
Tega sekali Mas Rudi denganku. Dia benar-benar melakukan itu pagi ini. Rasanya sakit sekali tak ada enak-enaknya sama sekali yang ada hanya rasa sakit hingga darah tumpah begitu banyak diatas tempat tidur.
Melihat darah begitu banyak diatas tempat tidur, Mas Rudi melepaskan itu. Aku hanya menangis dan menatap Mas Rudi dengan penuh kesal.
"Maaf sayang, kamu jangan menangis lagi", kata Mas Rudi sambil menc**mku.
"Kamu nyebelin Mas, sakit bercampur perih tahu. Perutku juga terasa kram", jawabku.
"Sakitnya cuma sekali sayang, setelah itu malah enak kamu pasti ketagihan".
"Sok tahu kamu mas, emang kamu sudah pernah berbuat itu".
"Iyah belum. kata teman-teman yang udah nikah".
"Terserah kamulah. lalu nasib seprei ini gimana Mas? Kamu aja yang nyuci Aku malu tahu".
"Iyah... Iyah... nanti aku cuci malam-malam biar nggak ada yang lihat. Itu dilemari ada seprei lagi. kamu ganti aja, Aku mau mandi dulu".
"Udah capek, ditusuk, sakit, masih aja disuruh beres-beres".
"Yah udah Mas aja yang ganti, kamu mandi lagi sana".
Aku tersenyum melihat Mas Rudi yang mengganti sprei. Aku berdiri dan menuju kekamar mandi, rasanya aneh sekali tubuhku ini.
Begini amat yah rasanya, setelah *********, gumamku.
Setelah mandi, Sejenak Aku berbaring diatas tempat tidur. Rasanya perutku masih terasa kram bercampur mulas.
Ibu mertuaku memanggilku menyuruh untuk makan. Aku menghampiri beliau, namun Aku menunggu Mas Rudi.
__ADS_1
Ternyata hari ini, Ibu mertua mengadakan pengajian. Didapur masih banyak orang yang membantu Ibu memasak.
Hari ini adalah hari ketiga aku jadi istri Mas Rudi. Meskipun acara resepsi sudah selesai namun masih ada saja tamu yang datang.
Setelah makan Aku membantu didapur namun ketika Ibu datang beliau tersenyum dan menyuruhku untuk beristirahat saja. Sepertinya Ibu tahu kita habis ngapain, mungkin karena melihat Mas Rudi keramas.
Alhamdulillah.....bisa beristirahat, gumamku.
Rasanya memang lelah sekali. Badanku juga seperti meriang karena perbuatan Mas Rudi tadi.
Aku berbaring dikasur, mencoba untuk istirahat. Tubuhku lemas sekali, rasanya tak kuat untuk berdiri.
Tak lama Mas Rudi menghampiriku dan menyuruhku keluar karena ada beberapa temannya yang datang. Dia menggandengku keluar kamar.
"Lo sayang badanmu kok panas yah?, sepertinya mau demam ini. Kamu temuin bentar saja lalu istirahat lagi", kata Mas Rudi
"Iyah Mas. Sepertinya karena ketusuk pedang milikmu tadi", jawabku
Aku kembali masuk menuju kamar, beristirahat sejenak. Aku terbangun ketika Mas Rudi memijat kakiku, enak sekali. Rasanya seperti mimpi, ternyata Mas Rudi memang memijat kakiku.
"Sudah pulang Mas, teman-temanmu", tanyaku
"Sudah barusan, tapi tinggal tamunya Ayah saja didepan", jawab Mas Rudi
"Sayang nanti malam lagi yah, tadi belum tuntas".
Spontan Aku bangun dan berkata, "Kamu nggak lihat tadi sprei penuh darah. Kamu bilang nggak tuntas. tega kamu Mas".
"Yang tadi itu mencari jalan sayang. jika sudah tahu yah pasti nggak akan sakit lagi. Mungkin yang ketiga sudah enak, pasti kamu nambah".
__ADS_1
"Berarti yang kedua sakit donk Mas. Yaudah nunggu Aku siap lagi saja".
"Ya sudah, Aku nunggu kamu tidur saja". (sambil tertawa)
Aku hanya menatap Mas Rudi dengan sinis. Setelah sore hari acara pengajian dimulai. Aku juga mengikutinya, banyak ibu-ibu yang memujiku.
Ternyata acara ini juga untuk syukuran pernikahanku. Ibu dan Bapak mertuaku memang baik kepadaku, mungkin karena Aku menantu pertamanya.
Setelah semua acara selesai, Aku membantu Ibu membereskan semuanya. Alhamdulillah didapur juga masih banyak yang membantu. Kasihan juga Ibu sepertinya sangat lelah.
Hingga malam sebenarnya masih ada saja tamu yang datang. Namun setelah Isya' Mas Rudi mulai menutup pagar dan pintu rumah biar kita bisa beristirahat.
Aku Sholat dulu sebelum tidur. Aku menuju menuju kamar dan berbaring disebelah Mas Rudi.
Mas Rudi yang tahu Aku mulai tidur, tiba-tiba bangun dan segera keluar kamar. Entah ada apa, Aku juga tidak tahu. Setelah meminum obat penurun panas Aku segera tidur.
Aku yang setengah sadar terbangun kaget ketika Mas Rudi sudah diatasku tanpa memakai ****** *****.
"Mas, Kamu mau ngapain?".
Mas Rudi hanya tersenyum, hingga membuatku sedikit takut.
"Mas, ini kamu kan? Bukan setan yang menyamar jadi kamu.
"Emang ada setan seganteng Aku", Jawab Mas Rudi
"Mas, minggir berat tahu kamu".
Mas Rudi tersenyum dan menutup mulutku dengan tangannya.
__ADS_1
"Diam sayang, kali ini tak akan sakit", bisik Mas Rudi ditelingaku