
Seperti biasa aku selalu berangkat sekolah pagi ini meskipun sedikit terlambat. Hari ini adalah hari pertama aku duduk dikelas tiga SMA, namun wali kelasku tetap Bu Hanny.
"Assalamualaikum, Maaf Bu saya terlambat", kataku kepada Bu Hanny.
"Ah .... itu mah cerita lama Syah", sahut Putra.
(aku berkata dalam hati) Awas kamu yah Putra, selalu bikin kesel.
"Iyah Syah, silahkan duduk. jangan lupa besok diulangi lagi yah", sindir Bu Hanny kepadaku.
salah Bu..... salah Bu. teriak teman- temanku
"Oh jika salah besok tolong dibetulkan yah Syah".
"Iyah Bu maaf", sambil tersenyum.
Hari ini Bu Hanny membentuk susunan pengurus kelas yang baru. Dan yang terpilih jadi ketua kelas adalah Putra dan wakilnya Dimas. Aku dipilih untuk jadi sekretaris, sebenarnya aku malas sekali harus jadi sekretaris. Aku mengajukan Novi agar jadi bendahara.
Setelah pemilihan selesai, Bu Hanny memulai pelajaran. waktu hanya tinggal tiga puluh menit saja. Belum juga selesai mengerjakan tugas namun bel istirahat sudah berbunyi.
Aku dan Novi segera menghampiri Putra yang masih duduk dibangkunya.
Tadi malam aku janji akan mentraktir dia dan Novi bakso. Aku memang kemaren ulang tahun. Kubelikan saja disekolah biar hemat.
"Putra..... Beli bakso yuk sama Novi juga, aku yang bayar".
"Beli diluar aja Syah sepulang sekolah, disini kan tidak enak".
__ADS_1
"Yaudah kalau tidak mau, penawaran tidak akan datang dua kali he..he... Aku beli sama Novi saja kalau gitu".
Ternyata Putra mengikutiku padahal tadi bilangnya tidak mau.
"Aku pesankan porsi jumbo yah Syah, sambil nyengir".
"Tadi bilangnya tidak mau, sekarang beli porsi jumbo".
Kita mengobrol panjang lebar sambil makan. Sambil merencanakan liburan ketika sudah lulus nanti. Kuambil
handphoneku yang bergetar dari saku bajuku. Kulihat sebuah pesan gambar dari Pak Rudi. Ternyata informasi pembuatan SIM. Aku membalas pesan itu.
"Nanti deh Pak, jika ada temannya saja aku urus. Males ke Polresnya jauh, tes nya juga ribet, ngantri pula".
Lama kutunggu namun tidak juga dibalas. Aku dan Novi masuk menuju kelas karena bel sudah berbunyi. Kulihat ada beberapa mahasiswi PPL (Praktek Pengalaman Lapangan) yang masuk kedalam kelas. Teman-teman bersorak-sorak karena memang Ada beberapa yang menurutku memang ganteng dan cantik. namun tak mengalahkan kegantengan Pak Rudi.
Setelah mereka memperkenalkan diri, sebagian keluar menuju kekelas lain dan yang dikelasku hanya tinggal tiga orang saja. Dua orang perempuan dan satu laki-laki. Mereka bernama Anggun, Betty dan Tito.
Sekarang giliran kak Tito yang menejelaskan materi. Ternyata lucu juga orangnya, aku semakin tertarik mendengarkan materinya. Sesekali mereka juga menceritakan pengalaman mereka saat kuliah di Universitas Merdeka. mungkin bisa jadi referensi juga.
Aku membayangkan jika aku yang jadi calon guru seperti mereka. Rasanya aku tertarik untuk menjadi guru, apalagi jika gurunya bisa dekat dengan muridnya jadi seperti teman curhat.
Ah.... sudahlah dipikir nanti saja, dijalani saja siapa tahu nanti aku bisa menemukan jurusan yang sesuai minatku.
Bel pulang sudah berbunyi, aku bergegas menuju parkiran untuk mengambil motor. Seperti biasa, Putra sering sekali memintaku mengantarkannya pulang, ibunya sampai hafal denganku. Rumah Putra sebenarnya tidak jauh dari sekolah, sehingga dia lebih sering jalan kaki jika kesekolah namun jika pulang dia selalu cari tumpangan. Emang dasar dia gendut, mangakannya malas jalan.
Sesampainya dirumah aku sholat dan menyempatkan untuk tidur siang. namun tiba-tiba aku teringat dengan pesan Pak Rudi yang tak juga dibalas padahal sudah dibaca.
__ADS_1
Aku semakin penasaran dengan Pak Rudi. Aku mencari media sosialnya namun hingga malam belum juga ketemu.
Aku mengerjakan tugas sekolah yang diberikan Bu Mut hingga pukul 21.00 Wib namun mataku rasanya tidak kuat lagi untuk terbuka, Aku tertidur dimeja belajar hingga larut malam.
Aku terbangun ketika mendengar suara kucing yang berantem diluar, suaranya begitu keras hingga mengagetkanku.
Aku berdiri dan pindah ketempat tidur. Tiba-tiba teringat jika Pak Rudi itu keponakannya Bu Hanny. Aku mencari pertemanan disosial media Bu Hanny dan akhirnya ketemu juga. Ternyata nama sosial medianya Arga Tama.
Aku mulai mencari tahu dan melihat lihat foto-fotonya yang disimpan disosial media. Ternyata fotonya keren-keren apalagi fotonya waktu liburan. Aku mencari tahu lagi ternyata ada fotonya bersama seorang perempuan dan banyak sekali fotonya dengan perempuan yang sama.
Sepertinya itu pacarnya. Kulihat status hubungannya juga in relationship. Sudahlah tak seharusnya aku berharap lebih.
Aku meyakinkan diriku, bahwa ini bukan cinta namun hanya rasa penasaran sesaat.
Aku segera menutup sosial medianya dan melanjutkan untuk tidur.
Tak lama handphoneku bergetar, kulihat ada pesan masuk. Ternyata Pak Rudi membalas pesan tadi siang.
"Nanti saya temani Syah, jika mau".
Aku bingung harus membalas apa. lama kupikirkan akhirnya kujawab juga.
"Nggak usah Pak nanti saya merepotkan".
"Lho belum tidur kamu?. Nggak apa-apa tapi nunggu waktu saya longgar yah karena saya tidak dinas dipolres".
"Nggak usah Pak Terimakasih takutnya nanti ada yang marah".
__ADS_1
Pak Rudi hanya membalas dengan emoticon senyum. Berarti dia memang sebenarnya sudah punya pacar.
Sudahlah umur kita memang berbeda enam tahun. lagian aku saja yang terlalu percaya diri menganggap Pak Rudi menyukaiku mendingan aku tidur saja.