
Pagi ini Aku dan Mas Rudi menghadiri sidang putusan atas kasus Putra yang sengaja mencelakai kita. Setelah beberapa bulan kasus ini bergulir, Putra tak sedikitpun mau meminta maaf kepada Mas Rudi.
Setiap persidangan Putra selalu menganggap bahwa dirinya benar, Dia selalu beranggapan bahwa cintanya itu tidak pernah salah.
Aku kasihan juga melihat ibunya yang selalu menangis ketika datang dipersidangan.
Setelah membacakan semua perkara dan bukti-bukti yang mengarah bahwa Putra benar-benar bersalah. Dan sengaja mencelakai kita hingga menyebabkanku keguguran. Hakim memutuskan hukuman penjara dua tahun delapan bulan.
Aku senang sekaligus kasihan mendengar hasil Putusan ini. Pihak Putra meminta keringanan hukuman terhadap Putra namun Aku tak tahu ditolak atau diterima.
Kulihat Putra dibawa keluar oleh petugas. Dia berhenti ketika lewat didepanku dan berkata, "Syah, tunggu Aku yah. Aku mencintaimu".
Astaghfirullah, cintamu membutakan akal sehatmu, gumamku.
Lagi-lagi perkataan Putra membuat Mas Rudi marah. Hampir saja, Dia memukul Putra. Beruntung Mas Rizal lekas memegang tangannya.
Setelah menghadiri persidangan Mas Rudi segera mengantarkanku pulang kerumah. Seperti biasa Dia selalu saja diam jika bertemu dengan Putra.
"Mas", tanyaku.
"Apa lagi Syah", jawab Mas Rudi dengan ketus
"Nanti setelah kerja kamu jangan pulang malam-malam yah, Aku mau mengajak kamu makan diluar".
"Makan dirumah saja, hemat".
"Pakai uangku Mas, jadi tidak perlu hemat".
"Sama saja itu juga dariku".
"Uangku Mas, hasil jualan online".
"Terserah kamulah".
Selang beberapa lama, akhirnya sampai juga Aku dirumah, namun Mas Rudi hanya menurunkanku dipinggir jalan.
"Nggak sekalian masuk rumah dulu Mas".
"Puternya susah, Aku juga harus balik lagi berjaga".
"Dulu saja, selalu mengantarkan hingga masuk kehalaman rumah".
"Itu kan sebelum menikah. Biasa kyak orang mancing, jika sudah dapat ikannya ngapain susah-susah mancing lagi".
"Oh begitu..... okay Mas, awas kamu yah jika nanti malam aku pake baju ha**m kamu ngajakin itu.
"Oh jika itu yah wajib dilakukan sayangku".
"Emang kamu pernah denger nelayan itu tidur sama ikan yang sudah dipancingnya. Nggak mungkin kan".
__ADS_1
Aku keluar dari mobil sambil menutup keras pintu mobil Mas Rudi. Kudengar Mas Rudi tertawa dengan perkataanku itu.
"Eh... sayang, Aku mau kok tidur sama ikan nanti malam", kata Mas Rudi sambil tersenyum
"Iyah nanti Kubelikan ikan asin, sekalian tidur dikulkas", jawabku sambil berjalan masuk kedalam rumah.
Sejenak Aku melepaskan penatku dengan berbaring dikasur, rasanya lelah sekali hari ini. Semoga setelah ini kehidupanku bersama Mas Rudi lebih baik dan lebih tenang.
Malam ini Aku menunggu kedatangan Mas Rudi yang tak kunjung pulang. Padahal Aku akan memberikan kejutan yang akan membuatnya senang.
Lama kutunggu hingga akhirnya Aku tertidur diruang tamu.
Tok.... tok.... tok.....
"Assalamualaikum".
Aku terbangun seketika saat kudengar suara ketukan pintu.
"Waalaikumsalam", jawabku
"Lo kamu mau kemana malam-malam begini", tanya Mas Rudi.
kulihat memang sudah jam sembilan malam.
Padahal Aku tadi sudah bilang ingin mengajak Mas Rudi makan diluar, namun jam sembilan malam dia baru pulang, gumamku.
Antara gregetan dan kecewa kujawab saja, "Mau tidur Mas. siapa tahu malam ini Aku bermimpi ada pangeran mengajakku jalan-jalan", sindirku
"Sayang, kamu tidak mau mengambilkanku makanan?", tanya Mas Rudi
"Aku nggak masak Mas, kamu beli saja tahu telor didepan. Aku mau tidur saja biar nggak terasa lapar. Jangan ganggu macan tidur yah".
