
Jantungku berdetak
saat engkau ada di dekatku mungkinkah diriku telah jatuh cinta pada dirimu.....
Ah..... Sungguh lagu ini mewakili diriku saat ini. Lagu yang tak sengaja kutemukan malam ini ketika aku mengerjakan tugas kuliah sambil mendengarkan radio.
Kulihat handphonenku, ada sebuah panggilan masuk dari Mas Rudi.
"Assalamualaikum Syah lagi ngapain?".
"Waalaikumsalam, lagi dengerin musik Mas".
"Aku sudah buktikan tadi pagi loh. terus gimana Syah kelanjutannya kapan kita bertunangan?", tanya Mas Rudi.
Sudah kuduga pasti dia menagih itu. Aku tertawa mendengar Mas Rudi yang sedang merayuku.
"Sebenarnya aku belum siap menikah Mas aku takut, kenapa sih harus menikah?".
"Apa yang kamu takutkan Syah. Kamu sebenarnya kan juga suka sama aku dari dulu. Semua orang itu pasti akan menikah cuma kamu aja yang nggak mau.
Kita bertunangan dulu aja Syah, aku mau kok menunggumu sampai lulus kuliah. Orang tua kita juga sama-sama saling tahu, lalu apalagi yang kamu takutkan".
"Tapi Mas, aku beneran takut. Aku belum pernah pacaran. Terus setelah pertunangan apa kita langsung menikah Mas?".
"Mas akan menunggu sampai kamu siap Syah. Kita bisa saling mengenal satu sama lain".
"Ah gayamu Mas, padahal kan Mas juga takut bilang suka sama aku. Anggun sudah cerita kok. waktu di gunung, kamu kan mau bilang suka tapi gagal ha... ha.... ha....".
"ha.... ha... ha.... Lo waktu itu karena Mas belum siap kata-kata. jika sekarang yah sudah biasa aja".
"yah Iyah biasa, kan tadi yang bicara Bu Hanny sama orang tua Mas saja. Mas cuma diem aja".
"Jadi anak harus patuh sama orang tua jadi aku yah diem aja Syah. Besok kamu kembali ke kos jam berapa Syah?".
"Ah.... kamu ngeles melulu kyak bajaj. Setelah sholat subuh Mas. Besok ada kuliah jam 7".
Setelah terjadi obrolan panjang akhirnya aku menutup teleponnya karena kulihat sekarang sudah hampir jam dua belas malam. Aku mulai memejamkan mata karena besok aku harus berangkat pagi-pagi.
kukuruyuk...... kukuruyuk....
Suara ayam tetangga membangunkanku sebelum subuh. Sebenarnya aku masih mengantuk sekali. namun kulihat sudah jam empat kurang lima menit. Sebentar lagi adzan subuh.
Alarm handphoneku juga berbunyi, namun sedikit telat karena keduluan ayam tetangga.
Kulihat ibu juga sudah bangun karena harus bekerja dan menyiapkan sarapan, karena Bu deh datang agak siang.
__ADS_1
Aku bergegas mandi dan sholat. Setelah selesai aku bersiap-siap untuk berangkat. Ibu juga membawakan bekal dan lauk untuk kubawa dikos.
Aku berlari ketika handphonenku berbunyi. Kulihat ternyata Mas Rudi.
"Assalamualaikum Mas, ada Apa?".
"Waalaikumsalam, kamu sudah berangkat Syah?".
"Belum Mas, kenapa memangnya?".
"Aku didepan rumah kamu, ayo aku antar sekalian Mas juga kembali ke Surabaya".
Tiba-tiba jantungku berdetak begitu cepat. Antara bingung dan senang.
Ini beneran, aku nggak mimpi kan. dijemput Mas Rudi, gumamku.
Aku bergegas keluar rumah, ternyata benar Mas Rudi. Dia berpakaian polisi lengkap dan membawa tas ransel. oh.... sungguh tampan sekali dia, beruntungnya jika nanti aku memang bisa menikah dengannya.
Mas Rudi tersenyum kepadaku dengan lesung pipinya yang manis itu. Aku membalas senyuman, dan mengajaknya masuk kerumah terlebih dulu.
