Ditilang Cinta Polisi Ganteng

Ditilang Cinta Polisi Ganteng
Sehari bersama Mas Rudi


__ADS_3

Aku berjalan terpincang-pincang menuju kedalam rumah Mas Rudi. Ibu membangunkan Mas Rudi dan memberikannya obat yang biasa dia minum.


Tak lama Ibu dan Mas Rudi ikut masuk kedalam. Mas Rudi duduk disampingku, sedangkan Ibu sibuk menelpon suaminya.


"Kamu nggak apa-apa Syah", tanya Mas Rudi yang terlihat sudah mendingan.


"Nggak apa-apa Mas", jawabku sambil menahan sakit.


Mas Rudi berdiri dan mengambilkan obat merah dan alkohol. Dia membersihkan luka dikaki ku yang penuh darah dan mengobatinya. Aku tersenyum sambil menahan rasa sakitku.


Mas Rudi menatapku sambil tersenyum. Akupun juga membalas senyuman itu. Ah..... rasa sakitku hilang seketika.


"Ini lukanya terlalu dalam, dibawa ke klinik saja, dekat dari sini kok", kata Mas Rudi


"Nggak usah Mas, dikasih obat merah juga sembuh", jawabku.


"jaraknya hanya tiga rumah dari sini kok. Mau kugendong apa naik Motor?".


Aku tersenyum mendengar perkataan Mas Rudi.


"Naik motorlah, kamu kan masih pusing".


"Bu sudah tak usah menunggu Ayah, aku saja yang bawa ke klinik sebelah", kata Mas Rudi kepada Ibunya.


"Lo kepalamu gimana, tadi kamu kan kesakitan?", Jawab Mas Rudi.


"Sekarang sudah sembuh Bu".


Mas Rudi menuntunku naik ke motorku dia memboncengku menuju keklinik.


Sesampainya disana Mas Rudi kembali menuntunku masuk. Karena jalanku sangat lama, akhirnya mas Rudi menggendongku.


Astaga...... jantungku benar-benar berdetak sangat kencang. Hatiku menari-nari gembira seperti difilm film India.


Aku berbaring dibed UGD. perawat mulai menanganiku. pelayanan di sini memang cukup baik. mereka langsung membersihkan lukaku. dokter juga menjelaskan kepada Mas Rudi.


"Mas lukanya terlalu besar sebenarnya ini harusnya dijahit tapi kita menggunakan plester jahit saja InsyaAllah sudah bisa menyatu".


"Iyah dok terserah yang penting cepat sembuhnya", jawab Mas Rudi


"Ini tadi kecelakaan dimana Mas, kok bisa seperti ini lukanya".


"dibawah pohon dok, ketiban gajah dari atas ha... ha.. ha...".


Aku tertawa terbahak-bahak, bahkan dokter dan perawat juga ikut tertawa.


"itu dok gajahnya lagi tertawa", sahutku sambil menunjuk Mas Rudi.


"Lo ini gajahnya. tampan sekali he.. he.. he.. . kok Bisa Mas hingga seperti ini?", tanya dokter itu


"Iyah tadi lagi panen kelengkeng dok. Saya di atas dan Aisyah dibawa Saya mau turun ternyata ranting yang saya pijak itu patah. Akhirnya saya jatuh menimpa Aisyah".

__ADS_1


"Kasihan juga sih ketiban gajah tapi untung saja gajahnya seganteng ini. Kalian ini kakak-adik apa suami istri?".


"Pengantin Baru dok", Jawab Mas Rudi


"Pantesan kok mesra sekali".


Ternyata dokternya bisa melucu juga hingga lukaku tak terasa sakit. setelah lukaku selesai diobati Aku berjalan menuju ruang tunggu Mas Rudi ke kasir untuk membayar biaya berobat.


kulihat di luar tiba-tiba mendung sekali namun Mas Rudi belum juga selesai karena harus menebus obat juga.


Tak lama hujan pun turun begitu derasnya. Aku terjebak di klinik ini bersama Mas Rudi. kulihat di depan klinik ada gerobak bakso yang sedang berteduh. Banyak sekali perawat dan pasien rumah sakit yang membeli, rasanya perutku lapar sekali. Sepertinya enak beli bakso hangat-hangat waktu hujan.


Aku menatap Mas Rudi sama tersenyum dia juga menatapku dan berkata,


"Kamu mau bakso Syah?", Tanya Mas Rudi


Astaga dia seperti dukun saja. Tahu saja yang ada di pikiranku.


aku menganggukkan kepala sambil tersenyum kepada Mas Rudi.


Mas Rudi berdiri dan memesankan bakso. Aku berjalan perlahan menuju depan klinik. Mas Rudi yang melihatku langsung menghampiriku dan membantuku berjalan.


Aku dan Mas Rudi duduk menikmati hujan sambil makan bakso, sungguh sederhana namun nikmat. Hujan ini menenangkan hatiku.


Sesekali aku menatap Mas Rudi, aku tersenyum-senyum sendirian. Kulihat dari kejauhan Ibu berjalan sambil membawakan payung.