Tak lama kudengar Mas Rudi keluar menggunakan motor. Mungkin dia sedang membeli makanan.
Aku bangun sejenak, untuk sholat dan berganti baju tidur.
Setelah selesai Aku menaruh sebuah amplop dimeja makan. Setelah itu Aku kembali menuju ke kamar untuk melanjutkan tidurku.
...****************...
POV (Sudut Pandang Mas Rudi)
Setelah membeli nasi goreng dan mie, Aku bergegas pulang kerumah. Sesampainya dirumah kulihat Aisyah sudah tertidur pulas. Aku memang tak pernah mempermasalahkan Aisyah mau masak atau tidak.
Kasihan juga, dia sudah menungguku untuk makan diluar. Dia pasti sedang marah denganku, hingga tidur lebih awal. Sebenarnya ingin sekali kujelaskan kenapa Aku pulang malam, namun kulihat Aisyah kesal jadi percuma jika kujelaskan.
Aku menaruh mie goreng kesukaan Aisyah dimeja makan. Kulihat sebuah amplop putih, karena penasaran Aku membukanya juga.
Alhamdulillah, MasyaAllah ternyata ini alasannya kenapa Aisyah mengajakku untuk makan diluar. Bersyukur sekali Aku malam ini, amplop ini berisi testpack dengan garis dua dan selembar surat yang bertuliskan. "Selamat untukmu, Mas akan jadi Ayah, semoga tidak menyebalkan lagi. Tertanda Istri yang tersakiti".
__ADS_1
Astaghfirullah, jika begini Aku jadi merasa bersalah, gumamku dalam hati.
Seketika perutku terasa kenyang, rasanya sudah tak ingin makan lagi. Aku hanya ingin membangunkan Aisyah dan memeluknya.
Aku menaruh testpack dan makananku dimeja makan. Aku menghampirinya dan tidur disampingnya. Lama kutunggu namun Aisyah tak kunjung bangun.
Mataku sudah tidak bisa diajak kompromi, rasanya sudah tak kuat lagi Aku menunggu Aisyah bangun. Aku mec**um keningnya dan melanjutkan tidur disamping Aisyah.
Aku terbangun ketika alarmku berbunyi. Aku segera bangun dan memasak nasi goreng dan susu hangat. Aku menyiapkan semua sendiri. Setelah semua selesai Aku mandi dan sholat subuh.
Setelah sholat Aku kembali lagi kekamar dan tidur disamping Aisyah. Tak lama kulirik Dia terbangun dan berlari karena bangun kesiangan. Setelah beberapa saat Aisyah kembali dan membangunkanku.
"Mas.... Mas..... bangun. Dimeja makan itu siapa yang masak?", tanya Aisyah
"Pangeran ganteng milik Putri Aisyah", candaku.
"Enggak lucu tahu".
Aku menarik Aisyah yang masih kesal denganku dan memaksanya tidur disampingku. Aku memeluknya dari depan dan menatap matanya dengan penuh senyuman.
"Mas kamu ini kenapa sih, melihatku seperti ini?", kata Aisyah
"Terima kasih yah sayang, maafin Mas kemaren pulang terlambat. Mas bahagia sekali kamu akhirnya hamil lagi. Jaga anak kita, nanti malam kita periksa yah".
"Iyah Mas", jawab Aisyah sambil tersenyum.
Aku memeluknya lagi dari belakang dan mengelus-elus perutnya. Sepertinya Aisyah bahagia sekali diperhatikan meskipun dari hal-hal kecil.
"Nanti kita jalan-jalan yah sepulang kerja".
"Iyah Mas".
Dering handphoneku berbunyi sangat keras, membuatku berhenti merayu Aisyah.
"Siapa Mas?", tanya Aisyah
"Tidak tahu Syah, biarkan saja dari nomor tidak dikenal".
"Angkat saja Mas, siapa tahu penting".
Akhirnya kuangkat juga telepon itu.
"Assalamualaikum ini siapa yah",
"Waalaikumsalam. Mas Ji'un, Rud. ini ibumu ingin bicara", kata Mas Ji'un tetangga sebelah
Innalillahiwainailaihi rojiun. Setelah mengobrol lama, dan menjelaskan keadaannya Aku segera bersiap-siap untuk berangkat.
"Syah, kamu siap-siap yah, Ayo ikut Mas Sekarang".
__ADS_1
"Ada apa Mas?", tanya Aisyah
"Sudah nanti Aku jelaskan dimobil".