Ditilang Cinta Polisi Ganteng

Ditilang Cinta Polisi Ganteng
Kejadian Disebuah Malam


__ADS_3

Kehamilanku saat ini membuatku sering lelah. Semalam Aku langsung tidur. Lelah rasanya seharian membantu di resepsi pernikahan Anggun. Nanti siang Aku juga harus membantu di pernikahan Novi.


Pagi ini aku pulang ke rumah ibu bersama Mas Rudi. Alhamdulillah hari ini Mas Rudi libur kerja sehingga bisa mengantarkanku ke resepsi pernikahan Novi.


Aku datang ke acara Novi siang ini karena aku juga harus jadi penerima tamu. Setelah mengantarkanku, Mas Rudi langsung pulang ke rumah ibu mertuaku.


"Mas, nanti jemput aku jam delapan malam yah", kataku


"Iyah sayang", jawab Mas Rudi


Acaranya Novi begitu meriah karena memang begitu banyak yang datang mulai dari guru-guru dan murid, kita serasa reunian. Senang sekali rasanya bisa bertemu lagi dengan teman-teman SMA ku.


Aku tak menyangka Novi yang dulu malu-malu ketika Aku jodohkan dengan Pak Zain akhirnya dia mau menikah juga dengan Pak Zain.


Aku melihat Putra juga membantu di acara pernikahan Novi karena memang dia masih saudara jauh. Namun Putra hanya diam saja dan sesekali memandangiku dengan raut wajah marah.


Sekitar pukul 19.30 Wib. teman-teman SMA ku banyak sekali yang datang. Kita mengobrol banyak di sana. Putra juga ikut bergabung dalam obrolan itu.


"Syah, perutmu sudah buncit saja. berapa bulan itu", tanya Dimas


"Mau dua bulan, dim", jawabku.


"Wah... Kasihan tuh si Putra, kalah cepat", sahut Ardi


Teman-teman yang lain tertawa mendengar celetukan Ardi.


"Ayo cepetan nyusul Put, temen-temen cowok sudah banyak yang nikah Lo, masa' kalah sama Dimas yang sudah punya anak". sahut Sari


"Iyah keburu habis perempuan cantiknya", sahut Putri


"Tenang Lakon itu menang terakhir, jika tidak menemukan gadis yah nunggu jandanya saja", jawab Putra sambil memandangiku.


"wah bahaya juga kamu Put, sukanya cari yang janda", sahut Dimas


"Janda kan lebih berpengalaman", jawab Putra sambil sesekali menatapku.


Menyebalkan sekali Putra dia selalu mendoakan Aku jadi janda, gumamku dalam hati.


Kring.... kring..... kring.....


Handphone ku berbunyi kulihat ternyata Mas Rudi yang menelponku. Mas Rudi sudah ada di depan, aku menyuruhnya menunggu sebentar lagi.


"Eh... aku balik duluan yah, sudah dijemput", kataku


"Jangan dulu lah Syah, ajak masuk Suamimu kita juga pengen kenal", sahut Dimas


Novi juga melarangku pulang, dia menyuruh Mas Rudi untuk makan-makan dulu. Akhirnya Aku menelpon Mas Rudi dan menyuruhnya masuk.


Aku memperkenalkan Mas Rudi kepada semua teman-temanku termasuk Putra, namun wajah Putra semakin terlihat begitu marah.


Aku mengambilkan makan Mas Rudi. Akhirnya kita memutuskan untuk makan ditempat yang berbeda.

__ADS_1


Kulihat teman-temanku semakin seru bercandanya namun Putra sesekali memandangiku yang sedang makan berdua dengan Mas Rudi.


Acara live musik dipesta Novi membuat teman-teman betah disini. Aku dan Mas Rudi juga ikut menonton.


Sesekali Aku juga melihat Putra yang dari tadi memperhatikanku dengan Mas Rudi. Namun tak lama, akhirnya Putra pergi juga.


"Mas ayo pulang, ini sudah malam loh", kataku


"Iyah satu lagu lagi sayang", jawab Mas Rudi


Setelah menunggu akhirnya Aku dan Mas Rudi berpamitan kepada Novi dan orang tuanya, kita dibawakan kue banyak sekali.


Aku juga berpamitan kepada teman-teman yang masih belum pulang.


Selama perjalanan pulang, Aku mengobrol dengan Mas Rudi.


"Mas, yang cepat dikit ini sudah malam, sepi sekali". kataku.


Jalan menuju rumah Novi memang melewati sawah-sawah, namun masih ada rumah dan warkop meskipun beberapa. Jika pagi pemandangannya sangat indah karena view-nya langsung gunung penanggungan.


Alhamdulillah masih ada beberapa motor dan mobil yang lewat. Dari kejauhan kudengar Motor yang suaranya begitu keras dan cepat.


