
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenal yang bertuliskan. "Syah, maaf Aku tidak bermaksud mengganggu Kevin. Aku juga sudah menikah jadi kamu tidak perlu takut".
Astaga ternyata nomor ini adalah nomor handphone Putra, Sebelumnya Dia juga pernah mengirim pesan kepadaku.
"Dapat dari mana kamu nomorku? dan bagaimana kamu tahu jika Kevin itu anakku?".
"Aku mencarinya di handphone istriku Syah. Aku tidak sengaja melihat kamu dan Kevin kesekolah tiap hari karena Aku juga selalu mengantar dan menjemput istriku".
"Apa kamu mencintai Istrimu Put?".
"Iyah pasti Syah namun tak sebesar cintaku padamu dulu. Aku menikah dengan Dian juga karena dijodohkan".
"Gila kamu Put. Kamu tahu kan istrimu hamil, bagaimana jika dia tahu tentangku? sudahlah kita jalani saja hidup kita masing-masing.
Aku mematikan handphone ku malam ini karena aku hanya berdua dengan Kevin di rumah.
Aku menutup semua pintu pagar dan rumah. Rasanya masih takut jika tiba-tiba Putra datang ke sini.
Pagi ini Aku masih mengantarkan Kevin kesekolah. Aku akan menjaga Kevin dari pagi sampai pulang sekolah. Aku nggak mau lagi kecolongan dengan Putra.
Bel Istirahat sudah berbunyi. Aku duduk di taman sambil menjaga Kevin yang sedang bermain dengan teman-temannya. Terlihat juga mobil pick up yang biasa dikendarai Putra namun Dia sama sekali tidak turun, Putra hanya melihatku dari kejauhan.
Kulihat sebuah pesan masuk di handphoneku. Putra mengirimkan sebuah pesan kepadaku yang bertuliskan.
"lama-lama kulihat dari sini kamu makin cantik ya Syah, padahal sudah punya anak tapi rasanya jika melihat mu masih seperti waktu kita SMA dulu".
Aku menatap ke arah Putra, meskipun dari kejauhan Aku yakin saat ini dia masih memperhatikanku.
"Dasar orang gila", Jawabku
"Aku memang masih menggilaimu Syah".
Aku memang harus memindahkan Kevin sekolah yang baru. Lama-lama Aku bisa gila, jika masih bertemu Putra, gumamku.
Setelah bel pulang sekolah, Aku bergegas mengajak Kevin pulang. Aku melajukan motorku dan melewati mobil Putra. Terlihat dia memainkan matanya dan tersenyum kepadaku. Dia juga melambaikan tangannya. Astaga ternyata dia tidak pernah berubah.
"Ma, itu om Ultraman Ma", ucap Kevin
"Udah biarin aja Nak", jawabku
Sesampainya dirumah, Kevin berlari menuju ke kamar. Dia menceritakan jika bertemu dengan Om Ultraman.
Mas Rudi mendengar ceritanya dengan baik. Namun kulihat ekspresi wajahnya mulai tak enak dilihat.
"Vin, Kamu mainan dulu dikamar yah", ucap Mas Rudi.
"Iyah tapi pinjam handphonennya dulu", jawab Kevin
__ADS_1
"Ini pakai punya Mama saja", sahutku
Setelah Kevin masuk kedalam kamar Mas Rudi mengajakku mengobrol.
"Syah, Aku dipindah tugas ke Jogja sementara. gimana menurutmu?".
"Tapi Mas, rumah kita bagaimana?Baru juga kita bisa buat rumah sendiri. Sudah pindah lagi".
"Tapi nanti Mas bisa naik pangkat, nanti beberapa tahun juga bisa ngajuin kembali kesini. Rumahnya bisa kita sewakan dulu, lumayan bisa menghasilkan. nanti uangnya buat kamu deh".
"Nggak tahulah Mas, terserah kamu sajalah".
"Mama......ma..ma....", teriak Kevin sambil membawa handphonenya kepadaku.
"Ada apa Vin?", tanyaku
"Ma.... Om ultramen telepon".
Astaghfirullah kenapa Dia telepon disaat Aku sedang bersama Mas Rudi, gumamku.
Spontan Mas Rudi mengambil handphone itu dan membawanya keluar rumah. Aku menyuruh Kevin bermain lagi dikamar.
