Ditilang Cinta Polisi Ganteng

Ditilang Cinta Polisi Ganteng
Sebuah kejutan


__ADS_3

Malam ini Mas Rudi menelponku Dia menanyakan tentang keadaanku. tumben sekali padahal dia jarang sekali menelpon.


"Syah gimana kakimu apa sudah sembuh?", tanya Mas Rudi.


"Sudah sih namun terkadang masih sedikit nyeri", jawabku.


"Besok pagi aku jemput ya ikut aku jalan-jalan".


"Boleh emangnya mau ke mana tapi kalau jalan jangan cepet-cepet ya Mas. kakiku masih nyeri jika dibuat jalan cepat. Kamu besok apa enggak kerja Mas?".


"Nanti aku gendong juga nggak apa-apa Syah. Besok aku libur sehari".


"Mas aku mau nanya serius, tolong kamu jawab ya dengan jujur. Sebenarnya kamu itu sudah ingat denganku apa belum ya".


"Sebenarnya belum sepenuhnya ingat, hanya samar-samar. Aku sering memimpikan wanita yang duduk sendirian. Namun aku hanya melihatnya dari belakang. Aku juga tak tahu sebenarnya wanita itu siapa mungkin juga kamu yang sedang menungguku Syah".


"Pede banget kamu Mas. Lalu kenapa kamu bilang kepada orang tuamu kalau ingin melamarku Mas?".


"Saat dari lapangan Brawijaya waktu itu. Aku semalaman tidak bisa tidur, rasanya kepalaku cenut cenut akhirnya aku menghampiri Pak Rizal dan ngobrol hingga hampir subuh.


Pak Rizal dan aku membahas tentang kamu. Pak Rizal meyakinkanku bahwa kamu adalah orang yang tepat untukku. dia juga meyakinkan bahwa aku sangat mencintaimu.


Saat selesai mengobrol dengan Pak Rizal rasanya kepalaku begitu pusing dan aku kembali ke kamar. setelah minum obat aku tak tahu lagi apa yang terjadi.


Namun waktu itu aku melihat seorang wanita yang sedang duduk membelakangiku namun kali ini aku memanggilnya dan dia menoleh kepadaku ternyata itu kamu Syah.


Ya wanita yang menungguku itu kamu Syah.... aku memanggilmu dan kamu tersenyum kepadaku. Namun waktu itu kamu berdiri dan menjauhiku.


Aku mencoba mengejarmu sambil terus menyebut nama mu Aisyah. akhirnya kamu berhenti namun setelah itu aku terbangun karena aku mencium bau minyak kayu putih yang sangat menyengat.Ternyata aku hanya mimpi".


"Lalu jika suatu hari nanti kamu sadar dan aku bukan cinta sejatimu gimana Mas?".


"Ya doain aja, aku selamanya tidak sadar Syah ha... ha...ha...".


"Oh dasar gajah ha... ha.... ha....", candaku.


Setelah ngobrol panjang dengan Mas Rudi, aku memutuskan untuk tidur karena hari sudah larut malam. Aku sangat mengantuk sekali.


Aku terbangun ketika mendengar adzan subuh. Kulihat Ibu juga sudah bangun dan memasak.


"Mau masak apa Bu kok banyak sekali?".


"Iyah nanti kan ada acara dirumah".


"Lo acara apa Bu. Ayah sama Ibu nggak kerja kah?".


"Kumpulan Ibu -ibu. Ayah kerja tapi ibu bolos Syah".


"Tapi nanti aku diajak Mas Rudi keluar Bu".


"Iyah nggak apa-apa Syah kamu keluar aja. Lagian ibu nggak repot kok. nanti kuenya Ibu sudah pesen kok. Tapi nanti kamu pulang yah setelah sebelum magrib".


Setelah mandi dan sholat aku membantu ibu sebentar didapur. Kulihat Ayah sudah bersiap untuk berangkat kerja.

__ADS_1


Kudengar Ayah sedang mengobrol dengan seseorang didepan, entah siapa itu. Tak lama Ayah memanggilku, Aku menghampirinya ternyata Mas Rudi datang dengan memakai pakaian polisi.


Astaga ini masih belum jam tujuh pagi kalee Mas, gumamku dalam hati.


"Pagi amat Mas, Mau kemana emangnya?", tanyaku pada Mas Rudi


"Iyah ikut Mas, kekantor sebentar", Jawab Mas Rudi


"Lo katanya libur, kok kesana?".


"Iyah sebentar saja".


"Jika keluarnya jauh pakai mobil saja Syah, STNK di Ibu". Sahut Ayah


"Iyah yah, terserah Mas Rudi aja. Aku ganti baju dulu".


Setelah selesai bersiap-siap aku berpamitan kepada ibu, namun Ibu menyuruhku untuk sarapan terlebih dahulu. Karena Mas Rudi buru-buru akhirnya kita memutuskan untuk berangkat.


Sepanjang perjalanan Mas Rudi hanya diam saja entah apa yang dipikirkannya. namun tak lama handphone Mas Rudi berbunyi. entah siapa yang menelponnya wajah Mas Rudi berubah menjadi ceria.


