
Aku mengendarai motor menuju rumah Mas Rudi. Tak sabar rasanya aku ingin segera bertemu dengannya.
Sudah hampir dua minggu aku tidak bertemu dengan Mas Rudi. semenjak sakit Mas Rudi sudah tidak pernah lagi menghubungiku sama sekali. Bahkan ketika aku mengirim pesan juga tidak pernah dibalas hanya dibaca saja. Dia tidak ingat sama sekali denganku.
Sesampainya di rumah Mas Rudi, Aku melihat sebuah motor terparkir di halaman rumahnya.
Ternyata di sana ada seorang wanita yang duduk berduaan dengan Mas Rudi diruang tamu.
"Assalamualaikum".
"waalaikumsalam". jawab Mas Rudi
Karena kulihat mereka sedang berduaan sehingga aku menanyakan keberadaan Ibu. Mas Rudi memberitahu ku jika ibu berada dikebun belakang. Aku berjalan perlahan masuk ke dalam rumah, Namun langkahku terhenti ketika mendengar wanita itu bertanya kepada Mas Rudi.
"Siapa itu Mas", tanya perempuan itu kepada Mas Rudi
"Muridnya Ibu", jawab Mas Rudi
Sakit sekali rasanya, meskipun mas Rudi mengatakan itu cukup pelan. Namun aku tetap mendengarnya.
Aku menghampiri Ibu Mas Rudi yang sedang panen buah rambutan.
"Assalamualaikum bu",
"Waalaikumsalam, eh Aisyah. Rudi tadi didepan Lo", Jawab Ibu
"Iyah Bu, Mas Rudi sedang mengobrol sama seorang perempuan".
"Lo belum pulang toh. tadi memang ada teman-teman SMA Arga yang kesini. Mungkin yang didepan tinggal Mia".
Oh jadi itu yang namanya Mia waktu pertama kali sadar Mas Rudi pernah menyebut nama Mia, gumamku dalam hati.
"Mia itu apa mantan pacarnya Mas Rudi ya Bu?", tanyaku.
Ibu tersenyum, "kamu katanya siapa Syah?", tanya Ibu
"Mas Rudi pernah menyebutnya waktu dirumah sakit".
"Iyah dulu waktu SMA namun mereka sudah putus semenjak Rudi pendidikan Polisi. Kamu jangan cemburu yah Syah. Tadi Mia datang bersama teman-temannya kok tidak sendirian".
Aku hanya tersenyum memendam rasa. Jika Mas Rudi hanya mengingat masa lalunya, berarti kini hanya ada Mia dihatinya, gumamku dalam hati.
Aku membantu ibu memetik buah rambutan. senang sekali melihat buah rambutan yang begitu lebat. Semuanya terlihat segar dan warnanya yang merah menggiurkan lidahku.
Setelah dapat banyak ibu menyuruhku untuk mengikatnya jadi beberapa bagian. Ibu juga memberiku satu kantong kresek penuh yang berisi buah rambutan.
Senang sekali aku berada di rumah Mas Rudi ternyata di kebun belakang banyak sekali buah-buahan. Selain buah rambutan yang sudah matang ada juga buah kelengkeng namun hanya sebagian yang sudah siap panen.
Setelah hampir dua jam Aku di sini akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
Aku berjalan menelusuri rumah Mas Rudi hingga melewati ruang tamu. Kulihat mereka berdua masih tetap duduk berdampingan. Nyesek sekali Aku melihat mereka berdua. Aku terus berjalan menuju motor tanpa berpamitan pada Mas Rudi.
Hingga aku pergi Mas Rudi bahkan sedikit pun tak memanggilku.
Sepanjang perjalanan aku hanya memikirkan kelanjutan cinta ini. Sakit sekali rasanya dilupakan dan melihat Mas Rudi akrab lagi dengan mantan pacarnya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Kring.... kring.... kring....
Dering Handphoneku berbunyi begitu keras, kulihat Ibu Mas Rudi yang menelponku.
"Assalamualaikum Syah".
"Waalaikumsalam, Iyah ada apa Bu?", tanyaku pada Ibu Mas Rudi.
"Kamu lagi dimana Syah. Ibu boleh minta tolong?".
"Ini lagi dikos Bu, kenapa?".
"Tolong kamu kerumah sakit yah, barusan Arga berangkat terapi. Ibu tidak bisa menemani karena ada akreditasi sekolah. Tapi Arga tadi sudah berangkat sama Supirnya Ayah".
"Iyah Bu habis ini saya berangkat kerumah sakit".
"Terimakasih yah Nak. Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam".
Senang sekali rasanya bisa bertemu Mas Rudi, semoga terapi ini bisa membuatnya ingat denganku.
Aku bergegas melajukan motorku menuju kerumah sakit. Sebenarnya hari ini aku masih ada kuliah, namun demi Mas Rudi aku rela bolos.
