Ditilang Cinta Polisi Ganteng

Ditilang Cinta Polisi Ganteng
Sebuah perjuangan


__ADS_3

Aku berjuang untuk mengerjakan skripsiku agar segera selesai. Panas hujan aku selalu datang ke kampus untuk mencari dosen pembimbingku. Aku berharap minggu ini segera disetujui untuk mengajukan sidang.


Aku berjanji kepada Mas Rudi tidak akan mengundur lagi pernikahanku. tanggal pernikahanku sudah ditentukan. Setelah lebaran aku akan menikah dengan Mas Rudi.


Semua keperluan seserahan aku serahkan kepada Mas Rudi. Aku tak Sempat memilih seserahan pernikahan karena memang aku harus menyelesaikan skripsiku bulan ini. Setiap malam aku juga sering lembur, jarang sekali aku tidur.


Aku tidur ketika aku sudah menyelesaikan revisi skripsiku kepada dosen pembimbing. Kini tubuhku semakin kurus seperti orang tak terurus. Aku memang selalu telat makan.


Sebenarnya Mas Rudi suka komplain dengan keadaanku saat ini tapi mau bagaimana lagi, Dia juga yang terus menuntutku untuk segera menikah.


Aku lembur lagi malam ini, kulihat sudah jam sepuluh malam. Novi juga sudah tidur duluan. Bisa jadi ini revisi terakhir, bisa juga tinggal dua kali revisi. Aku juga sudah mengajukan sidang skripsi.


Sejenak aku merebahkan tubuhku dikasur. Kulihat langit-langit kamarku yang sudah lama tidak kubersihkan.


Dering handphoneku berbunyi begitu keras hingga mengagetkanku, Padahal baru juga aku tertidur.


Kulihat Ternyata mas Rudi yang menelponku.


"Assalamualaikum sayang, Kamu belum tidur?", tanya Mas Rudi.


"Waalaikumsalam. Belum. Ini aku lagi mengerjakan revisi skripsiku Mas, doakan yah besok pagi sudah di acc dosen pembimbingku, jadi minggu depan aku bisa sidang skripsi", Jawabku.


"Iyah sayang Mas selalu mendoakan yang terbaik untukmu. kamu sudah makan Syah?".


"Belum kayaknya Mas, Aku lupa".


"Selalu saja kamu begitu lupa untuk makan. Coba deh kamu keluar ke depan sebentar. Mas ada di depan kos kamu Syah".


"Ha...... ini sudah jam sepuluh malam Mas, kamu kok keluar. Nanti sakit lo".


"Udah ayo keluar saja".


Aku bergegas keluar menghampiri Mas Rudi. Aku tersenyum kaget karena diluar hanya ada mobil patroli polisi, namun Mas Rudi tidak ada didalam.


Aku masuk lagi kedalam kos untuk mengambil handphone. Aku mencoba menghubungi mas Rudi namun tidak diangkat.


Ah.... menyebalkan sekali.


Doorrrrrrrr........


Mas Rudi mengagetkanku dari samping kos.


"Hai sayang..... ini nasi ayam geprek kamu makan yah", kata Mas Rudi


"Iyah. Kamu ngapain bawa mobil polisi. Seperti mau gerebek aku saja, sendiri pula", tanyaku


"Iyah aku lagi jaga malam Syah sama Pak Rizal kok, tadi aku turunin dikosnya Anggun. Aku balik dulu yah, lanjut patroli".


"Iyah terimakasih sayang, hati-hati".

__ADS_1


Mas Rudi tersenyum dan mengelus-elus kepalaku.


"Lo badan kamu kok panas Syah? kamu sakit?".


"Enggak kok Mas, mungkin kecapean aja Mas".


"Udah jangan dipaksa ngerjain skripsinya, jika molor juga nggak apa-apa".


"Ini demi kamu tahu Mas".


"Iyah.... Iyah... sayang. Aku balik yah. I love you Syah".


"Love you too Mas".


Aku menunggu diluar hingga Mas Rudi pulang. Namun ternyata dia keluar lagi dan menghampiriku dengan senyumannya yang sangat manis.


Mas Rudi meraih tanganku dan dia menggenggam tanganku dan memberiku uang. setelah dia berpamitan, Kulihat tanganku ternyata uang seratus ribuan sebanyak lima lembar.


Semenjak kita bertunangan, Mas Rudi memang selalu memberiku uang jajan. Sebenarnya aku selalu menolaknya namun dia selalu marah ketika uang itu aku kembalikan.


Aku bahagia punya pasangan seperti Mas Rudi.


...****************...


Pagi ini aku kekampus untuk menemui Bu Dina dosen pembimbingku. Sebenarnya badanku sangat panas namun aku berusaha kuat agar skripsiku segera ditandatangani.