"Mas ada Ibu", kataku kepada Mas Rudi.


Aku dan Mas Rudi tersenyum malu. Kita juga mengajak ibu makan bakso bersama, Ibu menolaknya karena tadi ibu sudah memasak banyak untuk kita.


Ibu pulang terlebih dahulu, karena kita masih makan. Setelah kita selesai makan, kita mengambil motor namun hujan begitu lebat disertai angin.


"Mas jika kita naik motor payungnya pasti terbalik terkena angin", kataku.


"Ya sudah kita jalan kaki pelan-pelan saja, kan tidak terlalu jauh nanti jika sudah redah Mas ambil motornya", jawab Mas Rudi.


Aku berjalan perlahan sambil dipegangi Mas Rudi. Kakiku memang masih terasa sangat nyeri namun hatiku masih terus tersenyum.


Hujan kamu datang disaat yang tepat sekali. Sempat terpikir apa ingatan Mas Rudi sudah kembali yah. Tapi kenapa dia tidak berkata apapun, gumamku dalam hati.


Sesampainya dirumah Mas Rudi, ibu menyuruhku Istirahat dikamar adeknya Mas Rudi namun aku menolaknya. Aku lebih memilih duduk diruang tamu.


Ibu membuatkanku teh hangat, dan Mas Rudi duduk menemaniku. Tak lama ibu dan Ayah ikut duduk diruang tamu. Mereka menanyakan kelanjutan hubungan kita.


Aku tersenyum mendengar perkataan orang tua Mas Rudi rasanya ingin sekali aku menjawab Iyah namun aku malu.


"Saya terserah Mas Rudi saja Bu. Tapi sepertinya Mas Rudi masih cinta dengan mantan pacarnya Bu", jawabku.


"Lo kok gitu Syah. Kemaren cuma salah Paham kok. Minggu depan saja Bu pertunanganya", Jawab Mas Rudi


"Iyah enggak apa-apa, ibu terserah kalian saja, Jika Minggu depan kamu beritahu orang tuanya Aisyah", kata Ibu

__ADS_1


Kulihat hujan sudah mulai redah, Aku berpamitan pada Ibu dan menyuruh Mas Rudi mengambilkan motorku diklinik tadi.


Ibu melarangku pulang sendirian karena kakiku memang sakit bahkan untuk jalan saja masih pincang. Kulihat Wajah Mas Rudi yang sumringah saat ibu menyuruhnya mengantarkan Ibu pulang.


Setelah mengambil motor Mas Rudi langsung mengantarku pulang. Ibu membawakan satu kresek besar kelengkeng hasil panen tadi siang.


Selama perjalanan aku mengobol dengan Mas Rudi. Kita juga membahas tentang Mia. Mas Rudi menjelaskan semua tentang Mia kemaren.


Pertanyaanku yang belum sempat terjawab adalah apa Mas Rudi sudah bisa mengingat semuanya atau belum. Pertanyaan itu terputus karena kita sudah sampai rumahku.


Kulihat Ibu dan Ayahku sedang bersantai diteras. Ini pertama kali Mas Rudi datang kerumahku setelah kecelakaan waktu itu.


Ibu dan Ayah tersenyum menyambut kedatangan kami. Ibu dan Ayah kaget melihat kondisiku.


"Lo kamu kenapa nak", tanya ibu panik


"Ketiban pohon sama gajah Bu", jawabku.


"Kamu itu ditanya beneran kok jawabnya bercanda", sahut Ayah.


"Iyah Bu, tadi panen kelengkeng sama Mas Rudi. Itu kelengkengnya. Aku masuk dulu yah, ganti baju.


Mas Rudi nanti motorku kamu bawa saja, nggak usah naik ojol. aku masih libur dua Minggu kok".


Aku berjalan perlahan menuju kamar dan segera bersih-bersih. Setelah Mandi aku berbaring diatas kasur. ohh.... rasanya aku rindu sekali dengan kasur.


Aku mencoba memejamkan mata, namun terdengar suara Ayah yang tertawa.


Astaga aku lupa dengan Mas Rudi. Kuintip dari dalam ternyata Mas Rudi masih diluar bersama orang tuaku.


Aku mulai berjalan perlahan, kudengar Mas Rudi mulai berpamitan kepada Ayah dan Ibu.


"Saya Pulang dulu, ojeknya sudah datang".


"Iyah hati-hati, Rabu Minggu depan yah" tanya Ibu


"Iyah Bu".


"Apanya yang Rabu Minggu depan Bu", sahutku.


Kulihat Mas Rudi hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Bu, ada apa dengan hari Rabu?", tanyaku penasaran


"Sudah kamu istirahat sana", jawab ibu sambil masuk kedalam rumah.


"Ayah??"


Ayah mengangkat tangannya dan menggelengkan kepalanya lalu masuk kedalam rumah.


Hey..... Ada apa dengan mereka? Ada apa dihari Rabu Minggu depan??

__ADS_1


__ADS_2