
Kali ini jantungku berdetak tak karuan bukan karena jatuh cinta namun karena takut Putra berkata yang tidak-tidak ketika melihatku dengan Mas Rudi.
Aku menunggu diruang jenguk bersama Mas Rudi. Mas Rudi sudah akrab sekali dengan teman-temannya. Polisi disini badannya kekar dan berotot, menyeramkan juga. Kulihat ada Pak Rizal juga disini.
Aku kasihan juga jika Putra harus dihajar teman satu selnya seperti difilm-film. Dia memang bersalah namun entah mengapa hatiku merasa kasihan.
Tak lama Putra keluar dengan tangan yang diborgol. Dia menghampiri kita sambil tersenyum.
"Hai Syah kamu kesini juga, kangen yah denganku. Aku juga sangat merindukanmu", kata Putra.
Astaghfirullah, kenapa dia harus berkata seperti itu didepan Mas Rudi, gumamku dalam hati.
Aku hanya terdiam mendengar perkataan Putra. Namun Mas Rudi sangat marah mendengarnya.
"Kamu masih berani kurang ajar yah Put. Kamu tahu dia siapa? Dia istriku dan kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanya pecundang yang tak tahu malu. Cintamu sudah terlambat", kata Mas Rudi.
"Mas sudahlah", kataku sambil menenangkan Mas Rudi.
"Jika Aku terlambat, maka kamu tak perlu setakut ini kehilangan Aisyah", sahut Putra.
"Put, sudahlah. Orang tuamu tadi kerumahku. Dia minta tolong agar kamu dibebaskan", kataku.
"Sudahlah sayang, orang seperti ini tidak perlu dikasihani. Dia tidak akan pernah bisa berubah", sahut Mas Rudi.
"Anda benar sekali Pak. Suatu hari nanti Aisyah akan jatuh dipelukanku. Kamu tahu Pak, Ci**an pertamaku sudah kuberikan kepada Istrimu".
Mas Rudi berdiri dan mengangkat tangannya seperti hendak menampar Putra, namun Aku berusaha mencegahnya.
"Mas, tahan emosi kamu. Kamu itu Polisi. Jagalah sikap. Ayo kita pulang saja".
Mas Rudi memalingkan wajahnya dan berjalan keluar. Sebelum pergi Aku sempat berbicara dengan Putra.
Setelah Mas Rudi pergi menjauh, Aku menampar Putra dengan keras.
"Tampar terus Syah, biar Aku bisa melupakanmu....... Asal kamu tahu, rasa ini sungguh menyakitkan untukku juga".
"Put, kumohon lupakan Aku. Masih banyak gadis lain yang lebih cantik dan baik dibandingkan denganku. Sebenarnya Aku sangat membencimu. Kamu sudah membunuh calon anakku, kamu lihat kakiku masih pincang sebelah semua karena perbuatanmu. Kamu sudah membuatku trauma.
Minta maaflah kepada suamiku dan berjanjilah tidak akan mengganguku lagi. Aku akan memaafkan kamu, dan mencoba bicara dengan Mas Rudi".
"Maafkan Aku Syah, Aku tidak bermaksud melukaimu dan calon anakmu. Entah mengapa kamu selalu ada dipikiranku. Semenjak kamu menikah, Otakku tidak mampu berpikir lagi. Aku seperti orang gila yang tak tahu arah. Aku hanya menginginkan kamu....dan kamu dihatiku".
__ADS_1
"Kamu memang sudah gila Put. Minta maaflah dan pergi jauh dari kehidupanku. Jika kamu benar-benar mencintaiku, biarkan Aku bahagia dengan suamiku".
Aku segera pergi meninggalkan Putra dan menghampiri Mas Rudi. Mas Rudi kemudian mengajakku pulang.
Selama perjalanan Mas Rudi hanya diam saja, Aku tahu Dia sedang menahan marah.
"Mas, kita nonton yuk dulu yuk. nanti ke kafe Ayah, sorean aja", ajakku.
Mas Rudi hanya menganggukan kepalanya. Astaga, Dia benar-benar marah.
Mas Rudi berhenti disebuah mall. Dia memilih disini tanpa bertanya kepadaku terlebih dahulu. Aku berjalan menuju kesebuah bioskop. Ku gandeng Mas Rudi seperti anak ABG yang sedang berpacaran.
Setelah membeli tiket Aku mengajak Mas Rudi, berjalan-jalan sambil mencari camilan, karena film masih tiga puluh menit lagi dimulai.
