun tiba-tiba Putra menc*** bibirku hingga Aku tak bisa bernafas.


Aku berusaha berontak namun genggaman Putra begitu kuat. Dia menginjak kakiku sebelah kanan. hingga membuatku semakin susah bergerak.


Aku terus berusaha melepaskan Putra. Akhirnya Aku menendang bagian sensitif milik Putra dengan menggunakan kakiku yang sakit.


Dia melepaskanku, karena merasa kesakitan. Aku merangkak dan mencoba berdiri menuju keluar rumah dengan menyeret kakiku yang penuh darah. Kulihat Putra memegang bagian sensitifnya yang kutendang tadi sambil mengejarku.


"Tolong.... tolong..... maling.... maling......", teriakku.


Mendengar teriakanku yang semakin keras itu, Putra berlari dengan motornya begitu kencang. Tak lama satpam dan tetangga sebelah datang menolongku.


"Ada maling Pak, namun barusan lari kesana", jawabku


"Mbak kakinya berdarah, ayo kuantar masuk", kata Mbak Dewi tetangga sebelah.


Aku berjalan perlahan masuk kedalam rumah dan dituntun Mbak Dewi. Terdengar diluar masih ramai warga yang heboh tentang maling, padahal Putra memang sengaja mencariku. Aku tak mungkin menjelaskan yang sebenarnya.


Setelah Mbak Dewi dan warga lainnya pergi, Aku segera mengambil handphone dan menelpon Mas Rudi.


"Mas, Kamu pulang sebentar yah. Kakiku sakit sekali, berdarah lagi. Barusan Putra dari sini. Aku menendangnya hingga kakiku berdarah lagi", kataku.


"Lo kok bisa Putra tahu kontrakan kita Sayang?", tanya Mas Rudi


"Putra mengikuti kita waktu kita dari rumah Ibu tadi. Aku meneriaki dia maling, akhirnya dia pergi. Dia menjelaskan jika malam itu sebenarnya tak bermaksud mencelakai kita".


"Iyah Mas Pulang sekarang, pintunya kamu kunci. jangan dibuka sebelum Mas datang".


"Iyah hati-hati Mas".


Maafkan Aku Mas, belum sanggup jujur jika tadi Putra menciumku. Aku takut kamu tidak percaya denganku, gumamku dalam hati.


Sekitar dua puluh menit Mas Rudi sampai dirumah. Aku membukakan pintu dan memeluknya. Ternyata dia bersama Pak Rizal dan satu rekan lainnya.


ehem.....ehem....., celetuk Pak Rizal.


Ah malu sekali aku, gumamku. Aku hanya tersenyum kepada mereka.

__ADS_1


Aku menarik Mas Rudi kedalam.


"Mas Aku takut sekali. Aku ikut kamu kerja yah, nanti Aku tidur dimobil tak apa-apa", kataku.


"Kamu diapakan sama Putra hingga kamu ketakutan seperti ini. Kakimu juga berdarah lagi. Jujur sama Aku sayang", tanya Mas Rudi


"Kamu janji dulu tidak akan marah dan mau percaya denganku Mas?".


"Iyah Mas janji, sekarang jelaskan".


"Beberapa menit setelah kamu berangkat, ada yang mengetuk pintu, ku kira itu kamu ternyata itu Putra. Aku sudah mencoba menutup pintu rumah tapi Putra mendorongku hingga Aku jatuh. Dia menjelaskan semuanya, Aku berteriak tapi dia malah memegang tangan dan menginjak kakiku yang sebelah. Dia juga......".


"Juga apa Syah?".


"Dia sempat menciumku Mas, tanganku dipegang begitu kuat Mas, Aku tak bisa menghindar. Namun Aku sempat menendang bagian sensitifnya. Dia terjatuh dan Aku berhasil keluar. Percaya padaku Mas, Aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan Aku Mas".


"Makin kurang ajar Putra, psikopat itu Syah. Nggak bisa dibiarkan. Mas Akan cari dia".


"Mas, jangan tinggalkan Aku. Aku mencintaimu Mas".


"Iyah sayang, Kamu ikut Mas sekarang. Kuantarkan pulang ke rumah Ibu".


Aku memeluk Mas Rudi. Mas Rudi menc**m keningku dengan rasa marah. Aku mengambil tasku, kudengar Mas Rudi menghubungi teman-temannya untuk mencari Putra.


Aku tak tahu lagi status Putra sekarang apa, entah DPO atau sudah jadi tersangka. Aku takut jika harus bertanya saat ini, karena Mas Rudi sedang marah dan emosi sekali dengan Putra.


Sepanjang perjalanan pulang Mas Rudi hanya diam saja.


"Mas, maafkan Aku", kataku


"Iyah", jawab Mas Rudi


"Kamu jangan diam saja Mas, Aku takut".


"Mas lagi nyetir Syah".


"Biasanya juga bisa sambil ngobrol".


"Oh yah Syah, apa kamu punya fotonya Putra".


"Sepertinya ada Mas, Aku carikan di sosmed. Tapi dulu waktu kita nikah dia datang dan sempat berfoto".


"Kamu cari dan kirimkan ke Mas, sekarang".


Aku mengirimkan foto Putra kepada Mas Rudi. Selang beberapa lama akhirnya Aku sampai rumah juga.


"Mas, untuk apa foto Putra tadi?", tanyaku.


"Biar mudah dalma proses pencarian. Sudah kamu masuk rumah sana, Mas Langsung berangkat".


Aku menc**m kening Mas Rudi dan berkata, "hati-hati dijalan Mas, Aku mencintaimu".


Mas Rudi hanya menganggukan kepalanya. Aku keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah dengan bantuan tongkat sambil terpincang-pincang, bahkan bekas darah yang merembes juga belum Aku bersihkan.


Mas Rudi hanya melihatku dari dalam mobil, dia membiarkanku berjalan sendirian dengan keadaanku saat ini.

__ADS_1


Aku menutup pintu pagar, Mas Rudi melajukan mobilnya dengan cepat. Air mataku menetes dengan sendirinya, tak biasanya Mas Rudi seperti ini. Baru kali ini Aku melihat Mas Rudi benar-benar marah.


__ADS_2