Ditilang Cinta Polisi Ganteng

Ditilang Cinta Polisi Ganteng
Tertangkapnya Putra


__ADS_3

Ku lihat sebuah pesan dihandphoneku, "Malam sayang, Aku mencintaimu".


"Siapa kamu?", jawabku.


"Orang yang selalu mencintaimu. Masih ingat kan kamu dengan c**man kita waktu itu, sungguh membuatku ketagihan Syah".


"Gila kamu Put".


"Aku memang gila Syah, Kamu yang membuatku seperti ini. Kamu tahu ci**an pertamaku sudah kuberikan kepadamu".


"Kamu itu stres Put. Itu bukan cinta, itu nafs*mu. Lupakan Aku kita jalani hidup masing-masing. Jika kamu benar-benar mencintaiku, biarkan aku hidup bahagia bersama orang lain".


"Aku takkan pernah melepasmu Syah. Aku hanya ini kamu bersamaku. Aku janji akan membahagiakan kamu Syah".


"Aku tidak pernah mencintai kamu Put".


"Jika begitu biarkan Aku yang mencintai kamu".


"Sudah gila kamu".


Aku memblokir nomor Putra lagi. Sudah beberapa kali dia berganti nomor ketika kublokir nomornya. Setiap hari dia selalu mengirimkan pesan seperti itu.


Astaga sebelum Putra tertangkap hidupku tak akan tenang. Dia sungguh mengganggu hidupku. Sepertinya Aku harus berganti nomor, gumamku.


Aku takut menceritakan ini kepada Mas Rudi. Saat Putra menc***ku dulu saja, dia sudah sangat marah denganku juga. Apalagi jika dia tahu Putra selalu mengirimkan pesan.


Mas Rudi masih tinggal di kontrakan sendirian. Selama Putra belum tertangkap, Mas Rudi masih menyuruhku untuk tinggal bersama Ibu.


Sore ini Mas Rudi akan pulang kerumahku, karena besok dia libur. Rindu sekali rasanya, sudah beberapa hari tidak bertemu.


Teman-teman SMA sudah heboh mendengar kabar tentang Putra, mereka juga tidak menyangka Putra bisa berbuat seperti itu.


Sebenarnya bosan sekali Aku dirumah, karena Ibu sibuk bekerja sedangkan Ayah sibuk dengan usaha yang baru dirintisnya.


Sebenarnya Ayah menyuruhku memegang kafe yang baru dibukanya, namun Mas Rudi masih melarangku keluar dari rumah.


Kulihat sudah hampir magrib namun Ibu dan Mas Rudi belum pulang juga. Tak lama handphonenku berdering, ku lihat sebuah telpon dari Ibu.


"Assalamualaikum Syah. Suamimu sudah pulang nak?", tanya Ibu.


"waalaikumsalam Bu, Belum Bu. Mungkin sebentar lagi".


"Ibu tidur di kafe sama Ayah, nggak apa-apa kan Syah, jika kamu dirumah sama Rudi saja. Alhamdulillah kafe Ayah rame hari ini, ada live musiknya. Ayah masih diwarkop. Ini Ibu sedang membantu dikafenya".


"Alhamdulillah Bu jika rame. Nanti aku kesana jika Mas Rudi tidak capek".


"Ya udah Syah, Assalamualaikum".

__ADS_1


"Waalaikumsalam Bu".


Setelah sholat Aku kembali rebahan dikamar, tak lama kudengar suara mobil datang. Aku segera berjalan keluar, ternyata benar itu Mas Rudi yang datang. Kulihat Mas Rudi mengeluarkan makanan dari dalam mobil. Ah senang sekali, tahu saja jika Aku tidak masak.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam Mas", jawabku sambil mencium tangannya


"Kok sepi. Ibu dan Ayah mana lo?".


"Ibu nginep dikafe. katanya warkop sama kafenya lagi rame. Ada live musiknya juga, sekarang kan malam minggu. Kita kesana yuk Mas".


"Enak dong kita berduaan dirumah. Besok saja kita kesana, biarkan Ibu berduaan dengan Ayah. Malam ini kita berduaan saja".


"Okaylah, Kamu mandi dan sholat dulu sana. Aku siapin Makanannya".


Malam ini kita makan bersama, berdua saja dirumah. Senang sekali karena sudah beberapa hari tidak bertemu.


Aku membersihkan piring dan Mas Rudi masuk menuju ke kamar. Setelah selesai Aku menghampirinya yang rebahan sambil menonton TV dikamar.


Aku bersandar dibahu Mas Rudi yang semakin hari semakin besar, karena dia mulai gendut.