Aku menunggu Bu Dina didepan kelas karena beliau sedang mengajar. Kepalaku sungguh terasa sangat pusing. Aku tidur dikursi panjang sambil menunggu. Tak lama Anggun datang menghampiriku, dia juga akan ke dosen pembimbingnya. Tema dan judul kita berbeda sehingga kita beda pembimbing.


"Malam Nggun, tapi badanku meriang", jawabku


Anggun memegang dahiku dan berkata, "Lo badan kamu panas sekali Syah. Kamu pulang saja nanti kusampaikan ke Bu Dina".


"Ya sudah tolong berikan ya Nggun, biar nanti aku kirim pesan ke Bu Dina".


"Iyah nanti kuberikan, kamu hati-hati Syah".


"Iyah Nggun".


Aku berjalan perlahan menuju parkiran rasanya ingin pingsan. Aku berhenti sejenak di atas motorku namun akhirnya aku melajukan motorku menuju kos.


Sesampainya di kos aku langsung tidur. Kulihat Novi masih belum berangkat kuliah. Dia juga menanyakan keadaanku.


Aku tertidur hingga sore hari, entah tadi aku tidur atau pingsan. Aku hanya terbangun ketika mendengar handphone-ku berdering. Kulihat Ternyata mas Rudi yang menelponku.


"Assalamualaikum Syah".


"Waalaikumsalam Mas".


"Kamu kenapa Syah kok sepertinya suaramu serak".

__ADS_1


"Enggak apa-apa Mas cuma sedikit demam saja".


"Lo kamu periksakan saja ke dokter Syah. Kamu itu kecapean tiap malam nggak pernah tidur".


"Enggak usah Mas nanti juga sembuh sendiri. lah kamu juga tiap malam nggak tidur".


"Ya beda aku kan kerja kalau malam itu pun nggak setiap Minggu, juga ada waktunya masuk pagi. Ya sudah Mas habis ini ke sana ya nanti kita ke dokter".


"Terserah kamulah".


Setelah aku tutup teleponnya aku mencoba untuk tidur lagi. Tak lama kudengar suara motor datang mungkin itu Mas Rudi.


Tok.... tok.... tok..... Assalamualaikum Syah.... Syah.....


Aku berdiri membukakan pintu sepertinya Mas Rudi sudah datang. Rasanya kepalaku semakin pusing dan ingin muntah jika kubuat berdiri.


"Waalaikumsalam. Masuk aja Mas nggak apa-apa".


Mas Rudi memegang dahiku dan berkata, "Astaghfirullah ini panas sekali yah suhu tubuhmu. Ayo kita periksa ke dokter saja".


"Iyah sebentar aku ganti baju dulu Mas".


Mas Rudi menggandengku dan segera mengajakku untuk pergi ke sebuah klinik didekat kos.


Aku naik motor Mas Rudi rasanya hampir pingsan. aku berpegangan ditubuh Mas Rudi, tangannya memegang tanganku. Sesekali Mas Rudi juga membangunkanku agar aku tetap sadar.


Sesampainya di klinik aku langsung diperiksa oleh dokter. Setelah menjelaskan panjang lebar ternyata Aku terkena tipes. Dokter menyarankan agar Aku dirawat satu hingga tiga hari ke depan karena keadaanku memang sangat lemas.


Aku menolaknya namun Mas Rudi tetap bersikeras untuk Aku dirawat di sini.


Tak lama seorang perawat datang menghampiriku, dia memasangkan sebuah infus di tanganku, sungguh sakit sekali namun aku tidak bisa berontak karena aku memang sangat lemas sekali.


Aku hanya mampu memandangi Mas Rudi yang terus mengelus-elus rambutku. Tampak wajahnya sungguh khawatir dengan keadaanku. Beruntung sekali aku mendapatkan seseorang seperti Mas Rudi.


Tak lama mereka memindahkanku ke ruang perawatan. Mas Rudi memegang tanganku dan duduk di sampingku sambil menonton TV.


Aku mengambil sebuah ATM yang ada di tasku.


"Mas, ini kamu bawa yah. Tolong nanti kamu bayarkan biaya pengobatanku diklinik ini. Passwordnya tanggal pertunangan kita".


"Enggak usah Syah pakai uang Mas saja, kamu simpan saja untuk keperluan lainnya.


"Nanti malam biar aku sama Anggun atau Novi Mas. Kamu kan harus kerja".


Aku mengambil handphoneku dan mencoba menelpon Anggun dan Novi. Alhamdulillah mereka nanti malam mau menjagaku disini.


Aku menelpon Ibu, sebenarnya mau memberitahu jika aku sakit. Namun ketika diangkat suara ibu sepertinya habis menangis.


"Ada Apa Bu? suara ibu sepertinya habis menangis", tanyaku.

__ADS_1


"Ayah mu habis terkena musibah Syah", jawab ibu.


"Ha.....? Ayah kenapa Bu?".


__ADS_2