Ditilang Cinta Polisi Ganteng

Ditilang Cinta Polisi Ganteng
Mas Rudi Sadar


__ADS_3

kring..... kring.... kring......


Dering handphoneku berbunyi begitu keras. Kulihat dari nomor baru, namun aku tetap mengangkatnya.


"Assalamualaikum, Nak ini Ibunya Rudi".


"Waalaikumsalam, Iyah Bu ada apa".


"Ibu mau memberitahu jika Rudi sudah sadar, Setelah ini mau dipindahkan dikamar Mawar nomor lima".


"Alhamdulillah Bu, nanti setelah selesai kuliah saya kesana".


"Iyah Nak, Ya Udah jika begitu. Assalamualaikum".


"waalaikumsalam Bu".


Alhamdulillah senang sekali rasanya aku mendengar Mas Rudi sudah sadar. Rasanya tak sabar aku untuk segera datang ke rumah sakit.


Tinggal satu mata kuliah lagi. Nanti jam 12.00 Wib saja aku ke sana setelah selesai kuliah.


Aku berlari menuju parkiran dan menarik tangan Anggun agar berjalan lebih cepat. Aku memang memakai motor Anggun karena waktu balik ke kos, Aku diantar Mas Rudi.


Setelah mengantar Anggun ke kosnya, Aku segera menuju kerumah sakit. Selama perjalanan aku hanya tersenyum-senyum sendirian. Aku berhenti sejenak untuk membelikan Brownis kesukaan Mas Rudi.


Setelah tiga puluh menit perjalanan akhirnya aku sampai juga di rumah sakit. Aku berjalan menuju ICU namun ternyata Mas Rudi sudah dipindahkan dikamar perawatan.


Teringat perkataan Ibu bahwa Mas Rudi, akan dipindahkan keruang Mawar nomor lima.


Aku berjalan menelusuri rumah sakit namun tak kunjung ketemu akhirnya aku bertanya kepada satpam yang berjaga di ruangan VVIP. Ternyata lokasinya bersebelahan dengan ruang VVIP.


Aku masuk dan mencari kamar nomor lima. Aku mengintip dari pintu kaca, ternyata benar Mas Rudi dan Ibunya ada dikamar itu.


"Assalamualaikum Bu".


"Waalaikumsalam, Ayo sini nak duduk".


Ibunya terlihat bahagia sekali, melihat Mas Rudi sudah sadar. Aku tersenyum akhirnya Mas Rudi sudah sadar setelah tiga hari tak sadarkan diri.


"Mas Rudi belum bangun Bu?", tanyaku.


"Tadi sebelum pindah kesini, sempat membuka mata namun hanya sebentar. Dia juga belum berbicara sama sekali".


Aku rebahan disamping ibunya Mas Rudi sambil menonton TV. Ibunya Mas Rudi baik sekali kepadaku, orangnya juga asyik dan pengertian. beliau juga sudah menganggap ku seperti anak sendiri. Nyaman sekali jika punya mertua seperti ini.


Hingga sore hari Mas Rudi belum juga bangun. Aku masih diruangan ini bersama Ibunya.


"Bu, saya mau kok menemani ibu disini jika ibu tidak ada temannya".


"Nggak apa-apa nak, kamu kan harus kuliah. nanti malam Ayah Arga juga kesini kok meskipun tidak menginap".


"Nggak apa-apa Bu, saya tidur sini aja, besok subuh saya balik ke kos".


"Iyah udah terserah kamu saja Nak".


Hingga malam Mas Rudi belum juga bangun. Tepat jam delapan malam dokter memeriksa keadaan Mas Rudi. Dokter mengatakan jika akan rotgen kepala Mas Rudi besok pagi untuk mengecek ulang.


Tak lama Ayah Mas Rudi juga datang melihat keadaan anaknya. terlihat senyum bahagia juga terpancar dari wajah Ayah Mas Rudi.


Malam ini beliau tidak menginap di rumah sakit karena sudah ada aku yang menemani Ibu.

__ADS_1


"Syah.... terima kasih yah sudah mau menemani Ibunya Arga" kata Ayah Mas Rudi


"Iyah saya senang kok bisa ikut menjaga Mas Rudi". jawabku.


Setelah mengobrol cukup lama, Ayah Mas Rudi berpamitan karena besok beliau harus bekerja.


"Ibu tidur saja biar Mas Rudi saya yang jaga. Saya belum mengantuk Bu". kataku.


"Ya sudah nanti jika Arga bangun kamu, bangunin ibu saja", Jawab Ibu


Aku bermain handphone hingga larut malam. Aku memang sudah terbiasa tidur jam dua belas malam.


Tiba-tiba Mas Rudi Batuk-batuk, namun matanya masih terpejam.


Aku menghampirinya dan membawakan minum.


"Mas.... mas.... bangun", kataku.


Alhamdulillah Mas Rudi benar-benar bangun. Aku mencoba memberikan dia minum, namun dia hanya menatapku tajam.


"Mas minum dulu yah". kataku.


Aku memberikan Mas Rudi minum namun dia menolaknya. Dia hanya menatap langit-langit kamar dan menengok ke kanan dan kekiri.


"Mas... Mas.... kamu ingat aku kan?", tanyaku.


"Ibu mana", Jawab mas Rudi dengan suara serak.


