
Suara musik gamelan menyambut kedatangan Mas Rudi. Jam sembilan pagi rombongan keluarga dan tetangga Mas Rudi datang kerumah.
Iring-iringan pengantin hari ini digelar dirumahku. sedangkan besok gantian rombongan keluargaku yang datang kerumah Mas Rudi.
Novi dan Anggun hari ini juga ikut dimake-up karena mereka kujadikan penerima tamu.
Aku keluar dan didampingi ayah dan Ibu untuk menyambut kedatangan Mas Rudi. Prosesi ini sangat lama, dan ribet sih untukku orang yang simpel. Pembawa acaranya juga membawakan rentetan acara yang panjang, seakan tak pernah lupa.
Setelah beberapa sesi yang melahkan, akhirnya aku duduk juga dengan Mas Rudi. Aku melihat semua orang didepanku menatap dengan penuh senyuman, sungguh malu rasanya.
Setelah lama akhirnya acara iringan pengantin selesai juga. Rasanya ingin sekali masuk kedalam kamar, namun masih banyak sekali tamu yang mulai berdatangan.
Aku dan Mas Rudi sibuk menyalami dan berfoto bersama. Rasanya seperti sehari jadi artis idola.
Akhirnya perias pengantin mengajakku dan Mas Rudi berganti baju dikamar. Ibu juga mengambilkan kita makan. Ibu memang yang terbaik, tahu saja jika anaknya kelaparan.
"Syah kamu seperti orang tidak makan seminggu saja", kata Mas Rudi
"Lapar tahu, duduk di pelaminan itu menguras tenaga Mas. Besok dirumahku gak usah acara seperti ini Mas, capek sekali", jawabku
"Ya nggak mungkin, pasti seperti ini Syah, Aku kan anak pertama".
"Terserahlah, asal jangan ganggu jika Aku tidur".
"La itunya kapan?".
"Tunggu sampai aku siap".
Kita kembali kepelaminan karena banyak sekali tamu Ayah dan Ibu. Semua teman-temanku sudah banyak yang berdatangan namun aku tidak melihat Putra datang dipernikahanku.
Hingga sore hari masih banyak sekali tamu yang berdatangan padahal undangannya hanya sampai jam empat sore.
Kudengar Novi yang sedang tertawa terbahak-bahak, Aku menoleh dipintu masuk. Ternyata dia sedang ngobrol bersama Putra dan Dimas. Alhamdulillah ternyata Putra datang juga.
Setelah menikmati jamuan, Putra dan Dimas menghampiriku. Aku mengajak mereka berfoto. Putra berdiri disampingku dengan matanya yang merah. Dia. menatapku dan tersenyum kepadaku.
Ketika selesai mereka menyalamiku dan Mas Rudi. Namun ketika Putra yang menyalamiku, Dia berbisik ditelingaku. "Aku mencintaimu Syah, Kutunggu jandamu".
__ADS_1
Entah apa yang putra minum yang jelas mulutnya bau minuman beralkohol. Spontan aku melepaskan genggaman tangan Putra. Sepertinya Mas Rudi tidak mendengar perkataan Putra.
Apa sesakit itu, hingga dia meminum minuman keras saat datang diacaraku, gumamku dalam hati.
Dia berjalan keluar tenda, Aku masih menatapnya karena dia sesekali menoleh kepadaku dan tersenyum.
Kudengar Adzan Magrib Aku dan Mas Rudi kembali menuju kamar. Senang sekali acaranya akhirnya selesai juga. Namun masih ada beberapa tamu Ayah yang masih berdatangan.
Kali ini kita benar-benar berdua dikamar. Aku melepaskan aksesoris dan baju pengantin. Mas Rudi menatapku dengan senyumannya yang menggoda.
"Sholat Mas, jangan lihatin Aku, sana keluar dulu Aku mau ganti baju", kataku
"Lo kita kan sudah halal Syah. Aku melihatmu t******** juga nggak berdosa kan", jawab Mas Rudi
"Iyah tapi aku malu jika kamu lihat. Ayolah keluar dulu Mas. Kamu sholat duluan, aku mau menghapus make-up dulu".
Akhirnya Mas Rudi keluar juga. Setelah sholat kita makan dulu. Meskipun acara sudah selesai tapi Ibu dan Ayah masih sibuk menemui tamu-tamunya.