"Mas, minggir dikit", motor dibelakang mengganggu sekali.


"Iyah".


Tiba-tiba Bruaaaaakkkkk......... czzzzttt......


...****************...


"Yang.... bangun.... Aisyah... hei.... ayo bangun".


Air mataku menetes melihat keadaan Aisyah. Aku mencoba menelpon ambulans dan polisi sekitar. Tak lama mereka langsung datang ke TKP.


"Pak, tolong dibantu yah, ini tadi sepertinya sengaja menabrak saya dan istri saya. Sepertinya motor saya ditendang kearah kiri", kataku


"Iyah Pak, akan kita selidiki".


Aku meminta bantuan teman-teman polisi didaerah sini. Saat ambulans datang, Aku segera melarikan Aisyah ke rumah sakit terdekat.


Aku ikut berada didalam ambulans menemani istriku. Kulihat sekarang sudah jam 21.25 wib.


Akan kucari siapa yang tadi sengaja menendang ku, gumamku.


Aisyah..... sayang.... bangun..... Syah....


Aku masih terus mencoba membangunkan Aisyah. Kulihat kaki kanannya berdarah dan sudah membiru.


Dua puluh menit kemudian akhirnya sampai juga dirumah sakit. Aisyah langsung dibawa ke UGD. Alhamdulillah perawat dan dokter bergerak cepat dalam menangani istriku.


Aku masih di UGD menunggu Aisyah sadar. Kulihat sekarang sudah pukul 22.40 Wib. Aku mengambil handphone Aisyah yang berdering, ternyata dari Ibu mertuaku. Aku bingung harus cerita atau tidak. Kasihan juga ini sudah malam jika Aku beri tahu.

__ADS_1


"Assalamualaikum Bu", kataku


"Lo nak Rudi, Aisyah mana lo? Kalian kok tidak pulang kesini, katanya dari rumah Novi", Kata ibu mertuaku.


"Iyah Bu, ini lagi menginap dirumah saya. Novi sudah tidur, saya bangunkan diam saja. Mungkin kecapekan".


"Oh, Ya sudah jika tidur disana. Ibu khawatir. Ibu tutup dulu yah nak. Assalamualaikum".


"waalaikumsalam Bu".


Maaf Bu, harus bohong. Besok pagi saja Aku beritahu, kasihan malam-malam jika harus kesini, gumamku dalam hati.


Aku meminta dokter untuk memindahkan Aisyah diruang perawatan. Akhirnya setelah menunggu hampir dua jam, Aisyah bisa dipindahkan dikamar perawatan meskipun belum sadar.


Aku tidur disofa kamar rumah sakit. Namun tak lama Aisyah terbangun, kulihat sudah jam tiga pagi.


ahhhhhhhh..... ahhhhhh


"Sayang, kamu sudah enakan kan?", tanyaku.


"Mas, perut dan kakiku sakit sekali. Aku dimana?", tanya Aisyah


"Masih dirumah sakit sayang. Udah kamu istirahat saja, ini masih malam, besok pagi dokternya datang kamu tanya keluhannya. Kamu mau apa, Aku belikan".


Aisyah hanya menggelengkan kepalanya sambil terus memegang perutnya.


"Mas, sakit sekali perutku. Belikan obat penghilang nyeri saja", Kata Aisyah


"Coba Aku tanyakan perawat dulu yah", jawabku.


Aku menuju keruang perawat untuk meminta obat penghilang nyeri, Alhamdulillah diberi juga. Aku bergegas kembali ke kamar dan memberikan obat itu kepada Aisyah, namun kulihat dia tertidur.


Suara adzan subuh sudah berkumandang, Aku bergegas sholat. Tak lama Aisyah terbangun lagi.


"Mas, Ayo kita pulang", kata Aisyah.


"Iyah, nanti nunggu dokternya datang dulu. Aku belikan makan yah", jawabku.


"Nggak Mas, perutku masih sakit, nyeri sekali rasanya".


Aku duduk disamping Aisyah dan mengelus-elus kepalanya, dia tersenyum menatapku.


"Mas antarkan aku kekamar mandi, Aku kebelet pipis", Kata Aisyah.


Setelah keluar dari kamar mandi Aisyah berkata,


"Mas, tolong belikan Aku pembalut, sepertinya Aku haid", kata Aisyah


"Bagaimana bisa kamu haid sayang, Kamu kan sedang hamil", Jawabku


"Lalu ini darah apa Mas?".

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu sayang. Ayo kamu tiduran dulu, aku tanyakan perawat biar ditelpon kan dokternya".


Pikiranku sudah tak karuan namun Aku mencoba bersikap biasa, semoga yang kupikirkan tidak terjadi.


__ADS_2