"Mas, Kamu tadi kok pulangnya malam, katanya sore", tanyaku


"Iyah tadi waktu mau pulang, aku ditelpon jika pihak kepolisian sudah berhasil menangkap Putra sore tadi".


"Di jembatan Suramadu. Putra memang sudah menjadi DPO Fotonya sudah disebar dikantor polisi lainnya, hingga memudahkan proses penangkapan".


"Lalu sekarang dimana dia Mas".


"Masih dikantor Polisi. Namun statusnya belum jadi tersangka tapi tetap ditahan".


Semoga Putra menghapus semua pesan yang dikirimkan kepadaku tadi siang, gumamku.


"Ayo kita tidur Mas, Aku sudah mengantuk".


"Ganti baju sana, Mas mau itu".


" Nggak mau Mas".


"Jika begitu, Aku saja yang gantikan. mumpung kita lagi berduaan".


Aku tersenyum melihat Mas Rudi, Dia menatapku seakan ingin memangsaku. Tak butuh waktu lama, dia sudah berada tepat diatasku.


Kita memang sudah lama tak melakukan ini. Rasanya seperti malam pertama lagi. Setelah selesai, Aku membersihkan tubuhku. namun saat Aku kembali Mas Rudi sudah tertidur.


Selalu saja begitu, gumamku.

__ADS_1


...****************...


Hari ini Aku mengajak Mas Rudi untuk pergi ke kafe ayah. Pagi ini Aku tidak memasak karena masih ada lauk yang tadi malam dibelikan Mas Rudi. Aku hanya tinggal menghangatkannya saja dan memasak nasi.


Setelah mandi, kita sarapan bersama kemudian lanjut untuk berangkat. Namun ketika baru kubuka pintu rumahku, orang tua Putra datang menghampiriku.


Kulihat mata Ibunya lebam, mungkin habis menangisi anaknya. Aku mempersilahkan beliau masuk kedalam rumah.


"Silahkan duduk Bu, Pak. Perkenalkan ini Mas Rudi, suami saya. Sebentar saya ambilkan minum".


Setelah selesai membuatkan minum, Kulihat Ibunya Putra menangis.


"Aisyah, Nak Rudi, Ibu mohon tolong bebaskan Putra. Ibu tahu Putra bersalah sudah mencelakakan kalian. Mungkin karena dia mencintai kamu Syah. Ibu tahu caranya salah, dia juga sudah terlambat. Kalian sudah berumah tangga. Maafkan anak Ibu yang sudah mengganggu rumah tangga kalian".


"Tapi kita sudah kehilangan calon anak kita. Saya keguguran Bu waktu itu", jawabku.


"Ibu lihat kaki istri saya, sampai sekarang masih pincang. Kemaren sudah diberi surat panggilan untuk Putra namun dia tidak datang. Putra malah datang kerumah saya, hingga membuat kaki istri saya luka lagi bahkan dia sempat menyakiti dan mencium Istri saya Bu", Kata Mas Rudi


Ibu Mas Rudi semakin menangis. Kasihan juga melihat mereka. Sungguh Aku tidak tega.


"Tolonglah Nak, kalian pikirkan lagi. Saya sebagai Ayahnya Putra meminta maaf kepada kalian", kata Ayah Putra.


"Saya pikirkan lagi Pak. Namun yang salah harus tetap dihukum Pak, Saya juga mohon maaf jika nanti tidak bisa membantu banyak", jawab Mas Rudi


"Ya sudah Nak, kita pamit dulu. tolong dipikiran lagi yah. Assalamualaikum".


"waalaikumsalam hati-hati Pak, Bu".


Setelah Ayah dan Ibunya Putra pulang kita bergegas menuju ke kafe Ayah. Sepanjang perjalanan Aku masih memikirkan perkataan Ibunya Putra.


"Mas,....."


"Sudahlah Syah.... hukum tetap harus ditegakkan. jangan meminta kepadaku untuk melepaskan Putra. Dia sudah sengaja mencelakai kita".


Astaga tahu saja Mas Rudi dengan pikiranku, gumamku.


"Lo Mas, kafe Ayah belok ke kanan", tanyaku


"Kita ke kantor Polisi dulu".


"Untuk apa Mas?".


"Menemui Putra, kita lihat responnya jika bertemu dengan kita".


"Tapi Aku takut Mas".


"Jika kamu takut, kenapa kamu minta Mas Buat membebaskan Putra".

__ADS_1


Aku hanya terdiam mendengarkan perkataan Mas Rudi. Aku hanya takut Putra mengatakan cintanya lagi didepan Mas Rudi, membuat masalah semakin ruwet.


__ADS_2