Aku membeli dua es cream dan ku makan sambil berjalan. Ku lihat mood Mas Rudi sudah membaik.
"Rud..... ".
Seseorang memanggil Mas Rudi dari belakang. Spontan Kita menoleh secara bersamaan.
"Hai kalian disini juga", Kata Mia mantan pacar Mas Rudi.
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Nggak untungnya lekas sadar", jawab Mas Rudi.
"Oh yah ini perkenalkan calon suamiku, dia seorang tentara", kata Mia
"Oh yah, Saya Rudi Pak. Satpam komplek deket rumahnya Mia", jawab Mas Rudi.
Astaga Aku hanya mampu menahan tawa mendengar perkataan Mas Rudi. Setelah lama mengobrol, Akhirnya kita berpamitan dan kembali ke bioskop.
"Mas, kamu cemburu yah lihat Mia sama pacarnya", tanyaku.
"Nggak lah ngapain juga cemburu", jawab Mas Rudi.
"Lalu kenapa tadi kamu bilang jika kamu seorang satpam?".
"Ya nggak apa-apa, kan tadi Mia berniat pamer. Yah biar dia menang".
"Nggak nyambung deh, bilang aja kamu masih cinta".
__ADS_1
"Udah nggak usah mulai Syah. Bilang aja kamu itu cemburu. Nggak usah cemburu lagi, Cintaku, sayangku, semuanya buat kamu".
"Dompetnya buat siapa".
"Ini buat kamu sekalian, tapi jangan dihabisin".
Aku tersenyum melihat Mas Rudi, Alhamdulillah dia sudah mau bicara lagi.
...****************...
Sudah seminggu setelah penangkapan Putra, namun dia sama sekali tidak mau minta maaf kepada Mas Rudi.
Proses hukum akan tetap dilanjutkan mungkin setelah ini akan memasuki proses persidangan. Hari ini Aku dan Mas Rudi datang ke kantor polisi untuk memenuhi panggilan sebagai korban.
Aku memasuki ruangan dengan Mas Rudi. Hanya ada beberapa pertanyaan namun ada satu pertanyaan yang membuat Mas Rudi diam lagi.
Polisi bertanya saat kedatangan Putra kerumah malam itu. Polisi mengulangi kejadian dimana Putra menciumku.
Mas Rudi seketika terdiam, Aku tahu Mas Rudi marah dengan pertanyaan itu.
Polisi juga menjelaskan bahwa pada waktu kejadian Putra dalam keadaan mabuk. Dia memang sengaja mengikuti dan menendang motor yang ku kendarai dengan Mas Rudi malam itu.
Setelah menjawab Pertanyaan itu Mas Rudi langsung mengajakku pulang.
Setelah sampai dirumah kontrakan, Mas Rudi tetap diam saja. Bahkan kutawari makan juga dia tidak Mau.
Hingga malam hari Mas Rudi masih tetap diam. Aku mencoba membuatkan camilan dan juga susu hangat kesukaannya namua Dia Malah masuk kedalam kamar dan menonton TV.
Astaghfirullah, Aku juga korban, Aku juga yang tersakiti tapi kenapa Mas Rudi jadi yang marah. Aku juga tak pernah sedikitpun mengharapkan ci**an itu, gumamku dalam hati.
Aku menonton TV diruang tamu, namun pikiranku masih tetap ke Mas Rudi. Setelah beberapa saat memutar otak, Akhirnya kuputuskan untuk sholat terlebih dulu.
Akhirnya Aku menemukan ide yang sangat brilian untuk membuat Mas Rudi berkicau lagi.
Aku mengambil baju dilemari, dikamar sebelah. Setelah berganti baju, Aku masuk ke kamar dan menghampiri Mas Rudi. Aku memang sengaja membalas diamnya Mas Rudi kepadaku.
Aku melewati depan Mas Rudi dan setelah itu Aku berbaring disebelahnya. Tak butuh waktu lama, tiba-tiba Mas Rudi sudah diatasku. Wajahnya yang kusut kini berubah drastis. Dia tersenyum sumringah seakan lupa dengan marahnya.
"Ayo sayang", ajak Mas Rudi
"Ngapain?".
__ADS_1
"Ya itu. Kamu kan sudah pakai baju ha**m".
"Ah dasar laki-laki. Giliran gini saja langsung nyosor, lupa dengan marahnya", kataku.