"Ibu tidur Mas, kasihan sudah empat hari ini Ibu menjagamu dirumah sakit ini".


"Kamu siapa???? tanya Mas Rudi.


Mas Rudi memegang kepalanya, sepertinya dia kesakitan. Aku segera membangunkan Ibu dan berlari keluar untuk memanggil perawat.


Alhamdulillah kebetulan hari ini ada dokter jaga yang standbay diruang Mawar. Dokter segera memeriksa Mas Rudi dan memberikan suntikan di cairan infusnya.


Kulihat Mas Rudi sedikit tenang dan tidak merasa kesakitan lagi.


Setelah dokter dan perawat pergi, aku dan ibu duduk disamping Mas Rudi. Namun dia terus menatapku tajam tanpa senyuman sedikitpun.


Kali ini aku takut sekali dengan tatapan Mas Rudi kepadaku. Seperti zombie yang siap menerkam leherku.


"Arga ini Aisyah calon Istrimu, dua bulan lagi kan kalian mau bertunangan". kata ibu kepada Mas Rudi.


Mas Rudi terus menatapku tajam. dia seperti tidak mengenaliku.


"Mungkin Mas Rudi belum sadar betul Bu", jawabku.


"Mia mana Bu", jawab Mas Rudi.


"Kamu kan sudah putus dengan Mia Enam tahun lalu Nak. Sekarang sudah ada Aisyah disini".


"Aisyah siapa Bu".


"Wanita disampingmu itu Aisyah calon Istrimu. Bukannya kamu yang memilih Aisyah".


Mas Rudi memegang kepalanya, dia mengerutkan dahinya seperti sedang kesakitan.


"Sudah Bu, nggak apa-apa. mungkin karena kepalanya terbentur hingga dia masih bingung", kataku.

__ADS_1


"Ya sudah kamu tidur saja Nak". kata ibu kepada Mas Rudi.


Aku duduk dibawa ranjang Mas Rudi dan Ibu tidur disofa. Mas Rudi terus menatapku sinis. Entah itu tatapan kosong atau memang dia sedang berusaha mengingatku.


Tak terasa sudah subuh, namun aku masih tidak bisa tidur. Aku segera mengambil air wudlu dan sholat disamping Mas Rudi. Kulihat Ibu juga sudah terbangun karena mendengarku dari kamar mandi.


"Syah, kamu tidak tidur semalaman?", tanya ibu


"Saya tidak bisa tidur Bu", jawabku sambil tersenyum.


"Ya sudah kamu coba tidur sana, nanti katanya kamu ada kuliah".


"Iyah Bu, nanti kuliah jam sembilan kok".


Aku mencoba untuk tidur sejenak. Namun tiba-tiba aku terbangun ketika alarmku berbunyi dijam tujuh pagi. Padahal seperti baru lima menit aku tertidur.


Aku mencuci muka saja dan bersiap untuk kembali ke kos. Namun Ibu menyuruhku sarapan terlebih dulu. Rupanya beliau sudah membelikanku sarapan.


Mas Rudi terbangun dan memanggil ibu, ternyata dia haus. Kulihat Dia selalu menatapku tajam.


Tak lama dokter datang beserta satu perawat. Setelah dokter memeriksa, Ibu menceritakan jika Rudi tidak mengenali Pacarnya. namun dia masih mengenali Ibunya.


"Sepertinya Mas Rudi menderita amnesia traumatis akibat benturan keras dikepala Bu, namun perlahan bisa ingat kembali. memang jenis amnesia itu banyak Bu, saat ini Mas Rudi hanya bisa mengingat kenangan lama namun tak mampu mengingat hal-hal yang baru. Setelah ini kita rotgen lagi untuk mengetahui hasilnya". kata dokter.


"Mas namanya siapa?, tanya dokter kepada Mas Rudi


"Arga".


"Nama lengkap".


"Rudi Arga Pratama".


"ini siapa?" dokter menunjuk ibu.


"Ibu saya".


"Mbak yang disamping itu?".


"Enggak tahu, mungkin muridnya Ibu".


"Mbak, berapa lama kenal dengan Mas Rudi?", tanya dokter kepadaku.


"Sekitar satu tahun dok", jawabku.


"Berarti Mas Rudi memang sedang Amnesia Bu, dia hanya bisa mengingat masa lalunya namun susah untuk mengingat hal yang baru".


Astaga kukira Amnesia hanya ada difilm ternyata ada juga dikenyataan. Sedih sekali aku mendengar pertanyaan dokter barusan. Baru juga nyaman dengan Mas Rudi namun dia tak bisa mengingatku lagi, gumamku dalam hati.


Ibu merangkul ku dan berkata, "Sabar ya nak, doakan saja Arga segera mengingat semuanya".


"Iyah Bu, saya Pamit dulu saja Bu. nanti setelah kuliah saya kesini lagi".


"Iyah Nak, hati-hati dijalan".


"Mas Rudi, aku pamit dulu yah. cepat sembuh dan ingat aku lagi".


Mas Rudi hanya menatapku tanpa bicara apapun.


Ibu mengantarkan aku kedepan sambil memelukku, beliau seperti tahu jika hatiku sedang hancur karena Mas Rudi tak bisa mengingatku.

__ADS_1


__ADS_2