Aku membuatkan Mas Rudi kopi susu hangat biar nanti enggak mengantuk. Ibu juga menawari Mas Rudi makan namun mas Rudi menolaknya.
Aku mengambil tas dan kita berpamitan pada Ayah dan Ibu.
Nyaman sekali diboncengin Mas Rudi. Tubuhnya yang besar dan kekar serta wajahnya yang tampan membuatku nyaman dekat dengannya.
"Syah.... kamu enggak ngantuk kan?", tanya Mas Rudi.
"Enggak kok Mas", jawabku
"Kok diem aja. Kamu pegangan biar enggak jatuh".
Aku enggak memegang Mas Rudi meskipun dia sudah menyuruhku. Namun tangan Mas Rudi kemudian menarik tanganku dan ditaruh di pinggangnya.
Astaga hatiku bergetar tak karuan, jantungku serasa mau copot. Aku tersenyum sendirian. Baru kali ini aku merasakan cinta yang sesungguhnya.
Setelah hampir satu jam perjalanan akhirnya sampai juga di kos.
"Besok kalau kamu mau pulang ke rumah kabarin aku ya aku antar pulang".
"Iyah Mas, kamu hati-hati jangan ngebut sekarang masih jam 06.00 wib kok".
"Iyah habis ini juga aku mau ada tugas di jalan sama Pak Rizal juga".
"kamu ke kampus nanti naik apa Syah".
__ADS_1
"Nanti bareng Novi atau bareng Anggun aja Mas. Kalau mereka belum datang ya aku jalan kaki, nggak apa-apa nggak terlalu jauh juga".
"Ya udah Mas berangkat dulu assalamualaikum".
"Waalaikumsalam hati-hati Mas".
Aku segera masuk ke dalam kos, ternyata Novi belum datang. Aku merebahkan tubuhku sejenak sambil memainkan handphone. Ku coba menghubungi Anggun untuk bareng kekampus. Ternyata dibalas juga, akhirnya dia mau menjemputku nanti jam 07.00 Wib.
Setelah hampir satu jam aku menunggu Anggun, akhirnya dia sampai juga. Kita bersama-sama menuju kampus, setelah menunggu tiga puluh menit ternyata dosennya hari ini tidak datang. Jadi aku hanya duduk-duduk di kampus sambil menunggu kuliah kedua.
"Eh Nggun aku mau cerita nih, tahu nggak kenapa aku hari ini enggak bawa motor?", tanyaku pada Anggun.
"Aku diantar Mas Rudi he... he.... he...".
"Lo kok bisa Syah?", tanya Anggun penasaran.
"Sebenarnya......."
"Bentar Syah ada telepon".
Anggun memotong pembicaraanku padahal baru juga mau cerita. merusak moodku saja.
Anggun menerima telepon dengan serius, ekspresi wajahnya seperti khawatir. Entah dengan siapa dia telponan. wajahnya yang ceria berubah jadi sedih. Setelah menutup teleponnya Anggun memegang tanganku.
"Syah..... Mas Rizal dan Mas Rudi kecelakaan".
"Ha....... kok bisa, keadaannya gimana sekarang".
"Ayo kita kesana Syah, mereka dirumah sakit Umum".
"Nggun, keadaan mereka gimana terus yang telepon barusan itu siapa".
"Mas Rizal, dia nggak apa-apa tapi Mas Rudi sekarang nggak sadar. sebelum pingsan dia menyebut namamu Syah".
"Ayo cepetan Nggun,..... sini kunci motormu biar aku yang bawa".
"Nggak usah Syah aku aja, kamu nggak bisa mengontrol diri".
Sepanjang perjalanan Aku masih memikirkan keadaan Mas Rudi. Padahal baru saja dia bersamaku. kali ini jantungku berdetak begitu cepat bukan karena aku bahagia namun karena aku takut kehilangan Mas Rudi.
"Ayo Nggun cepet, kamu lama amat sih bawa motornya".
"Ini sudah 80 km per jam Syah, di depan itu macet kita nggak bisa ngebut-ngebut. Tenang Syah, Mas Rudi sudah dirumah sakit kok".
Setelah tiga puluh menit perjalanan akhirnya kita sampai juga di rumah sakit. kita menuju ke UGD akhirnya ketemu juga dengan Mas Rizal
__ADS_1