"Siapa Mas yang telpon kok kamu jadi senang gitu?", tanyaku penasaran


"Pak Rizal. Sebenarnya aku tukeran hari libur dengan Pak Rizal, tadi pagi dia aku telepon nggak diangkat, takutnya dia lupa. Mangkanya aku tadi jemput kamu pagi-pagi. mau ngecek Pak Rizal dikantor. Ternyata dia sudah berangkat, ya udah Alhamdulillah kita tidak jadi kesana", jawab Mas Rudi


"La terus kita mau kemana Mas?".


"Kemana aja asal sama kamu Syah he... he... he...".


Aku memanyunkan mulutku.


"Ya nggak apa-apa, polisi juga manusia ha... ha... ha...".


Tiba-tiba Mas Rudi memberhentikan Mobilnya di pinggir jalan. dia mengambil kaos dan celana yang ada di tasnya. Aku memandangnya dengan tatapan tajam. Namun dia hanya tersenyum.


Mas Rudi berganti baju didalam mobil. Tubuhnya yang kekar nampak begitu mempesona.


"La terus celananya ganti dimana Mas", tanyaku.


"Ya disini sayang he.. he... he... Yah nanti aku ganti dipom atau dikafe saja sambil makan", jawab Mas Rudi


Mas Rudi melajukan kembali mobilnya, Dia mengajakku untuk mencari makan. Kita berhenti di sebuah warung makan sederhana.


Nampak dari luar memang sangat sederhana namun waktu masuk kedalam tempatnya sungguh luas dan penuh dengan dekorasi vintage, cocok sekali untuk berfoto.


Sambil menunggu makanan datang, Aku berfoto disini. Akhirnya Mas Rudi juga ikut berfoto denganku.


"Mas, setelah ini kita mau kemana Mas", tanyaku.


"Nyari.....", jawab Mas Rudi


"Nyari apa Mas? lama sekali jawabnya".


"Nyari kado buat ibu".

__ADS_1


"Emang Ibu ulang tahun Mas?".


"Ya enggak juga, ya pengen nyenengin aja. Jika dibelikan perhiasan gimana menurutmu Syah?".


"Iyah nggak apa-apa Mas, biasanya Ibu-ibu suka emas".


Obrolan kita terhenti ketika makanan kita sudah datang. enak sekali ternyata makanan di sini tempatnya juga nyaman.


Setelah makan Mas Rudi mengajakku pergi ke sebuah toko emas.


Mas Rudi memilih-milih emas yang cocok buat ibunya. Namun Mas Rudi menyuruhku untuk memilih cincin dan kalung.


Sebenarnya senang sekali Jika aku juga dibelikan cincin, gumamku dalam hati.


"Ini bagus Mas buat Ibu", kataku.


"Coba masukkan ketangan kamu Syah", tanya Mas Rudi


"Tapi untuk Ibu kurang besar Mas. Ini hanya cukup ditanganku yang imut-imut, padahal bagus Lo".


"Pasti cukup kok Syah".


Aku melihat-lihat lagi di bagian lain. Kulihat Mas Rudi membeli cincin pilihanku tadi dan Dia memilih lagi dua buah kalung.


Aku menghampirinya ternyata benar dia memilih dua kalung. Mungkin yang satu lagi untuk adiknya Mas Rudi.


Setelah membeli perhiasan, Mas Rudi mengajakku pergi ke puncak. Perjalanan cukup jauh dan melelahkan untung saja tadi kita membawa mobil. Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya kita berhenti disebuah kebun strawberry.


Senang rasanya bisa ke sini menikmati pemandangan alam yang indah dan bisa memetik strawberry


langsung dari kebunnya.


Setelah puas berada di kebun strawberry, Aku mengajak Mas Rudi pulang ke rumah. Perjalanan lumayan jauh ditambah sering berhenti untuk membeli duren dan mampir sholat. Padahal tadi Ibu menyuruhku pulang sebelum magrib.


Kulihat sudah jam lima sore. Mas Rudi mulai melajukan mobil dengan cepat. Hingga satu jam lebih akhirnya kita sudah sampai didepan dirumah.


Namun kulihat dirumah sudah banyak orang, padahal baru saja adzan Maghrib.


"Lo kok sudah banyak orang, ada banyak saudara juga yang datang.Sepertinya itu Motor Novi, sebelahnya juga motor Anggun. Ada apa yah Mas?", tanyaku


"Ya enggak tahu Syah, ini kan rumah kamu".


"Tadi kata ibu acara kumpulnya ibu-ibu tapi kok ada dekorasinya".


Kulihat Mas Rudi mengambil bajunya di tas, dia mengeluarkan baju batik berwarna coklat. dia juga menyisir rambutnya dan menyemprotkan parfum bajunya.


"Kamu ngapain Mas ganti baju, wangi pula padahal belum mandi?", tanyaku.


"Lo katamu ada acara Ibu-ibu, siapa tahu ada yang naksir denganku".


Aku keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah bersama Mas Rudi. Dan benar di teras ternyata ada Novi, Anggun dan Mas Rizal.


Mereka memelukku dan bersorak selamat yah. Aku menoleh Kebelakang, Astaga ternyata dekorasi itu bertuliskan,

__ADS_1


Aisyah dan Rudi Arga.


Aku tersenyum bahagia, Apa ini benar atau mimpi jika benar mengapa Ibu tidak cerita.


__ADS_2