Ditilang Cinta Polisi Ganteng

Ditilang Cinta Polisi Ganteng
Kejutan Indah Dirumah


__ADS_3

Rasanya malas sekali keluar rumah. baru saja aku menolak ajakan Putra dan Novi untuk pergi ke puncak.


Setiap minggu aku memang sering keluar dengan mereka. Minggu kemarin aku sudah pergi mendaki, rasanya minggu ini aku ingin istirahat saja di rumah.


Aku menonton TV di kamar sambil rebahan. Setiap minggu Bu deh libur sehingga pagi ini Ibu dan Ayah pergi jalan-jalan pagi sambil mencari lauk pauk.


Di rumahku memang selalu saja sepi karena memang aku tinggal bertiga di rumah. Kudengar Ibu dan Ayah sudah kembali. Mereka memanggilku untuk sarapan bersama.


Setelah selesai aku kembali lagi ke kamar sambil mengerjakan tugas kuliahku yang akan dikumpulkan besok.


Kring..... Kring..... Kring.....


Dering handphone-ku berbunyi begitu keras, kulihat ternyata itu Mas Rudi.


"Assalamualaikum Mas".


"Waalaikumsalam. kamu dirumah Syah?".


"Iyah Mas, kenapa?", tanyaku penasaran.


"Nggak apa-apa Syah. Yah udah Assalamualaikum".


"waalaikumsalam".


Sedikit bingung sih dengan sikap Mas Rudi tiba-tiba tanya seperti itu, lalu menutup teleponnya. membuatku semakin penasaran saja.


Ini hati orang woyyyy..... punya rasa, bukan hati ayam yang dijual dipasar, gumamku sambil marahin Handphoneku.


Moodku tiba-tiba hilang, rasanya malas sekali Aku mengerjakan tugas kuliah. Ku tutup tugasku dan kau ganti dengan menonton film di YuTub.


Aku terbangun ketika ibu memanggilku, sungguh kaget sih karena ternyata aku ketiduran dan laptopku masih menyala entah sampai mana filmnya aku juga tidak tahu.


"Aisyah.... Syah", Panggil ibu kepadaku


"Iyah Bu, kenapa?", tanyaku dengan mata yang baru terbuka.


"Ada Bu Hanny, gurumu SMA", jawab Ibu


"Ngapain Bu, Ijasahku juga sudah aku ambil".


"Katanya mau silaturahmi, sama bawa kue dan buah banyak sekali. Ada lelaki tampan, putih juga".


"Haaaaa...." apa Mas Rudi yah. Seperti mimpi disiang bolong.

__ADS_1


Aku mencubit tanganku, ternyata sakit juga, berarti bukan mimpi.


"Ayo cepetan, ganti baju yang cantik". kata ibu.


Seluruh tubuhku gemetaran, jantungku berdetak begitu cepat. perutku bergejolak ketika aku gemetaran, ingin ke WC namun tak sempat.


Apa mungkin bu Hanny disuruh Mas Rudi, gumamku dalam hati.


Ah.... Sungguh tangan dan kakiku ini terus bergetar seperti nenek-nenek yang sudah tua, tangannya selalu bergetar sendiri he... he.... he....


Ku intip orang yang ada di ruang tamu dari kamarku namun yang terlihat hanya bu Hanny dan dua orang tua, sepantaran dengan orang tuaku.


*L*ah terus Mas Rudi mana, gumamku.


Aku menggerak-gerakkan tubuhku agar rasa gemetaranku hilang. setelah agak mendingan aku keluar dan menuju ke ruang tamu.


Tubuhku semakin gemeteran tak karuan, jantungku masih saja terus berdetak begitu kencang. Aku hanya mampu tersenyum ketika Mas Rudi duduk di pojokan.


Dia menggunakan batik berwarna coklat dan celana hitam sungguh tampan sekali dia. Benar kata Novi, dia memang mirip Siwon.


Apa mungkin Mas Rudi akan melamarku hari ini. Sungguh aku belum siap sama sekali.


Aku mulai bersalaman dengan bu Hanny dan kedua orang tua itu. Ternyata itu Ayah dan Ibunya Mas Rudi.


Ketika aku mencium tangan orang tua Mas Rudi, Ibunya berkata, "jadi ini yang namanya Aisyah cantik ya".


"Iyah Bu terima kasih", jawabku.


Ah sungguh malu rasanya hatiku. Aku berdiri disamping ibu karena sudah tidak ada tempat duduk lagi, hanya ada dipojokan, itupun dekat dengan Mas Rudi.