Aku menghampiri Mas Rudi yang sedang marah-marah namun ketika Aku sampai Mas Rudi terus mencoba menelpon seseorang.
"Mas, kenapa?", tanyaku
"Maksud kamu apa sih Mas. Aku nggak pernah telponan dengan Putra".
"Kok bisa dia tahu nomor teleponmu?".
"Yah mungkin lihat handphone Istrinya. Bu Dian kan tahu nomor teleponku Mas".
"Sudah. Kita pindah ke Jogja saja, itu keputusanku. Tak usah protes. blokir nomor telepon Putra atau kamu ganti nomor saja".
Mas Rudi kembali masuk kedalam rumah dengan keadaan marah.
Astaghfirullah kamu menyebalkan sekali Put, Gumamku dalam hati.
Aku mengejar Mas Rudi yang masuk kedalam kamar. Dia berbaring dikasur dan menyalakan TV.
Mas Rudi hanya diam saja. Aku takut sekali jika Dia sudah mulai diam. Aku keluar lagi menuju ke kamar Kevin.
Ah.... mending disini Aku bisa lebih tenang, gumamku.
Aku bermain dengan Kevin hingga malam hari. Ketika berangkat kerja, Mas Rudi hanya berpamitan dengan anaknya.
...****************...
__ADS_1
Pagi ini aku tidak mengantarkan Kevin sekolah. Rasanya malas sekali jika harus bertemu Putra. Aku mengatakan bahwa hari ini sekolah libur.
Maafkan Mama nak jika harus berbohong, gumamku.
Tak lama Mas Rudi pulang kerumah dengan membawa banyak sekali makanan dan mainan untuk Kevin.
Kevin berlari menyambut Ayahnya. Mereka langsung bermain basket bersama.
Setelah capek bermain Kevin menceritakan bahwa hari ini dia libur tidak sekolah.
Mas Rudi mengajak Kevin masuk ke dalam rumah. Kita makan bersama di meja makan.
"Syah, Kevin kenapa libur?", ucap Mas Rudi kepadaku
"Kamu tahu kan jawabannya Mas. Apa Kita jadi pindah ke Jogja?", jawabku
"Iyah jadi, semalam Aku sudah mengajukan. Mungkin sekitar sebulan lagi kita berangkat".
"Kamu yakin Mas? Aku lebih suka dikota sendiri, kasian juga Ibu dan Ayah, mereka sudah tua. Aku juga anak tunggal".
"Hanya beberapa tahun saja Syah".
"Beberapa tahun kamu bilang? sepuluh tahun Mas, itu waktu yang lama. Itupun belum pasti".
"Ya dijalani saja Syah, enak kan kita bisa jalan-jalan dikota lain".
"Ya enak Mas jika hanya beberapa hari, la ini beberapa tahun. Bisa-bisa sampai pensiun. lihat saja orang tua kita pasti tidak setuju".
"Udahlah kamu itu, nggak mau mendukung suami.
Kevin ayo kita maen game dikamar daripada dengerin Mama ngoceh".
Mereka bergegas menuju kamar. Semenjak punya anak Mas Rudi memang sering menghabiskan waktu bersama Kevin.
Alhamdulillah kita dikaruniai anak laki-laki. Mas Rudi bahagia sekali ketika pertama melihat Kevin lahir. Mas Rudi memang menyaksikan proses lahiranku. Mungkin karena itu juga Dia lebih sayang kepadaku dan Kevin.
Aku membersihkan meja dan mencuci piring kotor di dapur. Kudengar suara handphonenku berbunyi lagi. Ku lihat sebuah pesan masuk.
"Syah, Kevin hari ini kok nggak masuk sekolah?".
Sempat berpikir sebelum ku balas. kok panggilnya "Syah". Jika ini gurunya Kevin, biasanya panggil Bun. Ah sudahlah, ku balas saja, gumamku.
"Iyah Bu, maaf tadi telat bangun. Ini nomornya Ibu siapa?", jawabku.
"Ini nomornya Pak Putra".
"Astaghfirullah,..... kenapa sih kamu nggak lenyap saja dari muka bumi ini".
__ADS_1
Setelah ku balas pesan itu, Aku langsung memblokir nomor Putra lagi. Lama-lama bisa gila, jika terus diganggu Putra. Sepertinya memang Aku harus pindah ke Jogja.