
Siang ini setelah dari kampus aku bergegas menuju ke rumah sakit menjenguk Mas Rudi. Ini sudah hari ketujuh dia dirawat di rumah sakit.
Mas Rudi masih belum bisa mengingatku. Meskipun begitu aku masih selalu menjenguknya setiap pulang kuliah. Nanti malam rencananya Mas Rizal dan Anggun juga datang menjenguk Mas Rudi.
Aku berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Sebenarnya aku malu untuk datang lagi ke sini, namun aku kasihan dengan Ibunya Mas Rudi. Beliau sendirian tidak ada yang membantunya untuk menjaga Mas Rudi.
"Assalamualaikum". salamku saat masuk ke kamar Mas Rudi.
"Waalaikumsalam". jawab Mas Rudi.
Sepertinya Mas Rudi sudah membaik, meskipun dia tidak bisa mengingatku. Dia selalu menatapku tanpa senyuman ketika aku berada disini. Untung saja wajahnya tampan, jika menyeramkan mungkin akan terlihat seperti zombie.
"Ibu mana Mas?", tanyaku
"Keluar sebentar membeli makan. Kamu ngapain sih setiap hari kesini?". jawab Mas Rudi
"Ya jengukin kamu lah".
"Kurang kerjaan banget. (sambil menatapku sinis). Kata Ibu aku mau tunangan sama kamu?. Apa kita dijodohkan?", tanya Mas Rudi.
"Kamu sendiri kan yang mau melamarku Mas".
"La kok bisa, kamu aja masih bocah ingusan mau nikah".
"Kamu sendiri kan yang bilang cinta duluan. sekarang aku sudah jatuh cinta malah bilang begitu".
"Masa' sih, aku jatuh cinta sama gadis tengil seperti kamu. Bukan tipeku banget".
Astaga ternyata menyebalkan juga Mas Rudi. coba saja jika aku tidak terlanjur jatuh cinta mungkin sudah kugetok kepalanya biar sadar, gumamku dalam hati.
Aku membuka handphonenku dan memperlihatkan foto-foto kita waktu mendaki dipuncak gunung waktu itu. Dia melihatnya dan sesekali menatapku. Tak lama dia juga mengambil handphone yang berada dimeja samping tempat tidur.
Kuintip dia juga sedang membuka galeri foto dihandphonenya.
"Bener kan, ada fotoku dihandphonemu Mas", tanyaku.
Mas Rudi hanya diam saja sambil terus menatapku.
"Ngapain sih Mas lihat-lihat, membuatku takut saja", tanyaku.
"Kamu cantik sih tapi kok jutek sekali", jawab Mas Rudi
"Ya emang cantiklah, mangakannya Mas jatuh cinta kepadaku. Kamu kapan sadar sih Mas, aku capek tahu menunggu".
"Ini aku sudah sadar kan". (wajah datar tanpa senyum).
Astaga..... sabar Syah.... sabar.....
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Kulihat Ibu sudah kembali dari membeli makan.
__ADS_1
"Sudah datang Syah, untung ibu beli nasi dua. Ayo kita makan sama-sama Nak".
"Mas Rudi, nggak makan Bu?", tanyaku.
"Tadi sudah makan bubur. oh yah Nak, tadi kata dokter besok sudah boleh pulang tapi harus terapi tiap Minggu , jawab Ibu
"Alhamdulillah jika begitu Bu".
Senang sekali mendengar jika Mas Rudi besok bisa pulang. Namun jika dia sudah dirumah mungkin tidak setiap hari aku bisa bertemu.
Aku menatapnya ternyata dari tadi Mas Rudi terus memandangiku, entah pandangan kosong apa tidak.
Hingga malam hari Aku tetap berada disini. Tak lama Mas Rizal dan Anggun datang menjenguk.
"Gimana bro, sudah sembuh nih. kapan masuk kerja lagi?". kata Mas Rizal.
"Alhamdulillah sudah mendingan. Mas siapa yah?", tanya Mas Rudi
"Kamu beneran nggak inget sama saya? Saya Rizal, teman kerjamu dikepolisian. Kemaren kan kecelakaan saat kamu menolongku", jawab Mas Rizal
"Mas Rudi hanya bisa mengingat kenangan lamanya Mas", sahutku.
"Sama kamu juga lupa Syah?".
"Iyah Mas".