"Syah, duduk disebelahnya Rudi, itu kan masih kosong", kata Bu Hanny.


"Iyah Bu". Jawabku.


"Jadi tujuan saya datang ke sini itu untuk bersilaturahmi kepada bapak dan ibunya Aisyah. kebetulan anak saya Rudi Arga Pratama ini menyukai Aisyah. kami sebagai orang tua tidak ingin mereka berhubungan tanpa sepengetahuan orang tua sehingga saya bernisiatif untuk bersilaturahmi ke sini.


syukur Jika Bapak dan Ibu berkenan mungkin bisa dilanjutkan ke acara pertunangan namun jika itu memang terlalu cepat mungkin sekiranya bapak dan ibu berkenan untuk mereka saling mengenal dan tahu satu sama lain", kata Ayah Mas Rudi.


"iyah saya sebagai ayahnya Aisyah juga setuju dengan pendapatnya bapak dan ibu. Sebaiknya memang kita sebagai orang tua perlu tahu kedekatan anaknya dengan seorang laki-laki. Saya selalu mendukung keputusan anak saya jadi semuanya saya serahkan kepada Aisyah jika memang Aisyah siap ya, silahkan".


"Bagaimana Aisyah", tanya Bu Hanny.


Aku tersenyum malu, aku tak tahu harus berkata apa. Aku mencubit kaki Mas Rudi, hingga dia berteriak.

__ADS_1


Akhirnya Mas Rudi juga ikut bicara,


"Jika menikah saya juga sudah siap kok", sahut Mas Rudi.


Semua tertawa mendengarnya. Aku mencubit Mas Rudi lagi. Padahal aku berharap dia mengundur dulu tapi malah mengajak nikah.


"Mungkin setelah libur kuliah saja


karena sebentar lagi ujian", jawabku.


"Libur kuliahnya kapan Syah?", Sahut Mas Rudi.


"Dua bulan lagi", jawabku.


"waduh keburu jamuren itu Syah". Semua tertawa mendengar perkataan Bu Hanny.


Tak lama ada bapak ojek yang mengantarkan makanan, ternyata ibu sudah memesankan makanan untuk kita semua.


Alhamdulillah keluargaku dan keluarga Mas Rudi bisa saling akrab. Bu Hanny tadi juga menceritakan tentang masa-masa SMA ku yang sering sekali terlambat. Hingga membuat suasana saat ini semakin santai dan tidak serius seperti waktu pertama mereka datang.


"Bapak - ibu saya sebagai wakil orang tuanya Mas Arga dan sebagai mantan gurunya Aisyah, mengucapkan terima kasih atas suguhannya dan juga disambut dengan baik. Semoga silahturahmi ini segera berlanjut kejenjang pernikahan", kata Bu Hanny.


"Untuk kelanjutan hubungan ini mungkin bisa kita serahkan kepada Aisyah dan Rudi, jika memang mereka sudah siap. Saya siap melamarkan Aisyah untuk anak saya", celetuk Ayah Mas Rudi


"Saya juga siap ini menikahkan mereka", celetuk Ayahku.


Semua tertawa mendengar guyonan para Ayah, ternyata mereka bisa cepat sekali akrabnya.


Mereka kemudian berpamitan untuk pulang. Kami mengantarkan mereka keluar rumah. Mas Rudi menatapku sekali lagi. Sepertinya dia bangga sekali karena bisa membuktikan keseriusannya.


Entah kapan acara pertunangan akan digelar. Mungkin menunggu hingga aku siap.


Kejutan hari ini sungguh indah sekali. meskipun kita belum resmi bertunangan namun setidaknya orang tua kita sudah mengenal satu sama lain.


Aku yakin setelah ini, Mas Rudi pasti menagihku untuk segera bertunangan.


Aku dan Ibu kemudian membereskan bekas makanan. Ibu mulai bertanya tentang aku dan Mas Rudi. Aku menceritakan kepada ibu dimana pertama kali bertemu dengan mas Rudi hingga sekarang.


Ibu tertawa terbahak bahak mendengar ceritaku. Seakan tak percaya tentang ceritaku ini.


Setelah selesai beres-beres, aku bergegas menuju kamar untuk merebahkan tubuhku sejenak.


Ah..... enak sekali, akhirnya bisa rebahan juga setelah seharian menyambut kedatangan kelurga Mas Rudi.

__ADS_1


__ADS_2