Hingga malam, akhirnya bisa istirahat juga. Aku menghampiri Mas Rudi yang sedang menonton TV dikamar. Aku berbaring disampingnya, rasanya deg deg an juga.
"Mas....Aku capek besok saja yah?", kataku
"Iyah Mas juga capek sekali, meskipun sebenarnya pengen itu", jawab Mas Rudi
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan ke hal yang lainnya agar Mas Rudi tidak mengajakku malam pertama hari ini. Namun belum juga lima menit aku bercerita dia sudah tertidur sambil memelukku.
Apa Aku dianggap membaca dongeng sebelum tidur ya, kok dia langsung tertidur. Emang Nyebelin. gumamku dalam hati.
...****************...
Pagi ini perias pengantin datang lagi kerumahku, kita memang menggunakan jasa Make-up yang sama. Kali ini tidak terlalu buru-buru karena Memang kita kerumah Mas Rudi jam sepuluh pagi.
Setelah semua siap, para saudara dan tetanggaku berangkat untuk mengiringiku kerumah Mas Rudi. Mas Rudi menggandeng tanganku dan membukakan pintu untukku.
Rumah kita memang tidak terlalu jauh. Perjalanan dua puluh menit saja kita sudah sampai. Aku disambut hangat oleh keluarga dan teman-teman Mas Rudi. Mereka menyambut kedatanganku dengan meriah. Senanga rasanya, kulihat Mas Rudi dan Anggun juga ikut datang.
Setelah beberapa rentetan acara kulalui akhirnya bisa duduk juga. Tamu undangan dirumah Mas Rudi juga tidak kalah banyak dengan tamu undangan dirumahku kemaren. Sungguh tiga hari yang sangat melelahkan.
__ADS_1
Acara dirumah Mas Rudi selesai hingga habis Isya'. Padahal harusnya juga sampai jam lima sore. Ibu mertuaku menyuruh Aku dan Mas Rudi istirahat.
Setelah menghapus make-up dan sholat, Aku bergegas untuk tidur duluan. Teman-teman Mas Rudi masih ada beberapa yang datang. Setidaknya aku tidak bingung untuk menghindari Mas Rudi malam ini.
Aku terbangun dari tidurku ketika Mas Rudi memelukku dan menc*****. Aku benar-benar kaget saat ini.
"Maaf sayang membuatmu terbangun", kata Mas Rudi
"Kamu mau apa Mas. Ngapain kamu nggak pakai baju, dingin tau", Kataku
"Ya biar kamu hangat Syah, Mangakannya sini Mas peluk".
Mas Rudi memelukku dengan begitu erat. Terasa ada sesuatu yang menonjol dan bergerak. Astaga ini benar-benar membuatku takut, gumamku.
"Mas, aku capek sekali besok saja yah. Aku masih belum terbiasa ada kamu tidur disebelahku".
"La terus Mas harus tidur dimana Syah?".
"Ya disini tapi kamu diam saja jangan bergerak-gerak".
"Aku kan hidup masa' tidak boleh bergerak Syah".
"Ya maksudnya yang itu jangan ikutan gerak. Aku geli tahu".
Setelah perdebatan panjang akhirnya Mas Rudi mengalah juga. Kita memutuskan untuk tidur malam ini. Entah besok-besok Aku harus pandai mencari alasan untuk menghindar.
grekkk...grekk...grekk.... getar alarm Handphone Mas Rudi berbunyi.
Aku terbangun untuk mematikannya. Namun kulihat sudah subuh, hingga aku memutuskan untuk mandi dan sholat subuh. Setelah selesai aku kembali lagi kekamar namun kulihat ternyata Mas Rudi sudah bangun namun tetap berselimut.
"Syah sini duduk disebelahku. Aku ingin bicara", Kata Mas Rudi
Aku mengangguk dan duduk disamping Mas Rudi. Namun tiba-tiba dia menyelimutiku dan naik keatasku. Sungguh aku terhimpit badan Mas Rudi yang begitu kekar dan tidak bisa bergerak.
"Mas.... Kamu mau ngapain, kok nggak pakai ****** *****", tanyaku.
Namun Mas Rudi hanya tersenyum dan terus melakukan perbuatannya.
__ADS_1