"Yang sabar yah Syah".
Aku membuka laptop dan menonton film di yutub hingga larut malam. Aku duduk dibawa sambil menggelar tikar.
Bruakkkkk........
Sebuah roti melayang kewajahku.
Ha... ha.... ha.... ha... (suara tawa Mas Rudi).
Aku meliriknya sambil memajukan bibirku.
"Eh Syah, ambilkan minum dong", kata Mas Rudi.
"Itu kan disebelahmu Mas. Ambil sendiri lah, mengganggu saja".
"Kamu katanya pacarku, ayo gih ambilkan".
Aku berdiri mengambilkan Mas Rudi minum. Dia menatapku sambil tersenyum.
"Ngapain kamu melihatku seperti itu Mas. Kamu sudah ingat aku yah", tanyaku.
"wajahmu itu Lo lucu kyak Masha, gemes pengen Ku cubit".
"Iyah Kamu beruangnya".
"Syah, jalan-jalan yuk. Aku bosan disini".
__ADS_1
"Kamu nggak lihat ini sudah jam dua belas malam Mas. Mana ada pasien keluyuran jam segini".
"Ayolah sebentar saja. Pasti ada taman didepan".
Akhirnya aku menuruti kemauan Mas Rudi. Kita berjalan menuju ke taman. Aku mendorong infus Mas Rudi. Karena di depan pintu ruangan tidak ada satpam akhirnya kita berhasil keluar.
Sesampainya di taman kita duduk-duduk di sebelah air mancur. indah sekali malam ini, rasanya teringat ketika waktu aku berada di gunung.
Sebenarnya sepi sekali di taman ini bahkan hampir tidak ada orang yang lewat. Lama-lama aku merinding juga duduk di taman ini. Aku mengajak Mas Rudi kembali ke kamar namun dia meminta sebentar lagi.
Aku sudah mulai mengantuk, namun Mas Rudi masih tidak mau masuk. Aku menoleh kebelakang. Kulihat Tanaman bergoyang sendiri padahal tidak ada angin. Kupandangi terus namun malah semakin cepat.
"Mas, Ayo kita balik. Sepertinya ada sesuatu dibelakang. coba kamu lihat tanaman itu, dari tadi bergoyang". kataku.
"Iyah kena angin lah, enakan disini. sejuk nggak pengap. bentar lagi deh".
Tiba-tiba sosok hitam berdiri dari balik tanaman.
"Genderuwo........ aaaaaaaaaaa".
Aku berlari secepat kilat, hingga aku melupakan Mas Rudi. Jatungku berdetak begitu cepat. Aku masuk keruangan Mawar. Aku berhenti kita melihat seorang perawat laki-laki.
"Ada apa mbak?", tanya perawat itu.
Sambil ngos-ngosan aku menjawab, "Ada genderuwo ditaman Mas",
"La Mbak ngapain malam-malam ditaman?".
"Astaghfirullah....... Mas Rudi ketinggalan. Mas tolong antarkan saya, tadi saya duduk ditaman dengan pasien dikamar ini".
"Kok malam-malam diajak keluar Mbak, bukannya istirahat".
"orangnya pengen keluar katanya bosan dikamar".
Aku dan Mas perawat berjalan menuju taman. Kulihat Mas Rudi masih duduk ditempat tadi bersama seorang satpam dengan memakai jaket hitam dan rambutnya ditutupi jaket.
Mas Rudi tertawa terbahak-bahak melihatku kembali.
"Eh Syah. ngapain tadi kamu lari-lari membuatku kaget saja".
"Tadi ada genderuwo disana Mas, sosok hitam muncul tiba-tiba".
"Bapak ini kah, genderuwonya? ha... ha....ha....
Tadi itu bapak ini lagi telfonan sambil tiduran. Dibalik tanaman itu ada kursinya".
"Waktu mbak teriak genderuwo, saya ikutan lari", sahut pak satpam.
Aku mengajak Mas Rudi masuk kekamar. Kita dibantuin perawat dan Pak Satpam tadi.
Mas Rudi merebahkan tubuhnya ditempat tidur. Aku duduk disamping Ibu. Mas Rudi terus menatapku sambil tersenyum. Senang juga melihatnya.
Akhirnya, senyuman Mas Rudi yang manis itu keluar juga, meskipun aku masih merasa deg deg an gara-gara berlari tadi.
__ADS_1