
Kehamilanku kali ini membuat tubuhku sering lemas. Perutku juga sudah mulai membesar. Rasanya Tiap hari hanya ingin rebahan saja di rumah.
HPL (Hari perkiraan lahir) juga sudah dekat. Besok pagi Aku pulang ke rumah Ibu bersama Kevin. Karena Aku ingin lahiran dirumah Ibu saja, karena Aku takut keteteran jika ditinggal Mas Rudi bekerja.
Mas Rudi mungkin akan mengajukan cuti ketika sudah mendekati HPL. Aku juga sudah mengizinkan Kevin untuk libur sekolah sementara.
Malam ini Aku berkemas menyiapkan baju untuk kubawa besok pagi. Besok Aku akan naik kereta api hanya berdua saja. Kevin senang sekali jika diajak naik kereta.
"Syah, Kamu yakin bisa pulang tanpaku", tanya Mas Rudi
"Yakin Mas, Aku kan sudah biasa bolak balik dari Surabaya ke Jogja".
"Ya itu kan waktu kamu belum hamil. sekarang perutmu sudah sangat besar".
"Nggak apa-apa Mas. Besok antarkan saja ke stasiun, nanti jika sudah sampai Aku naik taksi online saja".
"Ya sudah kamu istirahat saja, biar Aku saja yang lanjutin".
Alhamdulillah bisa istirahat, gumamku.
Aku terbangun pagi-pagi, bersiap-siap menuju ke stasiun kereta. Mas Rudi juga ikut membantu mengurus Kevin.
Setelah semua siap kita berangkat menuju ke stasiun Tugu. Mas Rudi mengantarkan kita hingga masuk kedalam kereta.
Perjalanan ditempuh selama hampir delapan jam. Alhamdulillah Kevin tidak rewel sama sekali.
Setelah sampai disurabaya Kita naik kereta komuter menuju ke Sidoarjo. Setelah tiga puluh menit perjalanan, Alhamdulillah kita sampai di stasiun Sidoarjo dengan selamat.
Aku dan Kevin keluar dari kereta dan menuju keluar untuk memesan taksi online. Namun tiba-tiba Kevin dipanggil seseorang dari belakang. Aku dan Kevin Spontan menoleh.
Ternyata Bu Dian, beliau menghampiriku sambil menggendong anaknya, sekitar
"Hai Kevin masih ingat Bu guru kan?Ini anaknya Ibu perempuan lo, Cantik".
Kevin mengganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ayo Nak, Salim sama Bu Dian", ucapku pada Kevin.
"Lo Bunda hamil lagi, sudah berapa bulan kok sudah besar sekali", tanya Bu Dian
"Iyah ini sudah delapan bulan. Bu Dian habis dari mana?".
"Habis mengantarkan Adek, mau ke Jakarta. Bunda mau kemana kok disini".
"Iyah, mau kerumah Ibu saya, mau lahiran disini saja. Sendirian saja Bu?".
"Sama suami Bu, lagi ke toilet".
Astaga berarti ada Putra disini, gumamku.
"Oh ya sudah saya duluan, mau nyari taksi dulu".
Aku dan Kevin berjalan keluar stasiun. Aku memesan Taksi online namun belum juga datang.
Tak lama ada mobil hitam menghampiriku. Ku kira itu taksi yang Aku pesan namun ketika kaca mobil dibuka, ternyata itu Bu Dian dan Putra.
"Bunda, Ayo bareng saya antarkan", ucap Bu Dian.
"Mama.... Mama itu om ultramen".
"Iyah Vin, biarin".
"Vin, nanti nikah sama anaknya om yah", sahut Putra
Aku hanya tersenyum kecut, sambil segera berpamitan.
"Ya sudah saya duluan bunda".
"Iyah hati-hati"
Aku melirik ke arah Putra namun ketika Aku benar-benar melihatnya Putra tersenyum dan mengerlingkan matanya kepadaku.
__ADS_1
Astaghfirullah, benar-benar nyebelin yah, gumamku dalam hati.
Tak lama taksi online yang ku pesan datang, Aku dan Kevin bergegas pulang Kerumah. Terlihat mobil yang dikendarai Putra dan istrinya berada tepat didepanku.
Sesampainya dirumah, Ibu menyambutku dan Kevin dengan gembira. Ibu memang sudah tidak bekerja, karena kafe Ayah sudah berjalan dengan lancar.
...****************...
Hari ini Aku periksa dibidan dekat rumah karena perutku sudah terasa mulas. Namun setelah diperiksa bidan ternyata sudah pembukaan satu.
Aku mencoba menelpon Mas Rudi agar Dia segera pulang. Alhamdulillah Mas Rudi sudah mengajukan cuti sehingga sewaktu-waktu bisa berangkat.
Aku disuruh bidan untuk pulang dulu, karena memang jaraknya dekat. Aku mencoba untuk lahiran diklinik saja.
Mas Rudi sampai dirumah malam hari. Dia mengajakku untuk lahiran dirumah sakit saja, namun Aku menolaknya. Aku mencoba untuk berjalan-jalan agar pembukaan segera bertambah.
Namun perutku makin lama semakin mulas. Mas Rudi mengantarkanku kebidan dan saat diperiksa sudah pembukaan lima.
Bu Bidan menyuruhku untuk menginap di kliniknya biar sewaktu-waktu lahir sudah siap. Hingga malam hari Aku tidak bisa tidur karena perutku selalu tiba-tiba mulas dan berhenti.
Perutku semakin sakit dijam tiga pagi. Mas Rudi memanggil perawat dan Bidan. Mereka memeriksaku, ternyata sudah pembukaan sembilan.
Bu bidan memberiku obat yang dimasukkan kedalam ***** dan selang beberapa saat perutku semakin lama semakin mulas hingga rasanya tak kuat lagi.
Aku terus menge***. Alhamdulillah Mas Rudi setia menemaniku, sesekali Dia menci***ku dan menggenggam tanganku.
Beruntungnya Aku memilikimu Mas, gumamku.
Lima belas menit kemudian, Alhamdulillah anak keduaku lahir kedunia. MasyaAllah dia begitu cantik dan lucu. Rasa sakitku hilang seketika, ketika melihat anakku.
Mas Rudi kemudian menggendongnya dan mengadzaninya.
Setelah dibersihkan, Aku segera beristirahat, Mas Rudi masih disampingku menjagaku dan menjaga anak keduaku.
Saat pagi hari norang tuaku dan Kevin datang. Kevin senang sekali melihat adik kecilnya, meskipun sebenarnya Kevin ingin seorang adik laki-laki.
__ADS_1
Ibu mertua dan adik ipar juga ikut datang menjenguk. Kasihan Ayah Mas Rudi tidak ikut karena masih harus duduk dikursi roda.
Alhamdulillah lengkap sudah kebahagiaanku. Semoga setelah ini kehidupanku lebih baik dan lebih bahagia dalam merawat kedua anakku. Tidak akan ada lagi Putra dihidupku.