Sesampainya di rumah sakit aku langsung menuju ruang terapi namun ternyata Mas Rudi belum sampai di sana. Aku lalu memutuskan untuk menuju ke luar lobby rumah sakit.
Sekitar lima belas menit kemudian, kulihat Mas Rudi turun dari mobil merah yang biasa dipakai.
Ternyata Mia mantan pacar Mas Rudi, ikut mengantarkannya. senyumku yang manis berubah menjadi kecewa. Aku menahan air mata yang ingin keluar.
"Ngapain kamu disini?. Kamu itu kyak setan yah Syah, dimana-mana ada", kata Mas Rudi.
"Ibu mu barusan menelponku, menyuruhku menemani kamu Mas".
"Yah sudah kamu pulang saja. Sudah ada Mia kok".
Mas Rudi berjalan sambil menggandeng tangan Mia. Air mataku menetes dengan sendirinya. Sakit sekali rasanya hatiku saat Mas Rudi berkata seperti itu.
Aku berjalan mengikuti Mas Rudi diam-diam. Meskipun menyakitkan namun akan aku lakukan karena aku sudah janji dengan ibunya.
Setelah masuk dari ruangan dokter Mas Rudi kemudian diajak oleh seorang perawat laki-laki menuju ke sebuah ruangan.
Mas Rudi dan Mia masuk ke ruangan itu. Aku yang penasaran membuka perlahan pintunya kulihat ternyata di sanalah ruang terapi Mas Rudi.
Mas Rudi duduk di sebuah kursi. Dia diberikan relaksasi dengan mendengarkan musik. Entah aku juga tak tahu apa tujuannya.
Mia duduk dikursi tunggu didalam ruangan. Aku hanya bisa mengintipnya dari balik pintu.
Setelah memastikan Mas Rudi sudah mendapat terapi aku segera pulang.
Aku berjalan menuju parkiran untuk mengambil motorku. Aku duduk di motorku selama beberapa saat. Aku bingung apa yang harus aku katakan jika Ibu Mas Rudi bertanya.
Suara speaker pengumuman mengagetkanku hingga membuatku tersadar dari lamunanku.
__ADS_1
Kudengar seperti memanggilku. pengumumannya diulang lagi.
Kepada saudara Aisyah, ditunggu Pak Rudi diruang terapi. terima kasih.
Ha.... apa aku tidak salah dengar. Masa' sih Ngapain juga aku dipanggil seperti buronan.
Aku menyalakan mesin motorku, Namun ku urungkan. Aku mencoba berlajalan lagi menuju ke lobby rumah sakit.
Kulihat dari kejauhan Mas Rudi berlari kearahku. Aku membalikkan badan dan berjalan kembali menuju keluar.
"Syah......Aisyah", teriak Mas Rudi.
Aku tetap berjalan menghindari Mas Rudi. Namun langkahnya begitu cepat hingga Dia bisa menggandeng tanganku.
Sambil ngos-ngosan Mas Rudi berkata, "Kamu sebenarnya siapa? kenapa tiba-tiba kamu........
Mas Rudi memegang kepalanya seperti kesakitan.
"Aisyah aku sudah...........
Bruakkkkk......
Mas Rudi pingsan dipelukanku. Tubuhku yang kecil tak mampu menahan beratnya tubuh Mas Rudi, hingga akhirnya kita berdua terjatuh.
Satpam yang melihatnya langsung membawa Mas Rudi keruang UGD. Aku mengikutinya dari belakang bersama Mia.
Tiba-tiba Mia menarik tanganku dan berkata,"Kamu sebenarnya siapa?".
"Memangnya kenapa mbak", jawabku.
"Kok Mas Rudi, waktu terapi tiba-tiba bangun dan mencari kamu seperti orang gila".
"Aku calon tunangannya Mbak".
kita berhenti bicara ketika dokter berkata kepada kami.
"Mana keluarganya?", tanya dokter
"saya dok" (aku dan Mia menjawab barengan).
"Pak, Rudi masih belum bisa berpikir yang berat-berat dan kalau bisa jangan sampai kecapek an, itu yang memyebabkan dia pingsan".
"Lalu, apa perlu dirawat disini dok?", tanyaku.
"Tidak, sebentar lagi juga sadar. saya tinggal dulu yah".
Setelah beberapa lama akhirnya mas Rudi sadar juga. Mas Rudi bangun dan tersenyum entah kepada siapa.
Mia berusaha mencari perhatian Mas Rudi. Padahal dia tahu aku calon tunangannya namun dia malah bertingkah seenaknya.
Aku yang jijik melihat tingkah dan obrolan mereka, mencoba membalikkan badan. Namun saat ingin melangkah pergi Mas Rudi menggengam tanganku dan tersenyum kepadaku.
"Tunggu Syah".
Apakah mungkin Mas Rudi sudah ingat lagi denganku??
__ADS_1